Ilustrasi Anadolu
Serangan Geng Terhadap Pengungsi di Haiti, 40 Orang Dilaporkan Tewas
Fajar Nugraha • 25 August 2026 16:55
Port-au-Prince: Setidaknya 40 orang tewas termasuk beberapa di antaranya dieksekusi, setelah geng-geng menyerang para pengungsi yang berlindung di sebuah gereja dekat Port-au-Prince, ibu kota Haiti.
Banyak orang lainnya terluka dan beberapa masih dinyatakan hilang setelah serangan tersebut, yang terjadi di tengah situasi di mana geng-geng menguasai sebagian besar wilayah ibu kota.
Dalam sebuah pernyataan setelah serangan itu, kantor Perdana Menteri Alix Didier Fils-Aime menyampaikan "rasa duka yang mendalam" bagi keluarga yang ditinggalkan dan para korban lainnya. Pemerintah menyatakan bahwa pasukan tambahan akan dikerahkan untuk memulihkan keamanan di wilayah tersebut.
Serangan itu terjadi pada Minggu 23 Agustus 2026 malam waktu setempat di Kenscoff, sebuah kota pegunungan di perbukitan sebelah tenggara Port-au-Prince yang selama berbulan-bulan menghadapi kekerasan geng dan serangan kelompok bersenjata yang berupaya memperluas wilayah kekuasaan mereka.
Malam penuh teror
Kota tersebut mengalami "malam penuh teror," ujar Wali Kota Massillon Jean."Kami telah menghitung sekitar 40 jenazah. Pencarian masih terus dilakukan. Beberapa orang masih dinyatakan hilang," kata Jean kepada kantor berita Prancis, AFP, pada Senin 24 Agustus 2026.
Salah satu lokasi yang menjadi sasaran adalah tempat penampungan bagi orang-orang yang sebelumnya telah mengungsi akibat kekerasan di tempat lain.
"Para bandit menyerbu kamp pengungsi yang berlokasi di sebuah gereja," ujar Jean.
"Mereka mengeksekusi beberapa orang. Ada korban jiwa dan puluhan orang terluka. Beberapa orang diculik oleh para pelaku kejahatan tersebut,” imbuh Jean.
Para warga masih terguncang saat mereka mencoba memahami peristiwa yang baru saja terjadi.
"Saya tidak tahu bagaimana saya bisa lolos. Saat mendengar suara tembakan, saya mengira itu polisi, ternyata itu para bandit. Kami memanjat tembok, lalu berlari untuk bersembunyi di bawah lembaran seng. Banyak sekali korban tewas,” ujar seorang pria berusia enam puluhan yang berhasil melarikan diri bersama keluarganya kepada awak media.
Keluarga yang tercerai-berai
Sambil terisak dan dikelilingi kelima anaknya, Marlène -,yang kehilangan suami serta saudara laki-lakinya dalam serangan itu,- menceritakan bagaimana orang-orang bersenjata membawa suaminya pergi."Mereka memaksa masuk ke dalam rumah, mendobrak pintu, dan membawa suami saya pergi," ujarnya.
"Para bandit itu membentaknya, 'Jalan, atau kami bunuh kau!'" Namun terlepas dari itu, dia sempat melawan, dan pagi ini, yang bisa saya lakukan hanyalah memandangi jenazahnya. Dia meninggalkan saya dengan lima orang anak, padahal dialah yang selama ini menafkahi kami."
Haiti, negara termiskin di benua Amerika, selama bertahun-tahun didera ketidakstabilan politik kronis, bencana alam, korupsi, serta kekerasan yang dilakukan oleh geng-geng kuat yang bertanggung jawab atas pembunuhan massal, pemerkosaan, penjarahan, dan penculikan. Geng-geng tersebut menguasai sebagian besar wilayah Port-au-Prince.
Data PBB menunjukkan bahwa hampir 1,5 juta warga Haiti mengungsi di negara berpenduduk sekitar 11 juta jiwa ini, sementara lebih dari lima juta orang menghadapi kerawanan pangan yang parah.
Krisis memburuk pada awal tahun 2024 ketika geng-geng melancarkan gelombang kekerasan yang memaksa perdana menteri -.yang menjabat tanpa melalui pemilihan umum,- untuk mengundurkan diri.
Haiti belum menyelenggarakan pemilihan umum sejak tahun 2016. Presiden terakhirnya, Jovenel Moise, dibunuh pada Juli 2021 dan posisinya tidak digantikan. Pemilihan umum dijadwalkan akan digelar pada bulan Desember 2026.