Houthi Klaim Tenggelamkan Kapal Militer Arab Saudi dalam Serangan Drone

Kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah menyerang sejumlah kapal perang dan depot senjata Arab saudi. Foto: Anadolu

Houthi Klaim Tenggelamkan Kapal Militer Arab Saudi dalam Serangan Drone

18 August 2026 10:37

Sanaa: Kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah menyerang sejumlah kapal perang dan depot senjata milik Arab Saudi dalam serangkaian serangan rudal dan drone, Senin, 17 Agustus 2026. 

Juru Bicara Houthi Yahya Saree mengatakan pasukannya menargetkan sebuah kapal angkut amfibi Saudi dan sejumlah kapal perang yang mengawalnya menggunakan beberapa rudal balistik dalam serangan udara.

“Serangan tersebut dilakukan secara presisi dan menyebabkan beberapa kapal yang menjadi sasaran tenggelam, sementara kapal lainnya terbakar,” kata Saree, dikutip dari Anadolu.

Houthi juga mengklaim menyerang depot senjata Saudi di Kamp Sahn al-Jin, Provinsi Marib, Yaman tengah-timur, menggunakan sejumlah drone.

Klaim tersebut belum dikonfirmasi oleh pemerintah Saudi.

Sementara itu, situs berita independen Al-Masdar Online melaporkan sebuah kapal sipil milik kontraktor asal Yaman juga terkena serangan empat rudal di Pelabuhan Al-Ardi, kawasan Bab al-Mandab, pada Senin pagi.

Menurut sumber yang dikutip media tersebut, kapal bernama Amir Khan itu sedang menjalani perawatan dan tidak membawa muatan komersial ketika diserang. Seluruh awak kapal yang berkewarganegaraan Yaman juga telah meninggalkan kapal sejak pekan sebelumnya sehingga tidak ada korban jiwa.

Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan parah pada kapal dan area dermaga hingga membuat kapal hampir tidak dapat beroperasi.

Houthi menguasai sebagian besar wilayah Yaman, termasuk ibu kota Sanaa, sejak 2014. Konflik kemudian berkembang menjadi perang antara Houthi dan pemerintah Yaman yang didukung koalisi pimpinan Arab Saudi.

Sejak perang Israel-Hamas pecah pada 2023, Houthi juga melancarkan serangkaian serangan rudal terhadap Israel dan kapal komersial yang mereka kaitkan dengan Israel di Laut Merah.

Peningkatan kembali konflik tersebut, ditambah ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, memunculkan kekhawatiran bahwa Yaman dapat kembali terjerumus ke dalam perang berskala besar.