Aktivitas kapal di Selat Hormuz. (Anadolu Agency)
AS Dinilai Salah Ambil Langkah di Selat Hormuz, Iran Diuntungkan
Dimas Chairullah • 18 April 2026 10:46
Jakarta: Amerika Serikat (AS) dinilai menghadapi tekanan strategis setelah merespons eskalasi Iran di Selat Hormuz, yang disebut sebagai bagian dari skenario militer yang telah dipersiapkan Teheran sejak awal konflik.
Pengamat Timur Tengah Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi, menilai Iran secara sengaja mengarahkan konflik agar tidak terjadi di wilayah daratannya, melainkan bergeser ke kawasan perairan strategis.
“Iran berhasil menggeser peta konflik dari wilayah daratan menuju Selat Hormuz dengan cara memblokade dan menguasai selat tersebut,” kata Yon kepada Metrotvnews.com, Jumat, 17 April 2026.
Strategi Terukur vs Respons Reaktif
Menurut Yon, langkah Iran tersebut merupakan strategi yang telah diperhitungkan secara matang, termasuk risiko yang mungkin timbul.Sebaliknya, respons militer AS dinilai cenderung bersifat cepat dan kurang mempertimbangkan dampak jangka panjang.
“Apa yang dilakukan oleh Amerika justru merupakan respons cepat yang tidak menghitung dampak secara luas. Langkah itu justru memperburuk situasi dengan memblokade dari sisi luar,” ujarnya.
Perang Asimetris di Laut Dangkal
Yon menilai pemindahan arena konflik ke wilayah perairan memberikan keuntungan bagi Iran, terutama karena pasukan Garda Revolusi memiliki pengalaman dalam perang asimetris di laut dangkal.Ia menilai asumsi bahwa AS dapat dengan mudah menguasai kawasan tersebut tidak sepenuhnya tepat dalam konteks medan operasional di Selat Hormuz.
Alih-alih memaksa Iran membuka kembali jalur pelayaran, strategi AS dinilai justru meningkatkan tekanan terhadap Washington, baik dari sisi biaya operasi militer maupun dampak terhadap rantai pasok global.
“Alih-alih Iran membuka Selat Hormuz, mereka justru menantang Amerika untuk berperang di laut yang memang sudah dikuasai oleh Garda Revolusi,” kata Yon.
Baca juga: Iran Ancam Tutup Lagi Selat Hormuz jika Blokade Laut AS Terus Berlanjut