Ilustrasi metrotvnews
Alih Teknologi Dinilai Harus Jadi Bagian Penting Proyek Pemetaan Nasional
Achmad Zulfikar Fazli • 20 November 2025 14:22
Jakarta: Pakar Geospasial dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Ketut Wikantika, menyatakan saat ini adalah waktu yang tepat bagi sumber daya manusia (SDM) Indonesia melaksanakan kegiatan penyediaan data dasar geospasial seluruh wilayah NKRI.
"Karena pengetahuan, keterampilan serta pengalaman yang didapat sudah sangat banyak dan beragam," kata Prof Wikantika saat dihubungi wartawan, Kamis, 20 November 2025.
Hal ini disampaikan Wikantika merespons langkah Badan Informasi Geospasial (BIG) yang melakukan proses tender penyediaan data dasar Geospasial dan Peta Dasar Wilayah seluruh Indonesia.
Jika proyek penyediaan data dasar geospasial dan peta dasar wilayah urban dan non-urban itu nantinya dikerjakan vendor asing, dia menekankan pentingnya keterlibatan SDM Indonesia.
Kolaborasi itu bisa diterapkan dalam konteks teknis dan pengelolaannya, sekaligus melakukan evaluasi dan supervisi terhadap pelaksanaan serta hasil dari proyek itu.
"Biasanya vendor internasional akan bekerja sama dengan mitra lokal atau dengan perguruan tinggi yang dipercaya. Sehingga pemerintah harus memastikan adanya transfer teknologi dari proyek tersebut. Dan, kepastian keamanan datanya juga harus jelas karena di era digital potensi kebocoran data bisa terjadi," ujar dia.
Baca Juga:
Kolaborasi Jadi Strategi Jitu Ciptakan SDM Unggul Demi Indonesia Emas |
Sebelumnya, BIG tengah melakukan proses tender proyek penting dan strategis nasional sejak Juli 2025, yaitu penyediaan data dasar Geospasial dan Peta Dasar Wilayah seluruh Indonesia. Proyek pertama, pengumpulan data spasial wilayah urban yang terdiri dari 4 paket pekerjaan meliputi wilayah Kalimantan- Yogyakarta (lot I); Sumatra (lot 2); Jawa (lot 3); serta Jawa Timur, Bali, Maluku dan Papua (lot 4).
Proyek kedua, yaitu pengumpulan data spasial dan peta wilayah non urban yang terdiri dari 4 Lot. Yakni, Lot 1 Kalimantan, Lot 2 Sumatra, Lot 3 Jawa, Bali , NTB. NTT, Maluku, Papua Barat, Papua Barat Daya, Lot 4 adalah Papua lainnya. Sedangkan, sesudah Lot 4 tidak masuk dalam paket non urban.
Proyek ini merupakan bagian dari paket yang lebih besar dari Integrated Land Administration and Spatial Planning Project (ILASP) dengan kode P180860. Target utamanya, produksi data geospasial skala besar (large-scale) dan base maps untuk wilayah urban dan non-urban.
Proyek ini merupakan bagian dari program pinjaman lunak (soft loan) Bank Dunia. Anggarannya mencapai mencapai USD238 juta atau sekitar Rp4 triliun dengan kurs Rp16.500.