Dokumentasi. Calon jamaah haji Palangkaraya. (ANTARA/Rendhik Andika)
Jemaah Calon Haji Palangkaraya Siap Berangkat ke Tanah Suci
Silvana Febiari • 8 April 2026 18:20
Palangkaraya: Kesiapan keberangkatan jemaah calon haji di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng) hampir selesai. Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umroh (Kakan Kemenhaj) Kota Palangkaraya Ahd Fauzi mengatakan kesiapan jemaah telah mencapai 99 persen.
"Persiapan calon jamaah haji Kota Palangkaraya untuk musim haji 1447 H hingga awal April 2026, tingkat kesiapan jemaah dilaporkan telah mencapai 99 persen," katanya, dilansir dari Antara, Rabu, 8 April 2026.
Dia mengatakan seluruh tahapan utama telah dilaksanakan jemaah. Mulai dari pemeriksaan kesehatan, pelunasan biaya perjalanan ibadah haji, pelaksanaan manasik, hingga vaksinasi telah berjalan sesuai jadwal.
“Semua tahapan sudah dilaksanakan, jadi saat ini jamaah tinggal menunggu waktu keberangkatan,” ungkapnya.
Secara keseluruhan, jumlah jemaah calon haji dari Kalimantan Tengah pada tahun ini mencapai 1.559 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 296 jemaah berasal dari Kota Palangkaraya.
Meski kesiapan hampir sepenuhnya tuntas, pihaknya tetap menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Hal ini guna menghadapi kemungkinan yang dapat memengaruhi perjalanan haji jemaah, terutama terkait dinamika situasi di kawasan Timur Tengah.
Fauzi menjelaskan, pemerintah Indonesia dan otoritas Arab Saudi juga terus berkoordinasi untuk memastikan penyelenggaraan ibadah haji tetap berjalan aman dan lancar. Berbagai skenario juga telah dibahas bersama pemerintah pusat dan DPR sebagai langkah mitigasi risiko.
“Koordinasi terus dilakukan, termasuk dengan pihak Arab Saudi. Berbagai kemungkinan sudah kita bahas untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” tuturnya.
.jpeg)
Ilustrasi jemaah calon haji. (metrotvnews.com)
Ia menambahkan apabila terjadi perubahan jalur penerbangan akibat kondisi tertentu, jemaah tetap dapat diberangkatkan melalui rute alternatif. Namun, rute ini akan memakan waktu tempuh yang lebih lama.
“Kalau ada perubahan rute, jamaah tetap bisa berangkat, hanya saja waktu perjalanan bisa bertambah sekitar enam jam,” ucapnya.
Selain itu, opsi penundaan keberangkatan juga menjadi bagian dari langkah antisipatif apabila kondisi tidak memungkinkan untuk dilakukan perjalanan. “Jika memang situasi tidak memungkinkan, keberangkatan bisa ditunda. Namun tentu ada konsekuensi yang harus diselesaikan,” imbuhnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan seluruh biaya perjalanan jemaah, termasuk akomodasi dan layanan lainnya, telah dilunasi. Hal ini menjadi salah satu faktor penting dalam pengambilan kebijakan apabila terjadi perubahan situasi.
“Kita tentu berharap seluruh proses berjalan lancar, namun kesiapsiagaan tetap harus menjadi prioritas,” ujarnya.