Ilustrasi hujan. Foto: Dok. Antara.
BMKG Peringatkan Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah Jateng pada Awal November
Silvana Febiari • 3 November 2026 10:45
Purwokerto: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Tengah (Jateng) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi hujan lebat. Cuaca ekstrem tersebut diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah Jawa Tengah pada awal November 2026.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi (Staklim) Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto mengatakan potensi hujan lebat tersebut tersebar di sejumlah kabupaten dan kota. Periode kejadian berbeda selama dasarian pertama November 2026.
“BMKG juga menetapkan peringatan dini curah hujan tinggi kategori Waspada pada dasarian I November dengan prakiraan curah hujan 150-200 milimeter per dasarian di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, dan Magelang,” kata Goeroeh, dikutip dari Antara, Selasa, 3 November 2026.
Baca Juga :
Berdasarkan Informasi Peringatan Dini Cuaca dan Iklim Dasarian I November 2026 yang dikeluarkan Staklim Jateng, potensi hujan lebat pada 1-3 November mencakup Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Magelang, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, Grobogan, Blora, Rembang, Pati, Kudus, Jepara, Demak, Semarang, Temanggung, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, dan Brebes, serta Kota Magelang, Surakarta, Salatiga, dan Semarang.
Pada periode 4-6 November, potensi hujan lebat mencakup Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Magelang, Boyolali, Klaten, Wonogiri, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Grobogan, Blora, Jepara, Demak, Semarang, Temanggung, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, dan Brebes, serta Kota Magelang dan Surakarta.
Sementara pada 7-10 November, potensi hujan lebat diprakirakan terjadi di Kabupaten Cilacap, Banyumas, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Grobogan, Blora, Rembang, Sragen, Pati, Kudus, Jepara, dan Demak.
Peringatan serupa juga berlaku di Kabupaten Boyolali, Karanganyar, Grobogan, Semarang, Temanggung, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes, Kota Magelang, dan Kota Salatiga.
Menurut Goeroeh, tidak ada wilayah di Jawa Tengah yang masuk kategori Siaga dengan prakiraan curah hujan 200–300 milimeter per dasarian. Begitu pula kategori Awas dengan curah hujan di atas 300 milimeter per dasarian, yang tidak terindikasi di wilayah tersebut.
“Peringatan dini kekeringan meteorologis juga nihil untuk seluruh wilayah Jawa Tengah meskipun berdasarkan pemantauan hingga dasarian III Oktober 2026, sebanyak 54 zona musim atau 100 persen zona musim di Jateng secara keseluruhan masih berada dalam periode musim kemarau,” ungkapnya.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto. ANTARA/HO-BMKG
Sementara dari sisi dinamika iklim global dan regional, BMKG mencatat indeks Indian Ocean Dipole (IOD) bulanan pada dasarian II Oktober 2026 sebesar 0,765 atau berada pada fase positif. Kondisi tersebut diprediksi bertahan hingga akhir 2026.
Selain itu, anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 tercatat sebesar 3,05 yang menunjukkan kondisi El Nino sangat kuat. Fenomena tersebut diprakirakan masih bertahan hingga awal 2027.
Kondisi dinamika iklim global dan regional tersebut menjadi salah satu parameter yang perlu dicermati dalam memantau perkembangan cuaca dan iklim di Jawa Tengah. Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan serta melakukan langkah mitigasi untuk mengantisipasi dampak ikutan cuaca ekstrem, terutama banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.
“Masyarakat juga diminta memantau perkembangan informasi cuaca hingga tingkat kecamatan melalui aplikasi Info BMKG maupun laman resmi BMKG,” ujar Goeroeh.