Minyak Menjadi Incaran Utama dari Trump Lakukan Serangan ke Venezuela

Monumen di depan kantor pusat perusahaan minyak Venezuela. Foto: The New York Times

Minyak Menjadi Incaran Utama dari Trump Lakukan Serangan ke Venezuela

Fajar Nugraha • 4 January 2026 06:03

Florida: Amerika Serikat (AS) melakukan penyerangan ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta istri. Presiden Donald Trump mengaku serangan ini terkait pada peredaran narkoba yang mempengaruhi warga AS.

Trump pada konforensi pers nya justru menyebutkan ada faktor industri minyak di balik serangan itu. “Industri minyak Venezuela akan menghasilkan banyak uang dengan dukungan Amerika Serikat,” kata Presiden Trump pada Sabtu waktu AS, yang dikutip dari The New York Times, Minggu 4 Januari 2026.

Dalam konferensi pers itu Trump mengonfirmasi penangkapan Nicolás Maduro, yang menghadapi tuduhan federal terkait narkoba dan senjata.

“Kita akan meminta perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara ini,” kata Trump.

Ia mengatakan industri minyak negara itu telah "benar-benar gagal" untuk waktu yang lama, menambahkan, "Mereka hampir tidak memompa apa pun dibandingkan dengan apa yang seharusnya bisa mereka pompa."

Trump tampaknya sangat mengandalkan intervensi AS dalam industri minyak untuk membantu mentransformasi Venezuela, sebuah usulan yang bisa jadi rumit dan mahal.

Berapa banyak minyak yang diproduksi Venezuela?

Venezuela mengklaim memiliki lebih dari 300 miliar barel minyak di bawah tanah, cadangan minyak terbesar di antara negara mana pun. Namun, negara ini kesulitan memproduksi sekitar satu juta barel per hari, atau sekitar 1 persen dari produksi global.

Industri ini telah mengalami pemulihan dalam beberapa tahun terakhir, tetapi produksinya jauh di bawah lebih dari dua juta barel per hari yang diproduksi Venezuela pada awal tahun 2010-an.

Perusahaan minyak nasional, yang dikenal sebagai PDVSA, kekurangan modal dan keahlian untuk meningkatkan produksi. Ladang minyak negara itu sudah usang dan menderita akibat "bertahun-tahun pengeboran yang tidak memadai, infrastruktur yang rusak, seringnya pemadaman listrik, dan pencurian peralatan," menurut sebuah studi baru-baru ini oleh Energy Aspects, sebuah perusahaan riset.

Amerika Serikat telah memberlakukan sanksi terhadap minyak Venezuela, yang sekarang diekspor terutama ke Tiongkok.

Apa peran Chevron dalam produksi minyak negara itu?

Chevron adalah perusahaan Barat utama yang masih beroperasi di negara itu dan memproduksi sekitar seperempat minyak Venezuela. Pada awal abad ini, ketika perusahaan lain dipaksa keluar, Chevron tetap tinggal, dengan asumsi bahwa kondisi mungkin akan membaik pada akhirnya.

Sekitar setengah dari produksi Chevron diekspor ke Amerika Serikat.

Pada hari Sabtu, Chevron mengatakan pihaknya berupaya memastikan keselamatan karyawan dan operasinya di negara tersebut setelah Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap dan dibawa pergi dalam aksi militer AS.

Raksasa minyak yang berbasis di Houston ini telah melakukan operasi di Venezuela sejak tahun 1923 dan telah mempertahankan lima proyek produksi darat dan lepas pantai di sana.

“Dengan lebih dari satu abad di Venezuela, kami mendukung transisi damai dan sah yang mendorong stabilitas dan pemulihan ekonomi,” kata Kevin Slagle, juru bicara Chevron.

“Kami siap bekerja secara konstruktif dengan pemerintah AS selama periode ini, memanfaatkan pengalaman dan kehadiran kami untuk memperkuat keamanan energi AS,” tutur Slagle.


Apa artinya kendali AS atas produksi minyak negara tersebut?

Secara teori, jika perusahaan minyak AS diberi kebebasan penuh di Venezuela, mereka dapat membantu secara bertahap memulihkan industri tersebut. “Tetapi ini bukan hal yang mudah,” kata Richard Bronze, kepala geopolitik di Energy Aspects.

Para analis mengatakan peningkatan produksi Venezuela tidak akan murah. Energy Aspects memperkirakan bahwa penambahan setengah juta barel per hari produksi akan menelan biaya USD10 miliar dan memakan waktu sekitar dua tahun.

“Peningkatan besar mungkin membutuhkan puluhan miliar dolar selama beberapa tahun,” pungkas Energy Aspects.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)