Septriana Tangkary dikukuhkan sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Mighrul Lappung DKI Jakarta. Foto: dok Mighrul Lampung.
Perempuan Lampung Didorong Perkuat Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya
Ade Hapsari Lestarini • 8 August 2026 08:36
Jakarta: Perempuan Lampung didorong tidak hanya berperan dalam melestarikan budaya daerah, tetapi juga mengembangkan nilai ekonomi dari kekayaan budaya melalui sektor ekonomi kreatif. Potensi tersebut dapat dikembangkan melalui inovasi, penguatan kapasitas, serta pengembangan produk dan karya berbasis budaya.
Dorongan tersebut mengemuka dalam pengukuhan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Mighrul Lappung Bersatu DKI Jakarta periode 2026-2031. Dalam kesempatan tersebut, Septriana Tangkary (Gelar Maharani) dikukuhkan sebagai Ketua DPW Mighrul Lappung Bersatu DKI Jakarta.
Septriana menilai perempuan memiliki posisi penting dalam menjaga sekaligus mengembangkan warisan budaya Lampung. Kekayaan tersebut tidak hanya mencakup adat istiadat dan bahasa, tetapi juga seni, kerajinan, wastra, kuliner, hingga berbagai tradisi yang berpotensi dikembangkan menjadi bagian dari ekonomi kreatif.
“Kita memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur. Kekayaan budaya Lampung sangatlah luar biasa, mulai dari adat istiadat, bahasa, tari, musik tradisional, hingga kuliner khas seperti seruit, bebay maghring, sekubal, yang menjadi identitas daerah Lampung,” ujar Septriana dalam acara pengukuhan di Manggala Wanabakti, Jakarta, dikutip dalam keterangan tertulis, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Menurutnya, pelestarian budaya perlu berjalan beriringan dengan pengembangan kapasitas masyarakat agar warisan budaya tetap relevan di tengah perubahan zaman. Perempuan Lampung di perantauan juga dinilai memiliki ruang untuk berkontribusi melalui berbagai kegiatan sosial, budaya, ekonomi, maupun inovasi kreatif.
Mighrul Lappung Bersatu merupakan wadah bagi perempuan Lampung yang memiliki garis keturunan Lampung dari pihak ayah. Organisasi tersebut menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, memperkuat persaudaraan, serta mendorong perempuan Lampung untuk berkarya dan memberikan manfaat di tengah masyarakat.


Potensi mengembangkan ekonomi kreatif
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Mighrul Lappung Bersatu, Dwita Ria Gunadi (Gelar Ibuan Mego), mengatakan penguatan kapasitas perempuan dan generasi muda penting agar budaya Lampung tidak berhenti sebagai warisan, tetapi dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kami berharap anak-anak Lampung tidak kehilangan jati diri, karena sejatinya tugas Mighrul Lampung adalah untuk menyatukan persatuan dan persaudaraan dan mewariskan adat budaya bagi generasi muda,” ujar Dwita.
Mighrul Lappung Bersatu berdiri pada 25 Oktober 2023 dan pada 2025 telah membentuk DPW di 15 kabupaten/kota. Organisasi tersebut kemudian memperluas keberadaannya ke DKI Jakarta.
Upaya menjaga budaya dilakukan melalui sejumlah program, salah satunya warisan bahasa dan aksara yang bekerja sama dengan Universitas Lampung. Pelestarian bahasa dan wastra Lampung juga didorong melalui penerapan Instruksi Gubernur Lampung Nomor 4 Tahun 2025 mengenai Hari Kamis Beradat.
Di sisi lain, potensi budaya Lampung dinilai dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif. Produk wastra, kerajinan, kuliner, seni pertunjukan, hingga berbagai karya kreatif berbasis tradisi dapat menjadi ruang bagi perempuan untuk berkarya sekaligus menciptakan nilai ekonomi.
Pengembangan tersebut juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya Lampung kepada masyarakat yang lebih luas, termasuk generasi muda dan pasar di luar daerah.
Septriana mengatakan perempuan Lampung perlu terus memperkuat kapasitas dan mengambil peran dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi dan inovasi kreatif.
“Melalui Mighrul Lampung, saya berharap kita semua dapat terus bersinergi dalam memperkenalkan, melestarikan, dan mengembangkan budaya Lampung kepada generasi muda maupun masyarakat luas nasional maupun internasional,” tuturnya.
Penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya tersebut diharapkan dapat berjalan seiring dengan pelestarian identitas Lampung. Dengan demikian, budaya tidak hanya dipertahankan sebagai warisan leluhur, tetapi juga dapat menjadi sumber kreativitas, pemberdayaan, dan peluang ekonomi bagi masyarakat.
Upaya tersebut sekaligus diharapkan menjaga lima falsafah Lampung, yakni Pi'il Pesenggiri yang bermakna menjaga kehormatan, Bejuluk Beadek atau hak gelar adat, Nemui Nyimah yang mencerminkan keramahan, Nengah Nyappur yang berarti bergaul dan bersahabat, serta Sakai Sembayan yang mengedepankan semangat gotong royong.