RSPI Sulianti Suroso. Foto: RSPI Sulianti Suroso
Jadi Tempat Isolasi Pasien Hantavirus, Intip Sejarah RSPI Sulianti Saroso
Muhamad Marup • 14 May 2026 16:27
Jakarta: Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso menjadi tempat isolasi bagi pasien hantavirus di Indonesia. Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit (P2) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Andi Saguni, menjelaskan alasan pemilihan RSPI Sulianti Saroso sebagai lokasi isolasi.
"Karena itu rumah sakit khusus infeksi, sehingga kita bisa benar-benar fokus menangani pasiennya," tutur Andi, dalam keterangan resminya, Kamis, 14 Mei 2026.
Sebelum menjadi tempat isolasi hantavirus, RSPI Sulianti Saroso terlibat dalam berbagai peristiwa penyakit menular di Indonesia. Untuk lebih mengenal rumah sakit yang dinamai dari salah seorang dokter perempuan tersebut, Metrotvnews.com telah merangkum sejarah serta profil RSPI Sulianti Saroso berikut ini.
Perjalanan RSPI Sulianti Saroso
Mengutip laman Pemprov DKI Jakarta, Sejarah RSPI Sulianti Saroso dimulai dengan keberadaan Station Karantina di Pulau Onrust Kuiper, Kepulauan Seribu, Jakarta. Fungsi utama waktu itu adalah untuk menampung penderita cacar yang berasal dari Jakarta dan sekitarnya.Tahun 1978, saat Indonesia dinyatakannya bebas cacar pada tahun 1972, maka berdasarkan Kepmenkes RI No. 148/Menkes/SK/78 tertanggal 28 April 1978, Station Karantina berubah menjadi RS Karantina. RS karantina memiliki tugas pokok dan fungsi menyelenggarakan pelayanan pengobatan, perawatan, karantina dan isolasi serta pengelolaan penyakit menular tertentu sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
Pada 17 Juni 1992, Dilakukan peletakan batu pertama pembangunan RSPI Sulianti Saroso oleh Menteri Kesehatan RI, Dr. Adhyatma MPH, disaksikan oleh Duta Besar Jepang, Michihiko Kunihiro di lokasi sekarang ini melalui bantuan Hibah Pemerintahan Jepang. Dua tahun kemudian, RSPI Sulianti Saroso memiliki tujuan jangka sebagai pusat rujukan nasional penyakit menular dan penyakit infeksi lainnya.
1 April 1994, RSPI Sulianti Saroso diresmikan olah Menteri Kesehatan, Prof. Dr. Sujudi, disaksikan oleh Dubes Jepang, dan Gubernur DKI Jakarta pada waktu itu Letnan Jenderal (Purn) Soerjadi Soedirdja. Dua tahun kemudoan RSPI Sulianti Saroso menjadi Rumah Sakit tipe B non-Pendidikan.
Tanggal 13 Jan 2005, RSPI Sulianti Saroso menjadi RS Vertikal, Tipe B Pendidikan, Eselon II B. Dua tahun kemudian, RSPI Sulianti Saroso menjadi Badan Layanan Umum (BLU).
Pada 11 Maret 2008, RSPI Sulianti Saroso menjadi RS Tipe B Pendidikan, Eselon II A. Setahun setelahnya, RSPI Sulianti Saroso merupakan Pusat Kajian dan Rujukan Nasional Penyakit Infeksi.
25 Okt 2011, Berdasarkan Permenkes No. 2073/Menkes/PER/X/2011, RSPI Sulianti Saroso merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Ditjen BUK.
Saat ini, RSPI Sulianti Saroso adalah Pusat Infeksi Nasional dengan rincian:
- Rumah Sakit Khusus Kelas A
- Rumah Sakit Pusat Kajian, Pendidikan Jejaring AHS – UI
- Terakreditasi LAM KPRSRumah Sakit Badan Layanan Umum
- Rumah Sakit Rujukan Penanggulangan Penyakit Infeksi Emerging Tertentu
- Rumah sakit rujukan kasus SARS pada tahun 2003
- Rumah sakit rujukan dalam menangani Kejadian Luar Biasa (KLB) Flu Burung (H5N1) pada 2025
- Berperan aktif dalam penanganan dan pencegahan penyakit Mers-CoV (MCoV) atau MERS-COV pada 2012
- Rumah Sakit yang menangani pasien Covid-19 pertama pada 2020.

RSPI Sulianti Suroso. Foto: RSPI Sulianti Suroso
Profil Julie Sulianti Saroso
Mengutip Kemenkes, Julie Sulianti Saroso lahir di Karangasem, Bali pada tanggal 10 Mei 1917. Ia merupakan anak dari dokter M Sulaiman.Ia menempuh pendidikan kedokteran di GHS (Sekolah Menengah Kedokteran) Batavia pada tahun 1942. Sebagai dokter, ia banyak berkontribusi selama masa kemerdekaan.
Sulianti melanjutkan pendidikannya di Inggris, Skandinavia, Amerika Serikat, dan Malaya selama 2 tahun. Untuk proses pendidikan yang panjang ini, Sulianti menerima Sertifikat Kesehatan Masyarakat dari Universitas London, gelar Magister Kesehatan Masyarakat pada tahun 1962, dan gelar Doktor Kesehatan Masyarakat pada tahun 1965.
Ia juga menerima beasiswa dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk belajar kesehatan ibu dan anak di Eropa. Sekembalinya ke Indonesia pada tahun 1952, ia menjadi bagian dari Kementerian Kesehatan dan memegang berbagai jabatan yaitu Kepala Bagian Kesehatan Ibu dan Anak, Kepala Hubungan Luar Negeri, Wakil Kepala Bagian Pendidikan, Kepala Bagian Kesehatan Masyarakat Desa dan Pendidikan Kesehatan Masyarakat, dan Kepala Badan Perencanaan.
Melanjutkan perjuangannya di sektor kesehatan, Sulianti menjadi pendidik di Unair mulai tahun 1969. Luar biasanya, Sulianti menjadi wanita kedua yang menjabat sebagai Presiden Majelis Kesehatan Dunia.
Kehadiran Sulianti sangat penting untuk meningkatkan akses kesehatan bagi perempuan, anak-anak, dan penduduk pedesaan. Hingga kini, namanya tetap harum dan diabadikan sebagai RSPI Sulianti Saroso.