Ilustrasi anak bermain bersama orang tua. Istimewa
Menyambut HAN 2026, Momentum Mengembalikan Hak Bermain untuk Tumbuh Kembang Anak
Whisnu Mardiansyah • 22 July 2026 18:33
Bandung: Peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh setiap 23 Juli kerap diisi dengan berbagai diskusi seputar pendidikan, kesehatan, perlindungan, hingga masa depan generasi muda. Namun, pendiri Mindfulness Bandung sekaligus Certified Play Therapist, Livita Chandra, mengingatkan adanya satu kebutuhan mendasar yang kerap terabaikan, yakni kesempatan anak untuk bermain.
Livita menyoroti kebiasaan orang tua yang menjadikan bermain sebagai hadiah setelah anak menyelesaikan seluruh kewajiban. Padahal, menurutnya, aktivitas tersebut merupakan hak dasar yang melekat pada setiap anak.
Setiap memperingati Hari Anak Nasional, kita banyak berbicara tentang pendidikan, kesehatan, perlindungan, dan masa depan anak. Namun, masih ada satu kebutuhan mendasar yang kerap dipandang sebelah mata, yaitu kesempatan untuk bermain, ujar Livita Chandra di Bandung, Rabu, 22 Juli 2026.
Livita menegaskan, bermain bukanlah hadiah, melainkan hak dan kebutuhan anak. Konvensi Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan menempatkan aktivitas tersebut sebagai salah satu hak dasar yang wajib dipenuhi.
Ia mengutip pernyataan Garry Landreth, tokoh penting dalam terapi bermain, yang mengatakan bahwa hewan terbang, ikan berenang, dan anak-anak bermain.
Ungkapan sederhana itu menggambarkan bahwa bermain merupakan cara alami anak mengenal diri, memahami dunia, dan bertumbuh, jelas Livita.
Livita menjelaskan, orang dewasa kerap memandang remeh aktivitas bermain. Padahal, di sanalah berbagai proses belajar penting berlangsung. Ketika anak membuat slime dan hasilnya tidak sesuai harapan, ia belajar mencoba kembali. Saat menara balok yang disusunnya roboh, ia belajar menghadapi kekecewaan sekaligus membangunnya lagi.
Ketika bermain masak-masakan atau dokter-dokteran, anak berlatih memahami sudut pandang orang lain. Interaksi bersama teman juga menghadirkan pelajaran berharga, seperti menunggu giliran, berbagi, bernegosiasi, menerima kekalahan, menyelesaikan konflik, lalu kembali berteman setelah berselisih, ungkap Livita.
Pengalaman sederhana tersebut, lanjut Livita, membentuk kreativitas, empati, kemampuan memecahkan masalah, serta ketangguhan anak dalam menghadapi tantangan.
American Academy of Pediatrics juga menyebutkan bahwa bermain mendukung perkembangan bahasa, kemampuan berpikir, keterampilan sosial dan emosional, serta kemampuan anak menghadapi stres.
Sebagai seorang ibu, Livita mengakui orang tua sering kali terlalu cepat mengambil alih. Ketika bangunan balok roboh, orang tua ingin segera memperbaikinya. Saat anak belum mengetahui cara memainkan sesuatu, orang tua buru-buru memberi contoh.
Padahal, ada saatnya anak perlu diberi ruang untuk berpikir, mencoba, gagal, lalu menemukan caranya sendiri, katanya.
Bermain Membantu Anak Memahami Perasaan
Anak belum selalu mampu mengungkapkan kecemasan, kemarahan, atau rasa tidak berdaya secara verbal. Perasaan-perasaan tersebut lebih sering muncul melalui gambar, pasir, boneka, cerita, gerakan tubuh, maupun permainan pura-pura.
Bagi anak, bermain menjadi bahasa yang membantu menyampaikan pengalaman ketika kata-kata belum mampu mewakilinya, tutur Livita.
Ia mencontohkan salah satu proses terapi yang pernah didampinginya. Seorang anak berusia sembilan tahun yang sangat takut pergi ke dokter berulang kali bermain dokter-dokteran di ruang terapi. Sambil memeriksa boneka, anak itu berkata, Jangan takut, ya. Kita periksa dulu semuanya.
