Jenama Lokal Perkuat Eksistensi Batik Indonesia ke Pasar Global

Ilustrasi, perajin batik lokal. Foto: dok Shopee.

Jenama Lokal Perkuat Eksistensi Batik Indonesia ke Pasar Global

Husen Miftahudin • 3 October 2026 10:05

Jakarta: Batik Indonesia terus berkembang menjadi bagian dari fesyen sehari-hari sekaligus menjangkau pasar internasional. Sejumlah jenama lokal memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pemasaran produk batik, termasuk ke konsumen di luar negeri.

Salah satu jenama lokal yang melakukan ekspansi tersebut adalah Nona Rara. Berdiri sejak 2011, Nona Rara mengusung konsep batik dengan sentuhan modern melalui potongan dan desain yang lebih kekinian. 

Jenama tersebut membawa misi untuk mengubah persepsi masyarakat terhadap batik agar tidak hanya digunakan sebagai busana formal, tetapi juga dapat dikenakan dalam aktivitas sehari-hari.

Dalam mengembangkan bisnisnya, Nona Rara memanfaatkan ekosistem Shopee untuk memasarkan produk kepada konsumen di berbagai daerah. Ekspansi ke pasar internasional semakin diperkuat setelah Nona Rara mengikuti Program Ekspor Shopee dan Shopee FLEXI. Melalui program tersebut, produk Nona Rara dipasarkan ke sejumlah negara, termasuk Malaysia dan Filipina.

"Melalui Shopee, Nona Rara lebih mudah mempromosikan batik Indonesia dan terhubung dengan konsumen dari berbagai daerah. Tak hanya itu, dengan mengikuti Program Ekspor Shopee dan Program Ekspor Shopee FLEXI, batik karya Nona Rara lebih mudah dipromosikan ke pasar global," ungkap Brand Manager Nona Rara Adisfia Nur Henrista, dikutip dari rilis resmi Shopee, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Kisah Nona Rara menjadi salah satu gambaran pemanfaatan teknologi digital oleh pelaku usaha lokal untuk memperluas jangkauan produk batik Indonesia.
 



(Ragam desain batik yang dibuat jenama lokal. Foto: dok Shopee)
 

Batik Parang dan Kawung jadi motif paling dicari


Batik kini tidak lagi hanya identik dengan busana formal. Eksplorasi warna, potongan, dan desain oleh berbagai jenama lokal membuat batik dapat dipadukan dengan beragam gaya fesyen untuk digunakan sehari-hari.

Perkembangan tersebut turut mendorong batik Indonesia menjangkau konsumen di luar negeri. Dalam rangka Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober, Shopee membagikan sejumlah data mengenai tren batik lokal di platformnya.

Berdasarkan data yang dibagikan Shopee, Batik Parang dan Batik Kawung menjadi motif batik yang paling banyak dicari pengguna Shopee. Batik Parang memiliki pola garis diagonal yang menyerupai gelombang. Motif tersebut merupakan salah satu motif batik yang telah lama berkembang dan secara historis dikaitkan dengan lingkungan keraton.

Sementara Batik Kawung memiliki pola geometris berupa empat lingkaran yang mengelilingi satu titik pusat. Pola tersebut menyerupai bentuk buah kawung atau buah aren yang tersusun secara simetris. Motif Kawung dikenal memiliki tampilan yang teratur dan sederhana. Secara filosofis, motif tersebut dikaitkan dengan kesucian dan ketulusan hati.

Keberagaman batik di Shopee juga terlihat dari daerah asal para penjual. Berdasarkan data internal Shopee, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur menjadi tiga provinsi dengan jumlah penjual batik terbanyak yang menyuplai dan mendistribusikan produk melalui platform tersebut.

Sementara itu, Malaysia dan Thailand tercatat sebagai dua destinasi ekspor teratas berdasarkan jumlah ekspor batik dalam Program Ekspor Shopee.

Sejalan dengan peringatan Hari Batik Nasional, Shopee juga menghadirkan Shopee Festival Batik Nusantara yang berlangsung pada 25 September hingga 2 Oktober 2026. Program tersebut menghadirkan lebih dari 100 pilihan produk batik lokal dengan harga mulai dari Rp50 ribu serta penawaran diskon hingga 50 persen.

(Husen Miftahudin)