Hamas Tawarkan Mediasi Konflik Yaman, Berharap Diterima Pihak Bertikai

Kepala biro politik Hamas Khalil al-Hayya. (Anadolu Agency)

Hamas Tawarkan Mediasi Konflik Yaman, Berharap Diterima Pihak Bertikai

Willy Haryono • 27 September 2026 14:44

Doha: Kepala biro politik Hamas Khalil al-Hayya mengatakan bahwa kelompoknya telah menawarkan diri untuk memediasi konflik Yaman, dan berharap tawaran tersebut dapat diterima pihak-pihak bertikai.

Dalam wawancara televisi pertamanya sejak menjabat pada Juli, al-Hayya mengatakan kepada Al Araby TV yang berbasis di Qatar bahwa Hamas telah menyampaikan proposal tersebut.

“Kami telah menawarkan mediasi antara pihak-pihak yang berselisih dan berperang di Yaman, dan saya berharap tawaran ini akan diterima,” kata al-Hayya, seperti dikutip dari Anadolu Agency, Minggu, 27 September 2026.

Houthi, yang menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, pada 2014, telah berperang melawan koalisi yang dipimpin Arab Saudi selama lebih dari satu dekade. Perang tersebut sebagian besar berhenti sejak gencatan senjata 2022, sebelum kembali berkobar pada Juli ketika Houthi menyatakan blokade terhadap pelayaran Saudi di Laut Merah.

Sejak itu, Houthi juga mengklaim memperoleh kemajuan di sepanjang wilayah pesisir.

Hamas dan AS Bahas Palestina

Al-Hayya mengungkapkan para pemimpin Hamas telah bertemu dengan pejabat AS lebih dari empat kali sejak tahun lalu. Pembicaraan tersebut berfokus pada isu Palestina, Jalur Gaza, dan tuntutan Palestina.

“Kami merasakan adanya pemahaman dari pihak Amerika. Kami mendengar pemahaman dan pujian, baik secara pribadi maupun di depan publik, tetapi kami menginginkan tindakan nyata dan praktis,” ujarnya.

Ia juga mendesak implementasi peta jalan Gaza dan menuduh Israel menghambat upaya negara-negara Arab dan Muslim untuk memberikan bantuan kepada Gaza.

Hamas Siap Bertemu Mahmoud Abbas

Terkait rekonsiliasi Palestina, al-Hayya mengatakan Hamas siap bertemu dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk meletakkan dasar bagi program nasional dan persatuan politik.

Ia mengatakan pemilu yang akan datang pada November seharusnya membantu memulihkan persatuan geografis dan politik antara Gaza, Tepi Barat yang diduduki, dan Yerusalem Timur.

Jika pemilu ditunda, al-Hayya mengatakan aliansi politik yang ada akan tetap terbuka bagi faksi-faksi lain sebagai bagian dari upaya membangun kerangka nasional yang lebih luas.

Namun, al-Hayya memperingatkan bahwa isu Palestina semakin tersisihkan di tengah berbagai perang dan krisis di kawasan. Ia juga menuduh Israel menyia-nyiakan peluang untuk mencapai penyelesaian.

Menurut al-Hayya, stabilitas kawasan akan tetap sulit tercapai tanpa rakyat Palestina memperoleh hak-hak mereka dan mendirikan negara. Ia juga menegaskan Hamas akan menentang setiap upaya untuk memindahkan warga Palestina secara paksa dari tanah mereka.

Baca juga: GCC Kecam Serangan Rudal dan Drone Houthi yang Mengarah ke Ibu Kota Arab Saudi

(Willy Haryono)