Penyampaian materi dan edukasi mengenai ASI serta pendampingan ibu nifas melalui Model POSNIFA. Dok. Istimewa
Peran Kader Posyandu Pekandangan Diperkuat
Achmad Zulfikar Fazli • 7 September 2026 22:39
Padang Pariaman: Peran kader posyandu di Nagari Pakandangan, Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman, terus diperkuat. Salah satunya dengan program Posyandu Sahabat Ibu Nifas (POSNIFA).
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian Universitas Negeri Padang Berdampak pada 2026. Tim pengabdi berasal dari Program Studi Kebidanan, Departemen Kebidanan, Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Padang, diketuai Epi Satria, S.SiT., M.Keb. Program melibatkan Puskesmas Pakandangan, kader posyandu, ibu nifas dan ibu menyusui, keluarga, pemerintah nagari, serta mahasiswa.
Program POSNIFA dirancang untuk memperkuat peran kader posyandu agar tidak hanya menjalankan pelayanan rutin, tetapi juga mampu menjadi pendamping awal bagi ibu nifas dan ibu menyusui.
Melalui program ini, kader mendapatkan pembekalan mengenai air susu ibu (ASI) eksklusif, manfaat ASI bagi ibu dan bayi, teknik menyusui, posisi dan pelekatan bayi, masalah umum menyusui, komunikasi dan konseling, dukungan kepada ibu menyusui, hingga mekanisme rujukan kepada tenaga kesehatan.
Model tersebut dikembangkan dengan memanfaatkan keberadaan posyandu dan jejaring pelayanan kesehatan yang sudah ada di masyarakat. Kader berperan memberikan edukasi dan pendampingan dasar, sementara persoalan yang membutuhkan pemeriksaan atau penanganan profesional tetap diarahkan kepada bidan dan tenaga kesehatan di Puskesmas.
Pengetahuan Peserta Meningkat Signifikan
Salah satu hasil penting dari pelaksanaan kegiatan terlihat dari perubahan pengetahuan peserta. Sebanyak 25 peserta mengikuti pengukuran sebelum dan sesudah kegiatan. Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 7,28 sebelum kegiatan menjadi 9,76 setelah kegiatan, atau mengalami peningkatan sebesar 2,48 poin.
Tidak hanya skor rata-rata, kategori pengetahuan peserta juga mengalami perubahan yang cukup besar. Sebelum kegiatan, peserta dengan kategori pengetahuan baik berjumlah 11 orang atau 44 persen. Setelah mendapatkan edukasi dan penguatan melalui POSNIFA, jumlah tersebut meningkat menjadi 24 orang atau 96 persen.
Sementara itu, peserta dengan pengetahuan kurang yang sebelumnya berjumlah 1 orang atau 4 persen, setelah kegiatan tidak ditemukan lagi. Hasil uji statistik juga menunjukkan peningkatan pengetahuan yang bermakna dengan nilai p < 0,001.
Bukan Sekadar Memberikan Materi
Ketua pelaksana kegiatan, Epi Satria, menjelaskan POSNIFA tidak dirancang hanya sebagai kegiatan penyuluhan. Model ini diarahkan untuk membangun sistem pendampingan yang lebih dekat dengan kehidupan ibu sehari-hari.
.jpeg)
Peserta mengikuti proses pengisian instrumen evaluasi kegiatan POSNIFA. Dok. Istimewa
Kader diharapkan dapat membantu ibu mendapatkan informasi yang benar, mengenali permasalahan awal dalam menyusui, memberikan dukungan, serta menghubungkan ibu dengan tenaga kesehatan apabila diperlukan.
“Dengan demikian, keberadaan kader diharapkan menjadi jembatan antara masyarakat dan pelayanan kesehatan primer,” ujar Epi dalam keterangan tertulis, Senin, 7 September 2026.
Didukung Pemerintah Nagari
Pelaksanaan kegiatan mendapat dukungan dari Pemerintah Nagari Pakandangan. Wali Nagari Pakandangan, Ikram Dasrul, bersama jajaran pemerintah nagari menjadi mitra dalam pelaksanaan program.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah nagari, puskesmas, kader posyandu, ibu nifas, ibu menyusui, dan keluarga menjadi bagian penting dalam membangun keberlanjutan program.
Posyandu sebagai Ruang Konseling ASI
Salah satu gagasan utama POSNIFA adalah menghadirkan ruang konseling ASI di lingkungan posyandu. Dengan pendekatan ini, ibu dapat berdiskusi mengenai pengalaman menyusui dan berbagai hambatan yang mereka hadapi.
Konseling dilakukan dengan prinsip komunikasi yang ramah, tidak menghakimi, serta berpusat pada kebutuhan ibu dan bayi. Pendampingan juga dapat dilanjutkan melalui komunikasi dengan ibu dan keluarga maupun pemantauan di lingkungan tempat tinggal.
Masih Ada Tantangan
Meski pengetahuan peserta meningkat secara signifikan, tim pengabdi mencatat bahwa perubahan sikap membutuhkan waktu yang lebih panjang. Rata-rata skor sikap peserta meningkat dari 32,08 menjadi 32,48, atau naik 0,40 poin. Namun, perubahan tersebut belum menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik dengan nilai p = 0,507.
“Temuan ini menjadi bahan evaluasi bagi tim untuk memperkuat pendampingan pada tahap berikutnya. Program selanjutnya akan lebih menekankan konseling individual, demonstrasi dan praktik teknik menyusui, keterlibatan keluarga, serta pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan,” ujar Epi.
Menuju POSNIFA Berkelanjutan
Tim pengabdi menargetkan POSNIFA tidak berhenti setelah kegiatan pengabdian selesai. Model ini akan diarahkan untuk terintegrasi dengan kegiatan rutin posyandu dan mendapatkan dukungan serta supervisi dari Puskesmas Pakandangan.
Keberlanjutan program mencakup pembinaan kader secara berkala, pendampingan ibu nifas dan menyusui, penggunaan modul dan media edukasi POSNIFA, pencatatan dan monitoring, penguatan sistem rujukan, serta evaluasi program secara berkala.
Dengan pola tersebut, diharapkan posyandu semakin dekat dengan kebutuhan ibu setelah melahirkan. Ibu tidak hanya datang untuk mendapatkan pelayanan, tetapi juga memiliki tempat untuk bertanya, berdiskusi, memperoleh dukungan, dan mendapatkan arahan ketika menghadapi masalah menyusui.
Program POSNIFA menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam membantu masyarakat melalui pendekatan yang sederhana, dekat, dan berbasis pemberdayaan.