12 Kecamatan di Temanggung Berpotensi Kekeringan saat Kemarau

Ilustrasi-Area persawahan di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, yang kekeringan akibat musim kemarau. (DOK.PEMKABBEKASI)

12 Kecamatan di Temanggung Berpotensi Kekeringan saat Kemarau

Lukman Diah Sari • 16 May 2026 13:50

Temanggung: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, memetakan sebanyak 12 dari 20 kecamatan di wilayah tersebut berpotensi rawan kekeringan pada musim kemarau 2026. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Temanggung Totok Nursetyanto menyampaikan, pihaknya terus melakukan langkah antisipasi untuk menghadapi potensi kekeringan pada musim kemarau tahun 2026.

"Berdasarkan pemetaan yang telah kami lakukan, 12 kecamatan menjadi prioritas penanganan," kata dia di Temanggung, Sabtu, 16 Mei 2026, melansir Antara.

Ia menyebutkan 12 kecamatan tersebut meliputi Kecamatan Pringsurat, Kaloran, Bulu, Kandangan, Selopampang, Tlogomulyo, Tembarak, Kranggan, Bejen, Candiroto, Gemawang, dan Jumo. Pemerintah daerah, kata dia, telah menyiapkan langkah penyaluran air bersih untuk wilayah terdampak apabila kondisi kekeringan mulai terjadi.

"Pemerintah daerah berharap koordinasi antara kecamatan, desa, dan masyarakat dapat berjalan baik sehingga dampak kekeringan tahun ini dapat diminimalkan," ujar dia.

Dia menegaskan bahwa langkah antisipasi telah dilakukan sejak awal April 2026. Surat edaran juga sudah dikirimkan kepada para camat dan kepala desa agar segera melakukan kesiapsiagaan di wilayah masing-masing.

"Selain melakukan pemetaan terhadap daerah rawan kekeringan, kami juga sudah bersurat kepada para camat dan kepala desa untuk melakukan upaya antisipasi," katanya.

Petani menggunakan mesin pompa menyuplai air sungai ke lahan sawah untuk mengantisipasi tanaman padi terdampak kekeringan di pedalaman Kabupaten Aceh Besar. ANTARA FOTO/Ampelsa

Ia menuturkan meskipun saat ini di beberapa wilayah masih terjadi hujan pada malam hari, masyarakat tetap diminta waspada dan mulai bijak dalam penggunaan air bersih. Kesadaran masyarakat, kata dia, sangat penting untuk mengurangi risiko krisis air saat musim kemarau mencapai puncaknya.

"Harapannya masyarakat bisa lebih bijak dalam penggunaan air. Kemudian tampungan-tampungan air yang ada juga bisa dimanfaatkan, setidaknya untuk kebutuhan air bersih," jelas dia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)