Beberapa waktu kemudian, orang tuanya bercerita bahwa anak tersebut menjadi lebih berani ketika harus menerima vaksin, kenang Livita.

Foto: Instagram @tmii
Livita menekankan bermain tidak selalu membutuhkan mainan mahal atau tempat khusus. Kotak kardus dapat berubah menjadi rumah, mobil, atau pesawat luar angkasa. Kain dapat menjadi jubah pahlawan. Ranting, batu, tanah, air, boneka, kertas, dan pensil pun mampu membuka dunia imajinasi yang luas.
Nilai sebuah permainan tidak ditentukan oleh harga mainannya, melainkan oleh ruang yang diberikan kepada anak untuk bereksplorasi, tegasnya.
Yang paling dibutuhkan, lanjut Livita, bukan tambahan mainan, melainkan kehadiran orang tua. Kehadiran itu tampak ketika orang tua bersedia duduk di lantai, mengikuti alur permainan anak, tanpa memegang telepon genggam, tanpa mengoreksi, dan tanpa tergesa-gesa mengajarkan sesuatu.
Penelitian mengenai play deprivation mengingatkan bahwa anak yang jarang memperoleh kesempatan bermain secara bebas kehilangan banyak peluang untuk berlatih mengelola emosi, mengendalikan diri, beradaptasi, dan membangun hubungan sosial, paparnya.
Ketika Bermain Menjadi Jalan Terapi
Livita menjelaskan, tidak semua kesulitan dapat diatasi hanya dengan menambah waktu bermain. Sebagian anak membawa kecemasan, kesedihan, kehilangan, pengalaman perundungan, konflik keluarga, ledakan emosi, rasa rendah diri, atau pengalaman lain yang belum sanggup mereka ceritakan.
Dalam situasi tersebut, anak mungkin membutuhkan pendampingan lebih terarah melalui play therapy atau terapi bermain. Pendekatan ini bukan sekadar membiarkan anak bermain sesuka hati, melainkan proses terapi yang memiliki tujuan jelas dan dilakukan oleh terapis terlatih.
Dalam proses tersebut, permainan menjadi sarana komunikasi. Terapis mengamati pilihan permainan, tema cerita yang berulang, serta cara anak mendekati, menghindari, membangun, merusak, menang, maupun kalah. Semua itu membantu memahami pengalaman batin yang belum mampu diungkapkan melalui kata-kata, jelas Livita.
Selain play therapy, orang tua dapat menjadi agen perubahan utama dalam hubungan dengan buah hati. Melalui pendampingan, orang tua belajar menyelenggarakan special playtime secara teratur. Pada waktu khusus tersebut, anak diberi kesempatan memimpin permainan.
.jpg)
Hari Anak, Ilustrasi pixabay
Orang tua berlatih mengikuti alur yang dipilih anak, mendengarkan dengan penuh perhatian, memahami perasaannya, memberikan pilihan, serta menetapkan batas secara hangat dan konsisten, ujar Livita.
Ia menyadari rutinitas orang tua sering kali dipenuhi berbagai instruksi. Namun, dalam special playtime, anak justru menerima pesan yang berbeda.
Sebagai ibu sekaligus Certified Play Therapist, Livita percaya tumbuh kembang anak tidak hanya ditopang oleh sekolah yang baik, makanan bergizi, atau berbagai kegiatan tambahan. Anak juga memerlukan ruang untuk bermain, kehadiran orang dewasa yang mau mendengarkan, serta hubungan yang menghadirkan rasa aman.
Pada Hari Anak Nasional ini, mari mengembalikan bermain ke tempat yang semestinya di rumah, di sekolah, di layanan kesehatan, dan ketika diperlukan di ruang terapi, ajaknya.
Livita mengingatkan, orang tua tidak perlu menunggu memiliki waktu luang yang panjang atau mainan yang sempurna. Beberapa menit yang dihabiskan untuk duduk bersama anak, mengikuti alur permainannya, mendengarkan ceritanya, dan memasuki dunianya dapat menjadi investasi sangat berarti bagi kesehatan mental dan perkembangan anak.
Mungkin sudah saatnya setiap orang tua, guru, dan tenaga kesehatan kembali mengingat satu resep sederhana yang terlalu lama kita abaikan. Bermainlah hari ini, kata Livita.