Wisatawan memandangi kawah Gunung Kelimutu di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo
Kawah Gunung Kelimutu Retak 100 Meter Pascagempa NTT
Whisnu Mardiansyah • 24 August 2026 15:22
Flores: Tim survei Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menemukan retakan sepanjang sekitar 100 meter di bibir Kawah I atau Tiwu Ata Polo, Gunung Kelimutu, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Flores.
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan temuan tersebut diperoleh melalui pengamatan langsung di lapangan dan survei menggunakan drone. Pemantauan dilakukan untuk mengetahui perubahan morfologi di kawasan kawah Gunung Kelimutu.
"Kondisi retakan tersebut perlu mendapat perhatian karena terdapat potensi perkembangan retakan yang dapat memicu longsoran ke arah Kawah I, terutama apabila terjadi gempa susulan atau hujan dengan intensitas tinggi," kata dia, seperti dilansir Antara, Senin, 24 Agustus 2026.
Berdasarkan hasil survei, retakan sepanjang sekitar 100 meter itu berada sekitar enam meter dari bibir Kawah I. Retakan tersebut membentang ke arah Timur Laut, mengikuti kemiringan lereng.
Selain menemukan retakan di Kawah I, tim survei Badan Geologi mendeteksi longsoran material endapan lama di Kawah II atau Tiwu Koofai Nuwamuri.
Material longsor bergerak ke arah bagian dalam kawah. Peristiwa tersebut sempat menimbulkan suara gemuruh cukup keras yang terdengar dari kawasan puncak Gunung Kelimutu.
Meski ditemukan retakan dan longsoran, Lana menyampaikan status aktivitas vulkanik Gunung Kelimutu masih berada pada Level I atau Normal.
Badan Geologi mengimbau masyarakat dan wisatawan tidak melakukan aktivitas di sekitar retakan Kawah I. Imbauan tersebut diberikan dengan mempertimbangkan tingginya aktivitas wisatawan di kawasan Gunung Kelimutu. Pengunjung diminta menjauhi area dengan radius 6-10 meter dari bibir Kawah I.
.jpg)
(Warga melintas di bangunan yang rusak akibat gempa NTT. Foto: Antara)
Badan Geologi juga meminta pemerintah daerah dan pengelola kawasan segera memasang garis pembatas pada area yang berpotensi membahayakan pengunjung. Papan peringatan juga diminta dipasang di sekitar Kawah I dan Kawah II.
Selain itu, pemerintah daerah dan pengelola kawasan diminta terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api Kelimutu di Kabupaten Ende serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung, Jawa Barat.
"Perlu dibuat tanda peringatan atau larangan khusus potensi bahaya longsoran di sekitar Kawah I Tiwu Ata Polo dan kawah II Tiwu Koofai Nuwamuri," kata Lana.