Rachmat Gobel. Foto: dok MI.
Ketika AI Berkembang, Pohon Pisang Gobel Tak Kehilangan Akar
Ade Hapsari Lestarini • 13 July 2026 13:24
Jakarta: Kecerdasan buatan mulai mengambil alih banyak pekerjaan dalam beberapa tahun terakhir. Pabrik menjadi semakin otomatis. Robot mampu merakit kendaraan, menyusun logistik, bahkan membantu membuat keputusan bisnis. Dunia berubah dalam hitungan bulan, bukan lagi puluhan tahun.
Di tengah perlombaan teknologi itu, muncul sebuah pertanyaan sederhana: apakah nilai-nilai lama masih memiliki tempat di era kecerdasan buatan? Jawabannya mungkin bukan berada di Silicon Valley, melainkan di balik sebatang pohon pisang.
'Mata Elang' Thayeb Gobel melirik peluang bisnis
Ketika sebagian besar masyarakat Indonesia masih mengimpor perangkat elektronik, Thayeb Gobel justru memilih jalan yang lebih sulit: membangunnya sendiri. Filosofi itulah yang hingga kini menjadi fondasi perjalanan Gobel Group.
Bagi Gobel Group, pohon pisang bukan sekadar tanaman tropis. Sejak masa Thayeb Mohammad Gobel, pohon pisang menjadi simbol tentang bagaimana sebuah perusahaan seharusnya hidup: memberi manfaat bagi banyak orang, melahirkan generasi penerus, dan tetap berguna bahkan ketika zamannya berubah.
Mengutip laman Gobel Group, filosofi pohon pisang Gobel Group melambangkan kebersamaan, rela berkorban, semangat melayani umat manusia, dan perlunya mempersiapkan generasi penerus. Filosofi ini telah dijalin ke dalam entitas bisnis Gobel Group. Dalam pandangan Gobel, laba bukanlah tujuan akhir, melainkan ukuran seberapa baik perusahaan memberikan manfaat melalui produk dan layanan yang dihasilkan.
Filososi tersebut kemudian menjadi bagian dari cara Gobel Group menjalankan bisnisnya, yang berusaha untuk menyediakan lapangan kerja, melindungi lingkungan, memenuhi kewajiban mereka kepada pemerintah dan berguna bagi masyarakat.
Membangun industri dari nol
Pada masa awal kemerdekaan, industri elektronik nasional praktis belum terbentuk. Thayeb Gobel melihat peluang itu. Dia tidak hanya melihat peluang untuk menjual produk, tetapi juga membangun fondasi industri elektronik nasional. Pada 1954, dengan semangat Nasionalisme untuk memperkuat komunikasi di Indonesia, ia mendirikan PT Transistor Radio Mfg. Perusahaan ini mempelopori produksi radio transistor bernama Tjawang.
Perlahan, bisnis Thayeb Gobel berkembang. Pada 1962, perusahaan memproduksi televisi hitam-putih pertama di Indonesia, sehingga masyarakat dapat menyaksikan Asian Games IV-1962 Jakarta. Unit televisi pertama bahkan diserahkan kepada Ibu Negara Indonesia Fatmawati Soekarno.
Gobel tidak berhenti di elektronik rumah tangga, pabrik Tjawang juga merakit kendaraan roda tiga BEMO untuk angkutan umum serta traktor guna mendukung mekanisasi pertanian.
Perkembangan bisnis berlanjut ketiga pada 1970 Gobel menandatangani kerja sama perusahaan patungan dengan Matsushita Electric Industrial Co., Ltd. (MEI Co., Ltd.) untuk mendirikan PT National Gobel (PT Panasonic Manufacturing Indonesia).
Dari sana, Gobel memperluas usaha ke perdagangan, logistik, jasa, katering, pendidikan, hingga membangun perusahaan patungan di bidang perlakuan permukaan logam bersama Nihon Parkerizin.

Rachmat ?Gobel. Foto: dok MI.
Era Rachmat Gobel
Setelah Thayeb Mohammad Gobel wafat pada 1984, Rachmat Gobel mulai aktif menggantikan peran ayahnya dalam grup usaha. Kepemimpinan itu kemudian berkembang ketika ia memimpin Matsushita Gobel Group pada 1993.
Di bawah Rachmat Gobel, bisnis terus bertumbuh. Dia juga aktif mendorong pembinaan koperasi dan UKM serta berkontribusi dalam penyediaan sistem pencahayaan di Gelora Bung Karno untuk Asian Games 2018.
Perubahan zaman membuat Rachmat Gobel menaruh perhatian besar pada globalisasi dan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurut dia, Indonesia harus lebih sigap menghadapi dampak geopolitik, geoekonomi, dan lahirnya teknologi baru.
"Dalam era globalisasi, adanya geopolitik dan geoekonomi memberikan dampak pada ekonomi kita. Adanya teknologi-teknologi, ini harus pasti semuanya kita antisipasi," ujar Rachmat Gobel, dalam sebuah diskusi di Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur, Senin, 25 Agustus 2025 lalu.
Ia juga menyoroti otomatisasi industri. Menurut dia, otomatisasi adalah keniscayaan dalam perkembangan teknologi. Di pabrik, otomatisasi digunakan untuk meningkatkan keselamatan kerja, tetapi penerapannya harus dilakukan secara bijak agar tidak menghilangkan kesempatan kerja.
Bagi Rachmat Gobel, kunci menghadapi perubahan tetap berada pada pembangunan sumber daya manusia. Pendidikan, menurut dia, tidak cukup hanya menghasilkan ijazah, tetapi harus melahirkan keterampilan dan keahlian yang dapat langsung diterapkan di dunia kerja.
Ia melihat pembangunan SDM Indonesia memiliki potensi besar, termasuk dalam memanfaatkan peluang kerja di luar negeri. Karena itu, pemerintah perlu jeli memastikan pengiriman tenaga kerja Indonesia tidak sekadar memenuhi kebutuhan pasar, tetapi juga menjadi jalan peningkatan kualitas dan kesejahteraan pekerja.
Pohon pisang tidak pernah menikmati buahnya sendiri. Dia menumbuhkan kehidupan bagi yang lain. Barangkali di situlah letak warisan terbesar Gobel. Bukan pada radio pertama. Bukan pada televisi pertama. Bukan pula pada pabrik-pabrik yang dibangunnya. Melainkan pada keyakinan bahwa perusahaan yang baik bukan hanya menciptakan produk, tetapi juga menciptakan manusia. Di tengah dunia yang semakin dipenuhi kecerdasan buatan, warisan seperti itulah yang justru paling dibutuhkan Indonesia.