29 Januari 1950: Saat Indonesia Kehilangan Jenderal Soedirman

Jenderal Soedirman. (prabowosubianto.com)

29 Januari 1950: Saat Indonesia Kehilangan Jenderal Soedirman

Silvana Febiari • 29 January 2026 14:46

Jakarta: Pada 29 Januari 1950, Indonesia kehilangan salah satu pahlawan besar, Jenderal Soedirman, yang wafat dalam usia 34 tahun akibat komplikasi penyakit tuberkulosis yang sudah dideritanya sejak lama. Sebagai Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang pertama, Soedirman memimpin perjuangan melawan Belanda dengan semangat juang yang tak kenal lelah, meski dalam kondisi tubuh yang semakin menurun.

Awal Kehidupan dan Perjuangan di Masa Muda

Mengutip dari Wikipedia, Jenderal Soedirman, yang lahir pada 24 Januari 1916 di Purbalingga, Jawa Tengah, dikenal sebagai salah satu tokoh terpenting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Terlahir dari keluarga biasa, Soedirman diadopsi oleh pamannya yang seorang priyayi dan tumbuh menjadi sosok yang sangat dihormati di kalangan masyarakat. 

Sejak muda, ia menunjukkan kepemimpinan yang kuat dan semangat juang yang tinggi. Soedirman aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler di Muhammadiyah, termasuk menjadi pemimpin Kelompok Pemuda Muhammadiyah pada 1937. Sebelum bergabung dengan tentara, ia bekerja sebagai guru dan kepala sekolah Muhammadiyah, sembari terus memperkuat keimanan dan kepeduliannya terhadap masyarakat sekitar.
   

Dari PETA hingga Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, Soedirman bergabung dengan Tentara Pembela Tanah Air (PETA), yang disponsori oleh Jepang. Ia mengawali karier militer sebagai komandan batalion dan kemudian terlibat dalam pemberontakan terhadap Jepang yang menyebabkan dirinya diasingkan ke Bogor. 

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Soedirman kembali ke Jakarta dan bertemu dengan Presiden Soekarno. Ia diangkat sebagai Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 1945, dan memimpin pasukan Indonesia dalam perlawanan melawan Belanda yang berusaha menguasai kembali Indonesia.

Perjuangan Gerilya dan Kepemimpinan Soedirman

Selama tiga tahun pertama setelah kemerdekaan, Soedirman memimpin perjuangan gerilya melawan Belanda. Meskipun menghadapi kondisi yang sangat sulit, termasuk penyakit tuberkulosis yang dideritanya, ia tetap memimpin perlawanan. Salah satu momen penting dalam karier Soedirman adalah Perang Gerilya yang dipimpinnya, termasuk pertempuran di Ambarawa dan Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto.

Pada Desember 1948, Soedirman memimpin pasukan gerilya setelah Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta. Meski dalam kondisi sakit parah, Soedirman bersama sejumlah kecil pasukan dan dokter pribadinya melanjutkan perlawanan selama tujuh bulan di daerah pegunungan sekitar Gunung Lawu. Perjuangan tanpa kenal lelah ini membuatnya dihormati oleh rakyat Indonesia.

Wafatnya Soedirman dan Penghargaan yang Diterima

Setelah kemerdekaan Indonesia diakui oleh Belanda pada Juli 1949, kondisi kesehatan Soedirman semakin memburuk. Ia akhirnya pensiun dan pindah ke Magelang untuk menjalani sisa hidupnya. 

Tak lama setelah itu, tepatnya pada 29 Januari 1950, Jenderal Soedirman wafat akibat penyakit tuberkulosis yang dideritanya. Kematian Soedirman meninggalkan duka yang mendalam bagi bangsa Indonesia. Rakyat dari seluruh penjuru tanah air berkumpul untuk mengikuti prosesi pemakamannya di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.


Makam Soedirman di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta. Dokumentasi/Wikipedia

Legasi dan Penghormatan

Jenderal Soedirman dikenang sebagai pahlawan nasional yang tidak hanya berjuang di medan perang, tetapi juga menginspirasi semangat perjuangan generasi berikutnya. Warisan perjuangannya tetap hidup, baik melalui perlawanan gerilya yang menjadi materi pendidikan militer, hingga berbagai monumen, jalan, dan institusi yang memakai namanya. 

Pada 10 Desember 1964, Soedirman secara resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 314 tahun 1964, sebagai pengakuan atas jasa-jasanya dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Soedirman akan selalu dikenang sebagai simbol keteguhan hati dan perjuangan tanpa henti bagi bangsa Indonesia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febiari)