Perayaan Waisak di Candi Borobudur. (via Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)
7 Tradisi Unik Hari Raya Waisak 2026, Penuh Makna Kehidupan
Putri Purnama Sari • 31 May 2026 10:42
Jakarta: Hari Raya Waisak merupakan salah satu hari suci terpenting bagi umat Buddha di berbagai negara, termasuk Indonesia. Momen ini menjadi waktu yang istimewa untuk mengenang perjalanan hidup Sang Buddha sekaligus memperdalam nilai-nilai spiritual yang diajarkannya.
Perayaan Waisak tidak hanya diisi dengan ritual keagamaan, tetapi juga berbagai tradisi yang sarat makna. Setiap simbol dan kegiatan yang dilakukan memiliki pesan mendalam tentang kebajikan, kesadaran diri, kasih sayang, dan perdamaian.
Tradisi dan Simbol dalam Perayaan Hari Raya Waisak

Jelang puncak perayaan Waisak, Air Berkah tiba di Candi Mendut, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, (Foto:Metrotvnews.com/Duta Erlangga)
Berikut beberapa tradisi yang umum dilakukan umat Buddha saat memperingati Hari Raya Waisak beserta maknanya.
1. Puja Bakti di Vihara
Puja bakti menjadi salah satu rangkaian ibadah utama dalam perayaan Waisak. Kegiatan ini dilakukan di vihara dengan berbagai bentuk penghormatan kepada Sang Buddha, seperti pembacaan paritta atau doa suci, meditasi, serta persembahan bunga, dupa, dan lilin.
Setiap persembahan memiliki makna tersendiri. Bunga melambangkan ketidakkekalan kehidupan, lilin menjadi simbol pencerahan dan kebijaksanaan, sedangkan dupa menggambarkan keharuman perilaku baik yang memberikan manfaat bagi sesama.
2. Prosesi Waisak
Di Indonesia, salah satu prosesi Waisak yang terkenal berlangsung dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Ribuan umat Buddha mengikuti perjalanan ini dengan penuh ketenangan dan kekhusyukan.
Prosesi tersebut mencerminkan perjalanan spiritual manusia dalam mencari kebenaran dan mencapai pencerahan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi simbol komitmen untuk menjalani kehidupan yang damai, disiplin, dan penuh kesadaran.
3. Ritual Pemandian Rupang Bayi Buddha
Tradisi pemandian rupang atau patung bayi Siddhartha Gautama dilakukan dengan menyiramkan air bersih atau air bunga ke atas patung.
Ritual ini melambangkan proses penyucian diri dari berbagai sifat negatif, seperti keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Melalui simbol tersebut, umat Buddha diajak untuk terus memperbaiki diri dan menjalani kehidupan yang lebih bijaksana.
4. Pelepasan Makhluk Hidup
Sebagian umat Buddha juga melaksanakan tradisi melepas burung, ikan, atau hewan lainnya ke habitat yang aman. Kegiatan ini menjadi simbol kasih sayang terhadap semua makhluk hidup serta penghormatan terhadap kehidupan. Tradisi tersebut sejalan dengan ajaran ahimsa atau prinsip tidak menyakiti makhluk lain.
5. Pelepasan Lampion
Pelepasan lampion menjadi salah satu tradisi yang paling dinantikan dalam perayaan Waisak, khususnya di kawasan Candi Borobudur.
Ribuan lampion yang diterbangkan ke langit malam melambangkan harapan, doa, dan semangat untuk melepaskan diri dari berbagai keterikatan duniawi. Cahaya lampion juga menggambarkan perjalanan menuju kebijaksanaan dan pencerahan batin.
6. Kegiatan Sosial dan Aksi Kemanusiaan
Perayaan Waisak juga identik dengan berbagai kegiatan sosial yang bertujuan membantu sesama. Beberapa kegiatan yang sering dilakukan antara lain:
- Donor darah.
- Pembagian sembako.
- Santunan bagi anak yatim dan lansia.
- Pengobatan gratis.
- Bakti sosial di lingkungan sekitar.
7. Pembacaan Dhamma dan Meditasi Bersama
Selain ritual keagamaan, umat Buddha juga mengikuti pembacaan Dhamma serta ceramah dari para bhikkhu. Kegiatan ini bertujuan memperdalam pemahaman terhadap ajaran Buddha.
Sementara itu, meditasi bersama menjadi sarana untuk melatih ketenangan pikiran, meningkatkan kesadaran diri, dan mengembangkan kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari.
Makna Waisak: Memperingati Tiga Peristiwa Suci
Hari Raya Waisak memiliki keistimewaan karena memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Sang Buddha yang diyakini terjadi pada tanggal yang sama.1. Kelahiran Siddhartha Gautama
Peristiwa pertama adalah kelahiran Bodhisattva Siddharta Gautama. Ia lahir sebagai calon Buddha. Bodhisattva Siddharta dilahirkan pada 623 SM (sebelum Masehi) di Taman Lumbini yang kini berada di wilayah Nepal. Beliau kemudian tumbuh menjadi sosok yang membawa ajaran kebijaksanaan dan kedamaian bagi dunia.
2. Pencapaian Penerangan Sempurna
Peristiwa kedua adalah saat Siddhartha Gautama mencapai pencerahan sempurna di bawah Pohon Bodhi. Sejak saat itu, beliau dikenal sebagai Buddha, sosok yang telah terbebas dari kebodohan dan menemukan kebenaran sejati.
3. Parinibbana Sang Buddha
Peristiwa ketiga adalah Parinibbana atau wafatnya Sang Buddha. Dalam keyakinan umat Buddha, Parinibbana menandai terbebasnya Sang Buddha dari siklus kelahiran dan kematian, sekaligus mencapai pembebasan sempurna.