Petugas berupaya melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kab. Ketapang, Kalimantan Barat, Senin, 28 September 2026. Foto: Kemenhut RI.
Kabut Asap dan Jarak Pandang Hambat Water Bombing di Kalimantan
Silvana Febiari • 29 September 2026 22:53
Jakarta: Pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan menghadapi kendala kabut asap yang menurunkan jarak pandang. Kondisi tersebut membatasi pelaksanaan patroli udara maupun water bombing.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton Panjaitan, mengatakan operasi udara untuk penanganan karhutla terus dioptimalkan melalui patroli, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), dan water bombing.
"Dalam pelaksanaannya, penanganan karhutla di Kalimantan menghadapi sejumlah kendala, antara lain kebakaran pada lahan gambut, keterbatasan akses dan sumber air, angin kencang, serta kabut asap yang menurunkan jarak pandang dan membatasi patroli udara maupun pelaksanaan water bombing," kata Berton dalam Konferensi Pers Perkembangan Penanganan Karhutla di Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Selasa, 29 September 2026.
Menurut Berton, pelaksanaan water bombing diprioritaskan setelah kondisi jarak pandang memenuhi batas aman penerbangan. Sementara menunggu kondisi memungkinkan, penanganan tetap dilakukan melalui operasi darat berupa pemadaman, penyekatan titik api, pembasahan, dan pendinginan lahan.
"Tim melanjutkan pemadaman, penyekatan, pembasahan dan pendinginan gambut, menempatkan tangki air portabel, mengoptimalkan pompa dan sumber air alternatif, serta memanfaatkan drone termal dan injeksi air atau surfaktan untuk mendeteksi dan memadamkan api bawah permukaan," ungkap Berton.
Selain Kalimantan, operasi pemadaman di wilayah Sumatra menghadapi tantangan berupa kondisi lahan kering dan gambut, keterbatasan sumber air, sulitnya menjangkau kepala api, perubahan arah angin, serta kesiapan sebagian armada water bombing.
"Upaya yang dilakukan mencakup pembangunan embung dan kanal penampungan air, pembuatan sekat bakar, pembukaan akses menuju titik api, serta pemadaman dan pendinginan lanjutan," ujar Berton.

Petugas berupaya melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kab. Ketapang, Kalimantan Barat, Senin, 28 September 2026. Foto: Kemenhut RI.
Sementara itu, pelaksanaan OMC turut menghadapi kendala karena pertumbuhan dan sebaran awan potensial belum merata. Kandungan uap air yang rendah di sebagian wilayah juga menjadi tantangan dalam pelaksanaan penyemaian.
Pemantauan pertumbuhan awan dilakukan secara berkelanjutan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pesawat dan bahan semai disiagakan, sementara sasaran serta waktu penerbangan disesuaikan dengan kondisi atmosfer dan keselamatan penerbangan.
"Penyemaian dilakukan ketika kondisi awan memungkinkan," ucap Berton.
Berdasarkan perkembangan situasi hingga 28 September 2026, total luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas tercatat mencapai 527,6 hektare. Dari jumlah tersebut, 431,53 hektare telah berhasil dipadamkan melalui operasi darat seluas 369,03 hektare dan operasi udara 62,5 hektare.
Sementara itu, masih terdapat 96,07 hektare lahan yang belum padam. Penanganan karhutla terus dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas dan mengurangi dampak kabut asap terhadap masyarakat.
BNPB bersama kementerian/lembaga, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan unsur terkait terus memperkuat koordinasi dalam penanganan karhutla melalui optimalisasi sumber daya darat dan udara. Sinergi tersebut diarahkan untuk mempercepat pemadaman, mencegah meluasnya kebakaran, serta meminimalkan dampak asap terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat.