Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Anadolu
Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Iran Terkait Serangan di Selat Hormuz
Fajar Nugraha • 23 July 2026 10:32
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan peringatan keras pada Rabu, 22 Juli, bahwa AS akan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik setiap kali pihak Iran menembaki kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Ancaman terbaru Trump yang membidik infrastruktur sipil ini muncul di tengah perang yang kian tidak populer dan terus membesar tanpa arah penyelesaian yang jelas, mengancam stabilitas ekonomi global serta memicu lonjakan harga bahan bakar menjelang pemilu sela AS musim gugur ini.
Kedua belah pihak memilih bertahan di Selat Hormuz, jalur perairan krusial bagi energi global yang kini sebagian besar ditutup akibat rentetan serangan Iran. Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menegaskan bahwa negaranya akan menerapkan doktrin pertahanan mata dibalas mata.
"Setiap agresi terhadap Iran, termasuk infrastruktur kami, akan memicu respons yang kuat dan tegas," tulis Araghchi melalui unggahannya di platform X pada Rabu, seperti dikutip france24, pada Kamis, 23 Juli 2026.
Pasukan AS melancarkan gelombang serangan udara lanjutan ke wilayah Iran pada Rabu dini hari, yang memicu tembakan sistem pertahanan udara di atas langit ibu kota Tehran. Di saat bersamaan, Iran meluncurkan serangan rudal ke sebuah kota di Yordania yang berdekatan dengan perbatasan Israel, sementara peringatan bahaya diaktifkan di Bahrain dan Arab Saudi.
Di tengah proses negosiasi yang sebagian besar jalan di tempat, kedua pihak saling mencari keunggulan dengan membidik infrastruktur sipil. Pihak Iran membalas serangan AS dengan menargetkan infrastruktur energi dan fasilitas desalinasi yang menyediakan air minum di negara-negara Teluk tetangga.
Hukum internasional pada umumnya melarang serangan semacam itu kecuali jika infrastruktur tersebut terbukti digunakan untuk kepentingan militer. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengecam aksi penyerangan tersebut dan mengategorikannya sebagai tindakan yang tidak dapat diterima.
Penutupan Selat Hormuz, yang dalam kondisi damai dilintasi seperlima komoditas minyak dan gas dunia, telah mengguncang perekonomian global hingga ke luar kawasan Timur Tengah. Ancaman baru dari kelompok Houthi yang didukung Iran untuk membidik pelayaran Arab Saudi di Laut Merah kini menempatkan jalur perdagangan internasional lainnya dalam risiko besar.
"Mulai saat ini, setiap kali Republik Islam Iran menembak kapal di Selat Hormuz, baik menggunakan rudal, roket, drone, atau perangkat maupun senjata lainnya, Amerika Serikat akan membom dan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik," tulis Trump pada media sosialnya.
Trump melakukan kunjungan ke Pangkalan Angkatan Udara Dover pada Rabu untuk menyambut kedatangan jenazah empat prajurit AS yang gugur. Sehari sebelumnya, Menteri Pertahanan Pete Hegseth memperkirakan dalam sidang Senat yang berlangsung memanas bahwa AS telah menghabiskan anggaran sebesar USD37,5 miliar untuk membiayai perang tersebut sejauh ini.
Harga minyak mentah acuan Brent melonjak hingga menembus angka lebih dari USD93 dolar per barel dalam perdagangan. Angka tersebut meningkat signifikan dari posisi awal bulan ini yang berada di bawah 72 dolar AS per barel, kondisi normal sebelum perang pecah. Harga bahan bakar minyak (BBM) juga dilaporkan terus merangkak naik.
Pihak Iran mengklaim memiliki hak untuk mengatur lalu lintas kapal dan berpotensi menarik biaya di Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya terbuka bebas untuk umum tanpa pungutan biaya. Iran menyerang kapal-kapal yang menggunakan jalur pelayaran Selat Hormuz yang diawasi oleh pasukan AS, yang dirancang berada di luar kendali pemerintah Tehran. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf, yang memimpin proses negosiasi dengan AS, tampak mengabaikan ancaman Trump.
"Jika keamanan kami tidak terjamin, tidak ada infrastruktur yang akan aman, dan keamanan selat hanya ada tanpa kehadiran pasukan Amerika. Kami telah berulang kali menyampaikan bahwa situasi di selat tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang," tulis Qalibaf di media sosial.
Militer Yordania mengonfirmasi telah mencegat empat rudal Iran di atas wilayah Aqaba, sementara dua rudal lainnya jatuh di area yang tidak berpenghuni. Kepulan asap tebal terlihat membumbung dalam rekaman video yang diunggah warga dari kota Eilat, Israel, yang berada di dekat lokasi. Pihak Yordania menambahkan bahwa mereka juga berhasil mencegat empat unit drone milik Iran.
