Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden FIFA Giovanni Infantino. (EFE/EPA/WILL OLIVER)
Trump Dilaporkan Ingin Calonkan Presiden FIFA jadi Sekjen PBB
Riza Aslam Khaeron • 22 July 2026 11:10
Washington DC: Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan berencana mencalonkan Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk menjadi Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berikutnya, berdasarkan laporan yang dirilis oleh New York Post pada Selasa, 21 Juli 2026.
Infantino, yang berusia 56 tahun, menjalin hubungan dekat dengan Trump melalui penyelenggaraan Piala Dunia tahun ini. Administrator sepak bola kelahiran Swiss tersebut berupaya aktif memikat Trump, termasuk memberikannya Penghargaan Perdana FIFA pada Desember lalu.Menurut sumber yang dekat dengan Presiden kepada New York Post, Trump meyakini bahwa Infantino "dihormati oleh semua orang di seluruh dunia, dan mengakui bahwa ia memiliki kemampuan khusus untuk mempersatukan orang-orang,". Sekretaris Jenderal PBB berikutnya akan dipilih tahun ini untuk menggantikan António Guterres dari Portugal yang purnatugas pada akhir Desember.
Syarat Infantino Jadi Sekjen PBB

Presiden FIFA Gianni Infantino tiba di acara penghargaan The Best FIFA Football Awards 2022 di Paris, Prancis, 27 Februari 2023. (EFE/EPA/YOAN VALAT)
Untuk mendapatkan posisi tersebut, Infantino harus mengantongi dukungan dari Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara, termasuk lima anggota tetap pemilik hak veto, sebelum kemudian dikonfirmasi oleh Majelis Umum PBB.
Sejauh ini, belum jelas apakah Infantino berminat pada posisi tersebut atau seberapa jauh pembahasan yang telah dilakukan Trump dengannya. Namun, Trump menilai ada peluang terbuka di antara kandidat lain yang digambarkan oleh orang dalam sebagai tujuh "kandidat lemah."
Kandidat yang paling dikenal saat iniantara lain mantan presiden sosialis Chili, Michelle Bachelet, yang berpotensi menghadapi penolakan dari AS. Selain itu, terdapat Rafael Grossi dari Argentina yang saat ini menjabat sebagai Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), yang kemungkinan menghadapi keberatan dari Inggris terkait sengketa Kepulauan Falkland.
Gagasan Trump ini berpotensi mengabaikan tradisi rotasi geografis yang memperkirakan terpilihnya kandidat dari Amerika Latin atau Karibia. Wilayah tersebut terakhir kali diwakili oleh Javier Pérez de Cuéllar dari Peru pada kurun 1982–1991.
Meski demikian, sejumlah sumber menilai aturan rotasi tidak tertulis itu tidak serta-merta menghalangi Infantino, dan terdapat kemungkinan ia memperoleh pencalonan dari negara lain selain AS.
| Baca Juga: Pemenang Piala Dunia Otomatis Dapat Ballon d'Or? Simak Faktanya |
Kritik Trump terhadap PBB
Sebelumnya, Trump berulang kali mengkritik PBB yang dinilainya lambat dalam menengahi konflik global. Tahun lalu, ia membentuk Dewan Perdamaian baru yang dipimpin AS, hingga memicu spekulasi bahwa ia sedang menyiapkan organisasi tandingan.Hal itu mengemuka seiring perannya sebagai perantara kesepakatan damai antara Israel dan Hamas. Namun, Trump membantah spekulasi tersebut dan menyatakan tetap berharap PBB mengambil peran yang lebih aktif.
Sejak kembali ke Gedung Putih tahun lalu, Trump telah memangkas kontribusi keuangan AS untuk PBB serta menarik diri dari berbagai badan di bawahnya, seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), UNESCO, dan Dewan Hak Asasi Manusia PBB. Penunjukan Infantino dinilai dapat menjadi langkah untuk memperbaiki hubungan Trump dengan PBB.
Kendati demikian, jika rencana ini terwujud, Infantino harus bersiap menghadapi pemotongan pendapatan yang signifikan. Di FIFA, ia mengantongi gaji sekitar 6 juta dolar AS (sekitar Rp107 miliar) per tahun, sementara gaji Sekretaris Jenderal PBB tercatat sekitar 418.000 dolar AS (sekitar 7,4 miliar).
Saat ini, Infantino telah menyatakan kesiapannya untuk maju kembali dalam pemilihan Presiden FIFA pada Maret mendatang.
Meski telah mengamankan dukungan dari mayoritas 211 asosiasi anggota FIFA, Infantino sempat mendapat kritik akibat intervensi Trump yang meminta pembatalan sanksi skorsing satu pertandingan bagi pemain timnas AS, Folarin Balogun, menjelang laga melawan Belgia.
Keputusan penganuliran sanksi tersebut sempat memicu keprihatinan dari sejumlah negara Eropa. Selain itu, mantan Presiden FIFA Sepp Blatter turut menyuarakan kritik dan mendesak pemberhentian Infantino dari jabatannya.