Ilustrasi. Dok: Metrotvnews.com
Jadi Pahlawan Ekonomi Nasional, Sektor UMKM Berkontribusi Serap 97% Tenaga Kerja
Gervin Nathaniel Purba • 3 November 2026 16:09
Jakarta: Jika dahulu pahlawan dikenal karena perjuangannya membela negara, kini peran tersebut juga dapat ditemukan dalam sosok pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Melalui usaha yang dijalankan, mereka turut menggerakkan perekonomian sekaligus menciptakan banyak lapangan pekerjaan.
UMKM memiliki peran penting dalam menyerap tenaga kerja nasional. Dikutip dari laman Kementerian UMKM, sektor ini menyerap sekitar 119 juta tenaga kerja. Kontribusi tersebut menjadikan UMKM sebagai salah satu penopang utama perekonomian Indonesia.
Pasalnya, UMKM seringkali membuka kesempatan kerja bagi kelompok masyarakat yang kerap menghadapi keterbatasan akses terhadap pekerjaan formal, seperti lulusan baru, tenaga kerja dengan keterampilan terbatas, hingga masyarakat di daerah dengan lapangan kerja yang minim.
Berdasarkan data pemerintah, sektor UMKM menyerap hampir 97 persen tenaga kerja nasional. Sekretaris Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Loto Srinaita Ginting mengatakan kontribusi tersebut menunjukkan besarnya peran UMKM dalam menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
“Kami melihat ternyata UMKM kita itu masih sangat berperan signifikan. Penciptaan lapangan kerja itu 97 persen,” ujar Loto dalam acara Economic Briefing 2026 di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 3 November 2026.
Ia mencontohkan hal tersebut melalui pengalamannya saat mengunjungi pelaku usaha mikro pengolahan ikan bandeng tanpa duri. Menurutnya, usaha tersebut mampu mempekerjakan sekitar 10 hingga 11 warga di lingkungan sekitar setiap hari untuk membantu proses produksi.
“Jadi, saya melihat memang porsi untuk menyerap tenaga kerja itu nyata di lapangan, ini potensial,” kata dia.
Perempuan pahlawan masa kini
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyebut pelaku UMKM perempuan sebagai pahlawan masa kini. Menurutnya, keberanian mereka dalam membangun usaha memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian, meskipun dimulai dengan modal yang terbatas.
“UMKM, apalagi yang mikro, itu lah orang-orang paling berani. Uangnya di tabungan tidak banyak tapi berani mengeluarkan modal untuk usaha, memutar uangnya sehingga ekonomi negara bergerak,” tutur dia, dikutip keterangan tertulis.
Meutya memandang perempuan yang menjalankan UMKM tidak hanya membantu perekonomian keluarga, tetapi juga berkontribusi terhadap perekonomian negara.
“Ibu-ibu ini semua pahlawan karena membantu ekonomi negara, membantu keluarga,” ujar Meutya.
Selain menyerap tenaga kerja, UMKM juga memberikan kontribusi besar terhadap PDB Indonesia. Berdasarkan data dari Kementerian UMKM, sektor ini menyumbang lebih dari 60 persen terhadap PDB atau sekitar Rp9.580 triliun setiap tahunnya.
(UMKM binaan Peruri pada ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Foto: Dok Peruri)
Penggerak ekonomi saat krisis moneter 1998
Peran UMKM sebagai penopang ekonomi nasional juga terlihat ketika Indonesia dilanda krisis moneter pada 1997–1998. Saat itu, sejumlah perusahaan besar mengalami kesulitan keuangan hingga kebangkrutan.
Di tengah kondisi tersebut, UMKM justru dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan aktivitas ekonomi. Sektor ini menjadi salah satu penyangga ketika perusahaan-perusahaan besar menghadapi tekanan akibat krisis.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie mengatakan UMKM memiliki peran vital dalam melewati krisis moneter tersebut.
“Jadi perusahaan-perusahaan besar, termasuk perusahaan kami bisa dibilang technically or physically bankrupt (1997-1998). Saya ingat dulu grup kami itu pada suatu titik kepemilikan keluarga hanya 2,5 persen, semua diambil para kreditur. Tapi yang menjaga semua itu adalah UMKM,” ungkap dia.
Tantangan UMKM di era digital
Meski memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian, pelaku UMKM masih menghadapi sejumlah tantangan. Terutama dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Pemanfaatan media digital sebagai sarana pemasaran menuntut pelaku usaha untuk tidak hanya memperkenalkan produk, tetapi juga memahami karakteristik platform, mengikuti perubahan tren, dan menyesuaikan strategi dengan perilaku konsumen.
Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam artikel ilmiah SIKEMAS, terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi strategi pemasaran UMKM melalui media social (medsos).
Faktor tersebut meliputi perubahan algoritma platform, preferensi konsumen, kualitas informasi produk, kreativitas konten, keaktifan berinteraksi dengan konsumen, hingga persaingan pasar.
Persaingan di pasar digital juga menuntut pelaku UMKM untuk mampu menonjolkan keunikan produknya. Banyaknya usaha yang memanfaatkan platform, seperti Instagram dan TikTok sebagai sarana promosi, mendorong pelaku usaha perlu mengembangkan strategi pemasaran yang sesuai dengan target konsumennya.
Meutya Hafid mendorong pelaku UMKM, khususnya perempuan, untuk mulai memanfaatkan teknologi dalam mengembangkan usaha. Menurutnya, digitalisasi dapat membantu memperluas jangkauan pemasaran sekaligus meningkatkan daya saing produk.
Meutya mengatakan pelaku UMKM dapat memulai pemasaran digital melalui platform sederhana. Misalnya, WhatsApp, medsos, hingga lokapasar. Pemanfaatan berbagai platform tersebut memungkinkan produk menjangkau konsumen yang lebih luas, mulai dari komunitas kecil hingga pasar yang lebih besar.
Di sisi lain, besarnya jumlah usaha mikro juga menjadi pekerjaan rumah dalam pengembangan UMKM. Menurut Loto Ginting, lebih dari 95 persen pelaku UMKM masih berada dalam kategori usaha mikro. Kondisi tersebut membutuhkan perhatian agar semakin banyak UMKM dapat berkembang dan naik kelas.
“Lebih dari 95 persen itu adalah kelas mikro, sehingga mungkin ini yang nanti juga yang berkontribusi terhadap tantangan-tantangan ke depan mengapa UMKM kita ini termasuk yang mungkin perlu penguatan untuk mendorong mereka itu bisa naik kelas,” kata Loto. (Selsha Septifanie Gunawan)