UMKM dalam Pertumbuhan Ekonomi: Tantangan dan Solusi

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani dan Senior Partner and Managing Partner McKinsey & Company Indonesia, Khoon Tee Tan, dalam program Top Economy Metro TV yang tayang Selasa, 22 September 2026, pukul 21.05 WIB. Foto:

UMKM dalam Pertumbuhan Ekonomi: Tantangan dan Solusi

Muhamad Marup • 22 September 2026 23:55

Jakarta: Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi penyumbang terbesar PDB Indonesia. Meski begitu, kondisi tersebut menjadi isu tersendiri karena yang paling kecil justru menjadi penyumbang paling besar.

"Jadi kalau dilihat dari segi kondisi yang ada, bagaimana caranya kalau (UMKM) kita naik kelas," tutur Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani, dalam program Top Economy Metro TV yang tayang Selasa, 22 September 2026, pukul 21.05 WIB.

Ia mengungkap tantangan-tantangan yang dihadapi UMKM untuk bisa naik kelas. Ada tiga tantangan yaitu sektor informal, daya saing internasional, dan investasi teknologi.

Shinta menjelaskan, banyak pelaku usaha UMKM merupakan pekerja informal. Selain tenaga kerja informal bertambah, kondisi ini juga menjadi tantangan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Jadi kebanyakan UMKM, apalagi yang mikro, itu dia tidak ada formalisasi. Dia di informal," jelasnya.

Shinta menuturkan, tantangan kedua adalah faktor dari segi daya saing internasional. Menurutnya, dengan mendorong UMKM ke skala internasional bisa mengungkit produktivitas.

Selain itu, kata dia, investasi terhadap UMKM juga penting terlebih untuk adaptasi teknologi. Menurutnya, hal ini juga bisa meningkatkan produktivitas.

"Jadi ini kunci utama kenapa kita butuh UMKM ini bisa untuk naik kelas," katanya.

Sementara itu, Senior Partner and Managing Partner McKinsey & Company Indonesia, Khoon Tee Tan, usaha menengah dan besar menjadi kunci agar Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi. Sebagai contoh, Portugal memiliki 50 persen pekerja di usaha skala menengah dan besar.

"Jadi kalau untuk menjadi sebuah negara berpendapatan tinggi, berarti perusahaan-perusahaan di Indonesia juga harus naik kelas dan lebih banyak di skala menengah dan besar," ujarnya.

Ia menjelaskan, untuk mewujudkan tersebut Indonesia harus bisa mendorong usaha mikro dan kecil untuk bertumbuh menjadi skala menengah dan besar. Pihaknya menemukan hampir 80 persen dari total tenaga kerja di Indonesia bekerja di sektor tersebut.

"Di situ produktivitasnya juga cenderung lebih rendah berbanding dengan skala menengah dan besar," ucapnya.

Lima Modal


5 modal dalam ekosistem yang mendukung UMKM naik kelas. Foto: Tangkapan layar Youtube Metro TV


Khoon menyebut, ada lima jenis modal untuk menciptakan ekosistem yang mendukung sektor UMKM naik kelas. Pertama adalah keuangan atau modal.

"Hampir 3 kali lipat penanaman modal keuangan dibutuhkan di seluruh segmen dari mikro, kecil, menengah, maupun besar," tuturnya.

Kedua, lanjutnya, adalah modal SDM yaitu tenaga kerja yang berketerampilan untuk mengisi lapangan kerja. Ketiga adalah modal kelembagaan atau institutional capital untuk meringankan beban formalisasi perusahaan-perusahaan yang sekarang ini informal.

Keempat adalah modal infrastruktur mencakup infrastruktur logistik dan digital. Kelima modal entrepreneurial atau modal kewirausahaan untuk mengembangkan bisnis dan berinovasi mencapai produktivitas yang lebih tinggi.

"Jadi kelima-lima modal ini saling melengkapi untuk menciptakan ekosistem yang mendukung perusahaan-perusahaan naik kelas," terangnya.

(Muhamad Marup)