Wakil Ketua MPR sekaligus Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem Lestari Moerdijat (Rerie). Foto: Istimewa.
Klinik Menulis APN Dorong Perempuan Menggerakkan Perubahan
Anggi Tondi Martaon • 23 October 2026 07:57
Jakarta: Akademi Perempuan NasDem (APN) kembali menyelenggarakan Woman’s Writing Clinic untuk memperkuat kapasitas perempuan dalam menulis opini dan membangun agensi strategis di ruang publik. Pelatihan tersebut bagian dari tekad Partai NasDem untuk menjadi Rumah Bagi Perempuan.
“Kapasitas menulis harus kami pastikan bisa berdampak pada perubahan, yaitu memperbaiki status perempuan di berbagai sektor, sehingga kami lakukan pendampingan,” kata Wakil Ketua MPR sekaligus anggota Majelis Tinggi Partai NasDem Lestari Moerdijat (Rerie) melalui keterangan tertulis, Jumat, 23 Oktober 2026.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penguatan keterampilan menulis tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan tulisan. Kapasitas itu perlu diikuti pendampingan agar perempuan mampu menyuarakan pengalaman dan kepentingannya, memperluas pengaruh gagasan, serta mendorong perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.
Kelas kedua yang berlangsung secara daring ini diikuti 66 peserta melalui Zoom. Kegiatan tersebut diwarnai diskusi aktif, baik selama pelatihan maupun melalui grup WhatsApp (WAG) peserta.
Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT ke-15 Partai NasDem ini mengusung tema Perempuan Menulis, Agensi Strategis. Melalui pelatihan ini, APN mendorong perempuan untuk tidak hanya menjadi bagian dari cerita, tetapi juga memproduksi gagasan, membentuk opini publik, dan ikut menentukan arah perubahan.
Dalam sesi pelatihan, Pemimpin Redaksi Media Indonesia, Abdul Kohar, membagikan tips dan trik menulis opini yang kuat, menarik, dan memiliki daya pengaruh.
Presentasinya mendorong peserta menjadi aktif bertanya dan mendiskusikan berbagai persoalan yang dihadapi calon penulis ketika mengembangkan gagasan menjadi tulisan opini.
Salah satu pesan penting yang disampaikan Kohar yaitu perlunya menghadirkan dimensi kemanusiaan dalam tulisan. “Beri wajah manusia di dalam tulisan karena pesan kemanusiaan akan membuat editorial menjadi kuat,” kata Kohar.
Pesan tersebut mengingatkan bahwa tulisan yang kuat tidak cukup hanya bertumpu pada data dan argumentasi. Pengalaman manusia, cerita konkret, dan dampak suatu persoalan terhadap kehidupan sehari-hari dapat membuat isu yang kompleks lebih mudah dipahami serta membangun keterhubungan dengan pembaca.
Bagi perempuan yang ingin menulis isu sosial dan kebijakan, pendekatan ini penting untuk menghubungkan persoalan struktural dengan pengalaman nyata perempuan dan kelompok masyarakat yang kerap kurang terdengar suaranya.
.jpeg)
APN menggelar kegiatan Woman’s Writing Clinic secara daring. Foto: Istimewa.
Sementara itu, redaktur Medcom.id, Citra Larasati, membahas strategi menulis untuk media daring yang memiliki karakter dan kebutuhan pembaca berbeda dari media cetak. Ia menjelaskan bahwa Medcom.id menargetkan pembaca usia muda. Karena itu, isu-isu serius perlu disampaikan dengan bahasa yang ringan, menarik, dan mudah dipahami tanpa kehilangan substansi.
Kecepatan publikasi juga menjadi tantangan tersendiri bagi media daring. Penulis perlu mampu merumuskan judul yang menarik perhatian pembaca sekaligus mencerminkan isi tulisan.
“Beda dengan media koran yang ruangnya terbatas, media online judul bisa panjang, misalnya, disertai anak judul,” kata Citra.
Penjelasan tersebut memberikan wawasan praktis kepada peserta mengenai pentingnya memahami karakter media yang dituju. Selain menguasai substansi, penulis perlu menyesuaikan gaya penyampaian, pilihan judul, dan struktur tulisan dengan platform serta audiens sasaran.
Dengan demikian, gagasan yang penting tidak berhenti sebagai pemikiran pribadi, tetapi memiliki peluang lebih besar untuk menjangkau publik dan menjadi bagian dari percakapan masyarakat.
Diskusi yang dimoderatori oleh Sekretaris Akademi Perempuan NasDem berlangsung partisipatif. Peserta tidak hanya mengajukan pertanyaan selama sesi Zoom, tetapi juga aktif berbagi tanggapan dan refleksi melalui grup WhatsApp.
Antusiasme tersebut tercermin dari komentar peserta setelah mengikuti pelatihan. Salah seorang peserta, Bimbi menyampaikan bahwa dirinya termotivasi ingin segera menulis.
"Dan segera mengirimkan naskah ke media," kata Bimbi.
Peserta lainnya yaitu Atri menuliskan tanggapannya di grup WhatsApp, “Insight acara ini luar biasa.”
Respons tersebut menunjukkan bahwa pelatihan tidak hanya memberikan pengetahuan teknis, tetapi juga mendorong peserta untuk mulai mengambil langkah konkret: menulis dan mengupayakan agar gagasannya dapat dipublikasikan.
Bagi APN, keberanian untuk mulai menulis merupakan langkah awal membangun agensi strategis perempuan. Ketika perempuan mampu mengartikulasikan pengalaman, pengetahuan, dan pandangannya dalam tulisan yang argumentatif, mereka memiliki sarana untuk memperluas partisipasi dalam diskursus publik.
Perempuan Menulis, Perempuan Memimpin, Perempuan Mengubah Dunia
Melalui Woman’s Writing Clinic, APN ingin membangun ruang belajar yang tidak berhenti pada pelatihan satu kali, melainkan mendorong proses pendampingan dan praktik menulis secara berkelanjutan.Kapasitas menulis menjadi penting karena gagasan yang terdokumentasi dan dipublikasikan dapat menjangkau audiens yang lebih luas, memperkaya perdebatan publik, mengangkat persoalan yang terabaikan, serta berkontribusi dalam memengaruhi agenda dan kebijakan.
Dalam momentum HUT ke-15 Partai NasDem, inisiatif ini menjadi bagian dari upaya mengembangkan peran perempuan sebagai produsen pengetahuan dan penggerak perubahan.
Perempuan menulis, perempuan memimpin, perempuan mengubah dunia!