Lokomotif "Si Bon-Bon". Foto: KAI
Mengenal "Si Bon-Bon", Lokomotif KRL pertama di Indonesia
Muhamad Marup • 19 September 2026 20:06
Jakarta: Bagi banyak warga Jabodetabek dan beberapa wilayah lain, Kereta Rel Listrik (KRL) merupakan pilihan utama transportasi. Selain murah, KRL juga relatif tanpa masalah.
Sejarah KRL sendiri sudah dimulai sebelum Indonesia merdeka. KRL pertama melintas di Indonesia kala itu adalah "Si Bon-Bon" atau lokomotif KRL seri ES 3200.
Lokomotif KRL ini digunakan sebagai transportasi masyarakat pada masa pemerintahan Hindia Belanda mulai 6 April 1925. Perusahaan Staatsspoorwegen (SS) merupakan pemilik saat itu sekaligus operator kereta listrik di Batavia.
Sejarah Si Bon-Bon dan Elektrifikasi Rel
Melansir railfansid.fandom.com, elektrifikasi jaringan rel di Indonesia telah dibangun sejak tahun 1923 dan pertama kali dioperasikan pada 1925 di jalur Tandjong Priok–Meester Cornelis dengan listrik aliran atas (LAA) bertegangan 1500 V DC.Sarana, prasarana, maupun operasional kereta-kereta listrik di Batavia pada saat itu ditangani oleh perusahaan Elektrische Staatsspoorwegen (ESS), yang merupakan bagian dari perusahaan Staatsspoorwegen (SS).
Selain lokomotif listrik seri 3200, ESS juga memesan beberapa jenis lokomotif listrik lain, seperti seri 3000 buatan Swiss Locomotive and Machine Works (SLM), seri 3100 buatan Allgemeine Elektricitäts-Gesellschaft (AEG), seri 3300 buatan Borsig, bahkan seri 4000 yang merupakan sebuah lokomotif bertenaga baterai 360 V DC buatan Werkspoor.
Pada awalnya, Si Bon-Bon hanya melayani dinasan kereta dengan rute Tandjong Priok–Meester Cornelis saja. Namun saat elektrifikasi dilanjutkan hingga ke daerah Depok dan Buitenzorg pada tahun 1930, lokomotif ini pun akhirnya juga didinaskan di rute ini.
Saat masa Pendudukan Jepang atas Hindia Belanda, semua seri dari lokomotif listrik yang ada mengalami perubahan sistem penomoran. Perubahan sistem penomoran ini adalah dengan menghapus angka pertama dari nomor semua seri lokomotif, dan hanya menyisakan 3 angka terakhir saja. Seperti contohnya seri '3202' yang berubah menjadi seri '202'.
Lokomotif seri ini masih terus beroperasi menarik rangkaian KA penumpang lokal hingga pertengahan 1970-an. Dengan usianya yang telah mencapai setengah abad, lokomotif-lokomotif ini dipandang tidak lagi memadai dan digantikan dengan rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) Rheostatik baru buatan Jepang pada tahun 1976. Sebagai akibatnya, lokomotif-lokomotif ini tidak dioperasionalkan lagi dan akhirnya dirucat.
Tersisa Satu Unit

Lokomotif "Si Bon-Bon". Foto: KAI
Dari keenam unit seri 3200, hanya tersisa satu unit yang selamat dari perucatan, yaitu ESS 3202 yang ditemukan teronggok di dalam kebun Balai Yasa Manggarai. Atas inisiatif dari organisasi pecinta kereta api Indonesian Railway Preservation Society (IRPS), lokomotif listrik ESS 3202 ini pun kemudian direstorasi dan dipreservasi oleh PT Kereta Api (Persero).
Lokomotif ini menjalani 2 kali tahap restorasi. Proses restorasi pertama dapat diselesaikan pada 29 Juli 2007 dengan hanya memperbaiki kondisi tampilan body tanpa memperbaiki mesin maupun sistem kelistrikannya.
Unit restorasi lokomotif ini diberi warna abu-abu, sesuai dengan warnanya saat pertama kali ditemukan di kebun Balai Yasa Manggarai dan diberi nomor unit 3201.
Pada 14 April 2009, ESS 3202 dipindahkan dari Balai Yasa Manggarai ke Stasiun Tanjung Priok. Pemindahan lokomotif ini ditujukan untuk dipajang sebagai tampilan aset bersejarah saat peresmian Stasiun Tanjung Priok oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada 28 April 2009.
Pada 2 September 2009, ESS 3202 dibawa kembali ke Balai Yasa Manggarai dari Stasiun Tanjung Priuk untuk menjalani tahap restorasi kedua. Tahap restorasi ini berencana untuk menghidupkan kembali mesin dan sistem kelistrikannya sehingga lokomotif ini dapat kembali hidup.
ESS 3202 akhirnya diujicobakan pada 18 Juli 2013 ke Stasiun Depok dengan mesin dan pantograf diambil dari unit KRL Rheostatik yang ada di dalam Balai Yasa Manggarai. Tidak lama kemudian, warna lokomotif ini diganti lagi menjadi warna biru, dengan alasan mengacu kepada warna sebuah brosur dari pabrik Heemaf Hengelo yang mempromosikan lokomotif ini. Saat ini, lokomotif listrik ESS 3202 disimpan di dalam Balai Yasa Manggarai. Namun, lokomotif ini sangat jarang dikeluarkan dari Balai Yasa Manggarai karena memiliki masalah pada girboks yang sudah tua dan tidak bisa diganti dengan yang baru akibat regulasi Barang Cagar Budaya.
Pada tanggal 17 Agustus 2022, lokomotif ini dijalankan kembali menuju Stasiun Tanjung Priuk untuk memperingati HUT Republik Indonesia yang ke-77. Lokomotif ini sempat dijadikan pameran di Open House Balai Yasa Yogyakarta pada tanggal 26 - 28 September 2022.
Pada tanggal 16-17 April 2025, lokomotif listrik ini sedang menjalani perawatan dan pergantian warna (repainting) untuk parade memperingati 100 tahun Elektrifikasi di Indonesia pada tanggal 22 April. Dan di tanggal tersebut lokomotif ini menghiasi jalur kereta api Tanjung Priok-Jakarta Kota dengan warna biru yang lebih gelap.