Sejumlah survei menunjukkan kandidat Demokrat unggul menjelang pemilu sela AS 3 November 2026. (Anadolu Agency)
Jajak Pendapat Unggulkan Demokrat Jelang Pemilu Sela AS, Akurasi Survei Disorot
Muhammad Reyhansyah • 2 November 2026 09:45
Washington: Partai Demokrat Amerika Serikat (AS) berpeluang meraih hasil positif dalam pemilu sela yang digelar pada Selasa, 3 November 2026.
Namun, sejumlah kekeliruan jajak pendapat dalam pemilu sebelumnya menjadi pengingat bahwa hasil survei belum tentu mencerminkan hasil akhir pemungutan suara.
Sejumlah survei terbaru menunjukkan kandidat Demokrat unggul dalam persaingan memperebutkan lebih dari 218 kursi yang dibutuhkan untuk menguasai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS. Sementara itu, persaingan di sejumlah pemilihan Senat berlangsung ketat, dengan kandidat Demokrat berada dalam posisi imbang atau sedikit lebih unggul.
Survei The New York Times, misalnya, menunjukkan persaingan pemilihan Senat di South Carolina berlangsung imbang. Hasil tersebut menjadi sorotan karena Donald Trump berhasil memenangkan negara bagian itu dengan selisih 18 poin persentase pada pemilihan presiden 2024.
Survei CNN juga menunjukkan kandidat Demokrat unggul di Texas, Kansas, dan Maine. Meski demikian, akurasi jajak pendapat masih menjadi pertanyaan mengingat sejumlah survei dalam pemilu sebelumnya meleset dari hasil akhir.
Tantangan Akurasi Survei
Dalam beberapa pemilu terakhir, jajak pendapat gagal memperkirakan kekuatan dukungan terhadap Trump secara akurat. Trump berhasil mengungguli prediksi survei ketika memenangkan pemilihan presiden pada 2016 dan 2024. Sementara itu, kekalahannya yang tipis pada 2020 terjadi meski sebagian besar survei memperkirakan kemenangan lebih besar bagi kandidat Demokrat Joe Biden.Tantangan serupa juga terlihat dalam pemilihan pendahuluan Demokrat tahun ini. Survei sebelumnya memperkirakan Abdul El-Sayed akan menang dengan selisih dua digit dalam pemilihan pendahuluan Senat Demokrat di Michigan. Namun, hasil akhirnya hanya menunjukkan selisih satu persen.
Di Wisconsin, kandidat gubernur Demokrat yang sebelumnya unggul hampir 20 poin dalam jajak pendapat justru kalah dengan selisih kurang dari satu persen.
Presiden Ipsos Public Affairs, Clifford Young, mengatakan jajak pendapat semakin sulit dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Menurut dia, masyarakat semakin sulit dijangkau karena banyak yang meninggalkan telepon rumah dan menyaring panggilan masuk.
Selain itu, semakin banyak orang yang dihubungi lembaga survei enggan berpartisipasi.
"Pemilih konservatif, terutama mereka yang berada di sayap kanan jauh, secara alami jauh lebih anti-kemapanan. Mereka tidak mau berpartisipasi dalam apa pun. Mereka membenci sistem. Itulah tantangannya," kata Young, dikutip dari BBC, Senin, 2 November 2026.
Kondisi tersebut berpotensi membuat dukungan terhadap Partai Republik tidak terukur secara akurat. Jika pemilih Republik secara sistematis kurang terwakili dalam survei dan lembaga jajak pendapat tidak memperhitungkannya dalam model pemungutan suara, hasil survei dapat terlihat lebih menguntungkan Demokrat.
Salah satu penjelasan mengapa Trump mampu mengungguli prediksi survei dalam pemilu presiden sebelumnya adalah dukungan dari pemilih yang sebelumnya tidak rutin memberikan suara. Jumlah pendukungnya yang datang ke tempat pemungutan suara ternyata lebih besar dari perkiraan.
Dalam persaingan yang ketat, selisih beberapa poin persentase saja dapat menentukan kemenangan atau kekalahan kandidat. Hal ini menjadi penting karena sejumlah persaingan kursi Senat tahun ini masih berada dalam rentang yang tipis.
Faktor Penentu Pemilu Sela
Meski demikian, jajak pendapat pemilu sela dalam beberapa tahun terakhir dinilai lebih akurat. Pada 2022, misalnya, survei memperkirakan Demokrat mampu menghindari kekalahan besar meski tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Joe Biden rendah.Demokrat memang kehilangan kendali DPR AS, tetapi berhasil mempertahankan Senat. Young juga menilai hasil mengejutkan dalam pemilihan pendahuluan tahun ini tidak serta-merta mencerminkan ketidakakuratan survei pemilu umum karena pemilihan pendahuluan cenderung lebih sulit diprediksi.
Di sisi lain, sejumlah faktor dapat membatasi peluang Demokrat. Sebagian besar wilayah yang diperebutkan kali ini sebelumnya dimenangkan Trump dengan mudah pada 2024.
Perubahan batas daerah pemilihan membuat semakin sedikit kursi DPR yang berpindah antar partai, sementara polarisasi politik mengurangi jumlah pemilih yang berpotensi mengubah dukungan. Partai Republik juga memiliki keunggulan dana kampanye dengan ratusan juta dolar untuk membiayai iklan serangan terhadap lawan politik.
Meski demikian, rata-rata jajak pendapat masih menunjukkan peluang Demokrat untuk meraih hasil positif. Rata-rata survei dinilai lebih dapat diandalkan dibandingkan satu survei secara terpisah karena memperhitungkan margin kesalahan dan variasi hasil penelitian.
Namun, Young mengingatkan bahwa hasil pemilu tetap sulit dipastikan karena pemilih dapat mengubah pilihan hingga hari pemungutan suara. Kelompok yang belum menentukan pilihan juga berpotensi memengaruhi hasil akhir.
"Saya pikir kami melakukan pekerjaan yang lebih baik. Namun, sebagian masalah yang selalu kami hadapi bukan hanya berasal dari lembaga jajak pendapat. Kami berhadapan dengan manusia. Manusia tidak mudah diprediksi," ujar Young.
Baca juga: Trump Gunakan Hak Pilih Lebih Awal di Pemilu Sela AS, Dukung Kandidat Republik