Iran menahan diri untuk tidak menyerang Israel secara langsung sejak konflik kembali pecah bulan lalu, demi mencegah negara tersebut terlibat kembali dalam peperangan. Namun, serangan ke Aqaba yang berdekatan dengan wilayah Eilat meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik setelah kesepakatan penghentian permusuhan gagal dipertahankan.
Peringatan bahaya rudal kembali berbunyi di Bahrain, sementara otoritas Arab Saudi mengimbau warga di kota Dammam untuk segera mencari tempat perlindungan. Pihak berwenang Arab Saudi kemudian menyatakan situasi telah aman tanpa memberikan penjelasan lebih mendalam.
Militer AS mengumumkan pada Rabu pagi bahwa mereka telah menyelesaikan malam ke-11 serangan udara ke Iran, dengan target mencakup hanggar pesawat serta lokasi penyimpanan drone. Kantor berita resmi Iran, IRNA, melaporkan terjadinya rentetan ledakan di beberapa provinsi.
Kementerian Kesehatan Iran mengatakan serangan AS selama 11 hari terakhir telah menewaskan 53 orang, termasuk enam wanita dan tiga anak-anak, serta melukai hampir 600 orang lainnya. Pasukan Garda Revolusi Iran menegaskan bahwa serangan balasan dari pihak mereka akan terus berlanjut.
Sebelum gelombang serangan terbaru terjadi, Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni berkunjung ke Pakistan, mediator kunci dalam konflik ini, untuk menghidupkan kembali upaya diplomasi. Namun, belum ada kepastian mengenai formula baru yang dapat menghentikan perang yang kini kian bergeser menjadi perebutan kendali atas Selat Hormuz.
Juru Bicaranya, Ali Zeinivand, menyatakan bahwa saluran diplomasi belum ditutup dan pertukaran pesan antarpihak masih terus berlangsung. Seorang diplomat Arab mengungkapkan bahwa negara-negara Teluk kian pesimistis menemukan jalan keluar dari eskalasi militer ini, terutama dipicu oleh ancaman terbaru kedua belah pihak yang bersiap menyerang infrastruktur sipil.
Diplomat tersebut mengatakan bahwa negara-negara di kawasan, ditambah Pakistan dan Turki, terus mendorong terciptanya de-eskalasi. Namun, peluang perbaikan situasi saat ini dinilai sangat tipis. Diplomat tersebut menyampaikan keterangannya dengan syarat anonim karena sensitivitas isu yang dibahas.
Rubio kecam Iran
Dalam forum KTT regional di Filipina, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengecam keras tindakan Iran di Selat Hormuz. "Jika kita membiarkan preseden di Timur Tengah di mana sebuah negara dapat memutuskan untuk mengendalikan jalur perairan internasional, menarik tarif, dan jika tidak dibayar maka akan meledakkan kapal Anda, kita telah menciptakan preseden yang sangat berbahaya yang akan terulang di belahan dunia lain, termasuk di kawasan ini," tegas Rubio.Rubio menambahkan bahwa AS tetap membuka pintu negosiasi dengan Iran, tetapi saat ini pihak Iran dinilai tidak menunjukkan keseriusan, sehingga fokus AS beralih pada perlindungan jalur pelayaran. Sebagai respons atas serangan Iran, pihak AS kembali menerapkan blokade penuh terhadap pelabuhan-pelabuhan utama milik Iran.
Dalam keterangannya dari Oval Office pada Selasa, Trump memberikan pandangan suram terkait peluang negosiasi dan menyatakan bahwa pihak AS tidak memiliki ketertarikan untuk mengadakan pertemuan. Trump memberi sinyal bahwa pasukan AS dalam waktu dekat dapat membidik fasilitas nuklir Iran yang tengah dibangun jauh di dalam perut gunung.
Lokasi tersebut, yang dikenal sebagai Gunung Pickaxe, terletak di sisi selatan fasilitas pengayaan nuklir Natanz milik Iran, yang sempat dibom oleh AS dalam perang 12 hari antara Iran dan Israel pada tahun 2025. Namun, area Gunung Pickaxe hingga kini belum tersentuh seiring aktivitas penggalian yang terus dilakukan pihak Iran.
Pihak Iran menegaskan bahwa program nuklirnya murni untuk tujuan damai, meski kembali melanjutkan pengayaan uranium hingga mendekati tingkat persenjataan sejak Trump membatalkan perjanjian nuklir 2015 pada periode pertama jabatannya. Pihak AS dan sekutunya meyakini Iran memiliki program senjata nuklir hingga tahun 2003 dan berpotensi memulihkannya kembali di masa depan.
(Kelvin Yurcel)