Ilustrasi. Foto: Dok MI
Naik 108 Poin, IHSG Ditutup ke Posisi 6.340
Eko Nordiansyah • 21 July 2026 16:30
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan sore ini bertengger di zona hijau. IHSG sudah menguat sejak pembukaan perdagangan pagi tadi.
Berdasarkan data RTI, Selasa, 20 Juli 2026, IHSG sore naik 108,240 poin atau setara 1,74 persen ke posisi 6.340,020. IHSG sebelumnya sempat dibuka ke level 6.273. Sementara itu, IHSG juga berada di level terendah 6.247 dan tertinggi di posisi 6.340.
Adapun total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 51,063 miliar senilai Rp21,501 triliun. Sedangkan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp11.069,356 triliun dengan frekuensi sebanyak 2.942.060 kali.
Sore ini, tercatat sebanyak 421 saham bergerak menguat. Sementara itu, sebanyak 205 saham melemah, dan 169 saham lainnya stagnan.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Investor wait and see arah kebijakan BI
Penguatan IHSG terjadi di tengah pelaku pasar bersikap wait and see terhadap arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI)."Diperkirakan IHSG berpotensi uji level resistance di 6.250-6.300, meskipun perlu diwaspadai potensi profit taking," ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim, dalam kajiannya dikutip dari Antara di Jakarta.
Dari dalam negeri, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI diselenggarakan pada Selasa ini dan Rabu, 22 Juli 2026, dengan salah satu agenda adalah menentukan kebijakan BI-Rate yang saat ini berada di level 5,75 persen atau telah dinaikkan sebanyak tiga kali dengan total 100 basis poin (bps) sepanjang 2026.
Sementara itu, berdasarkan hasil Survei Perbankan Bank Indonesia (BI), nilai saldo bersih tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru mencapai 93,08 persen pada kuartal II 2026 atau meningkat dibandingkan posisi 38,74 persen pada kuartal I 2026, serta lebih tinggi dari sebesar 85,22 persen pada kuartal II 2025.
Penyaluran kredit modal kerja mencatatkan SBT tertinggi sebesar 94,34 persen, diikuti kredit investasi sebesar 93,51 persen dan kredit konsumsi sebesar 83,67 persen. Meskipun demikian, BI mencatat bahwa perbankan menerapkan standar pemberian kredit yang lebih ketat pada kuartal II 2026.
Kenaikan pemberian kredit itu mengindikasikan aktivitas ekonomi pada kuartal II 2026 masih ekspansif seiring dengan kenaikan permintaan akan kredit.
Dari mancanegara, eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran telah mendorong kenaikan harga minyak mentah, meskipun sentimen sempat membaik setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran membangkitkan harapan akan penyelesaian diplomatik.
Meningkatnya konflik itu telah menambah ketidakpastian pasar di tengah kekhawatiran investor terhadap valuasi saham terkait dengan kecerdasan buatan (AI).
"Jika harga minyak bertahan di level tinggi pada waktu yang lama, akan mendorong kenaikan kembali inflasi AS, serta meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed," ujar Ratna.