Pantai Tiga Desa di Kupang Tercemar Tumpahan Oli

Penampakan rumput laut yang rusak akibat pencemaran minyak di perairan pulau Semau. ANTARA/HO-Tangkapan layar Video.

Pantai Tiga Desa di Kupang Tercemar Tumpahan Oli

Silvana Febiari • 2 August 2026 19:59

Kupang: Wilayah pantai di tiga desa di Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), tercemar limbah minyak berupa oli. Pencemaran tersebut diduga berasal dari aktivitas pengangkatan bangkai kapal yang tenggelam oleh PT Nusalindo di Kupang.

Camat Semau Morifali Y.E Mesakh dalam surat laporannya ke Balai Pengelolaan Kelautan (BPK) Kupang mengatakan tiga desa itu antara lain Desa Hansisi, Desa Huilelot, dan Desa Uiasa.

“Minyak juga dilaporkan terus bergerak menuju wilayah pesisir Desa Letbaun dan Desa Batuinan,” katanya, dilansir dari Antara, Minggu, 2 Juli 2026. 
 


Dalam surat tersebut, Camat Semau meminta BPK Kupang segera melakukan peninjauan dan kajian terkait dampak tumpahan minyak di pesisir Semau. Tumpahan tersebut diduga telah merusak kawasan budidaya rumput laut milik masyarakat setempat.

Permintaan tersebut disampaikan melalui laporan tertanggal 31 Juli 2026 menyusul tumpahan minyak yang diduga berasal dari lokasi pekerjaan pengangkatan bangkai kapal MV Kuala Mas di Perairan Bolok.

Berdasarkan laporan sementara PT Nusalindo, insiden tersebut terjadi pada 29 Juli 2026 sekitar pukul 12.05 WITA saat proses pengangkatan bangkai kapal berlangsung. 

Setelah kejadian, perusahaan menghentikan sementara kegiatan pengangkatan kapal dan melakukan penanganan darurat dengan memasang oil boom, menggunakan bahan penyerap minyak, menyemprotkan oil dispersant, serta melakukan pembersihan di lokasi.

Hasil pemeriksaan bawah air pada 30 Juli 2026 menemukan kebocoran minyak pada bagian bawah Cargo Hold Nomor 3 yang diduga menjadi sumber keluarnya minyak. PT Nusalindo bersama masyarakat melakukan pembersihan di sekitar Dermaga Hansisi dan Pantai Kalnaok di sekitar Pelabuhan Rakyat Laazar Port, Desa Hansisi.

Kegiatan penyisiran dan pembersihan dilanjutkan pada 31 Juli 2026 di sejumlah titik pantai di Desa Huilelot dan Desa Uiasa, serta berlanjut pada Sabtu, 1 Agustus 2026. 


Penampakan rumput laut yang rusak akibat pencemaran minyak di perairan pulau Semau. ANTARA/HO-Tangkapan layar Video.


Selain mencemari kawasan pesisir, tumpahan minyak diduga berdampak terhadap usaha budidaya rumput laut milik masyarakat di Desa Huilelot. Area budidaya yang terdampak berada di sepanjang pesisir Pantai Tahasa, Katabak hingga Batuhopon dengan panjang sekitar enam kilometer. 

Menurut Morifali, hingga kini luas lahan budidaya yang mengalami kerusakan masih dalam proses pendataan. Sementara pihak perusahaan belum memberikan tanggapan terkait penanganan kerugian yang dialami para pembudidaya rumput laut.

Kepala Balai Pengelola Kelautan Kupang Imam Fauzi mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup NTT terkait masalah tersebut. “Untuk saat ini pencemaran laut itu diduga akibat pengangkatan bangkai kapal,” ujar dia.

Pihaknya masih belum mengetahui secara pasti sebaran pencemaran tersebut. Namun, sejak 31 Juli 2026, PT TOM juga telah menyampaikan kekhawatiran serupa karena area tersebut berpotensi terdampak.

(Silvana Febiari)