Editorial Media Indonesia: Menanti Damai Nyata dari Teluk

Ilustrasi Media Indonesia

Editorial Media Indonesia: Menanti Damai Nyata dari Teluk

Media Indonesia • 9 April 2026 05:59

DUNIA mulai sedikit bernapas lega setelah terjadi gencatan senjata sementara antara Iran dan Amerika Serikat. Kesepakatan itu sekaligus membuka peluang bagi pemulihan kegiatan pelayaran di Selat Hormuz yang selama ini terhenti akibat konflik Timur Tengah.

Sejak meletus konflik pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat bersama Israel menyerang Iran, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) langsung menutup selat yang dilalui 20% distribusi minyak dunia tersebut. Semua negara langsung dibuat kalang kabut, tidak terkecuali Indonesia.

Harga minyak dunia sontak melambung tinggi. Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman itu memang memiliki peran yang teramat krusial. Seperlima pasokan minyak dunia (20 juta barel) dan sebagian besar gas alam cair (LNG) melintasi jalur tersebut.

Begitu Iran menyatakan setuju membuka Selat Hormuz selama dua minggu, perdagangan minyak dunia bereaksi positif. Harga minyak mentah Brent berjangka Juni turun 12,6% ketimbang penutupan sebelumnya menjadi US$91,92 per barel. Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka Mei turun 16,6% menjadi US$94,10.
 


Gangguan ekspor minyak melalui Selat Hormuz diperkirakan sempat mencapai sekitar 13 juta barel per hari pada Maret. Negara-negara di Asia menjadi kawasan yang sangat rentan karena mengimpor sekitar 60% minyak dan 80% gas dari Timur Tengah.

Belajar dari situasi tersebut, harus kita katakan perang memang tidak akan pernah membawa kebaikan, apa pun alasan pencetusnya. Sebaliknya, damai yang sempat terabaikan selama 41 hari justru terbukti menjadi bahasa universal yang berguna bagi kemaslahatan bersama.

Oleh karena itu, publik amat menantikan pihak-pihak yang bertikai, AS dan Iran, benar-benar serius untuk menghadirkan damai ketika perundingan yang dimediatori oleh Pakistan akan dimulai pada Jumat, 10 April 2026, waktu setempat.

Dalam perundingan itu, jangan ada pihak yang mau menang sendiri dan mengabaikan kepentingan negara lain. Iran sudah mengusulkan untuk tetap memegang kendali atas Selat Hormuz, dan itu rasanya sangat wajar sehingga bisa dinegosiasikan.

Hal lainnya ialah Iran juga berkeras untuk melanjutkan program pengayaan uranium. Kita harus katakan bahwa kemauan tersebut kiranya selaras dengan kebijakan yang dikeluarkan badan pengawas nuklir dunia, The International Atomic Energy Agency (IAEA).

Dunia juga berharap banyak kepada AS agar tidak gampang cedera janji. Iran menyatakan sudah tiga kali berunding, tetapi hasilnya selalu berujung pada pengkhianatan dari pihak AS.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) menyatakan perundingan akan digelar di Islamabad, ibu kota Pakistan, dalam jangka waktu maksimal 15 hari untuk memfinalisasi 10 butir syarat gencatan senjata yang diajukan kepada Amerika Serikat dan Israel. Harapannya ialah perdamaian di Timur Tengah bersifat permanen dan tidak semu.


Ilustrasi Media Indonesia

Seiring kita menanti kabar baik dari perundingan Iran-AS, Indonesia harus belajar banyak dari konflik Timur Tengah. Betapa satu titik sempit, yakni Selat Hormuz yang lebarnya 33-39 kilometer, dapat memengaruhi negeri kita.

Publik berharap pengelola negara memperhatikan betul sisi ketahanan energi. Dari konflik di Timur Tengah, terkuak fakta terbatasnya kapasitas stok minyak bumi dan gas nasional. Bauran energi serta perwujudan skala masif energi baru dan terbarukan yang sudah menjadi peta jalan, mesti ditaati secara penuh.

Kita harus siap ketika turbulensi kembali menghampiri, karena satu-satunya kepastian global saat ini ialah ketidakpastian itu sendiri.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(M Sholahadhin Azhar)