Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyed Mojtaba Khamenei. Foto: SAMA
Presiden Iran Akui Komunikasi dengan Mojtaba Khamenei Sangat Sulit
Muhammad Reyhansyah • 6 August 2026 12:51
Teheran: Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengakui komunikasi dengan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei saat ini "sangat sulit", namun menegaskan kehadiran Khamenei tetap menjadi sumber kekuatan utama bagi negara tersebut.
Dalam wawancara yang disiarkan televisi pemerintah Iran untuk memperingati dua tahun pelantikannya sebagai presiden, Pezeshkian mengatakan semakin terbuka para pejabat menyampaikan persoalan kepada pemimpin tertinggi, semakin mudah pula tercapai kesepahaman.
Ia menggambarkan Khamenei sebagai sosok yang "luar biasa" dan mengaku terkesan dengan etika, kerendahan hati, serta cara berpikirnya.
“Ada pihak-pihak yang berusaha menciptakan perpecahan di dalam negeri dengan memanfaatkan pesan Khamenei mengenai nota kesepahaman (MoU) antara Iran dan Amerika Serikat,” ujar Pezeshkian, dikutip dari TRT World, Kamis, 6 Agustus 2026.
MoU 14 poin tersebut ditandatangani pada 17 Juni 2026 oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pezeshkian untuk meresmikan gencatan senjata, mencabut blokade laut, serta mengakhiri operasi militer aktif.
Khamenei akhirnya mendukung nota kesepahaman tersebut meski sebelumnya sempat memiliki sejumlah keberatan.
Pezeshkian Sebut Iran Hadapi Tekanan Berat
Pezeshkian mengatakan para musuh Iran terus meningkatkan tekanan melalui sanksi dan konfrontasi militer dengan tujuan memicu ketidakpuasan publik serta mendorong aksi protes.Menurutnya, situasi yang dihadapi Iran saat ini merupakan yang paling sulit sejak Revolusi Islam 1979.
Mojtaba Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi Iran pada 8 Maret setelah ayahnya, Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada 28 Februari.
Pergantian kepemimpinan itu terjadi ketika Iran terlibat konfrontasi militer langsung dengan Amerika Serikat.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.
Amerika Serikat dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata pada April sebelum menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada Juni untuk mengakhiri konflik dan membuka jalan menuju perjanjian damai jangka panjang.
Namun, kesepakatan tersebut runtuh bulan lalu setelah kedua negara kembali saling melancarkan serangan selama hampir dua pekan, sebelum Presiden Donald Trump menghentikan operasi pengeboman di tengah laporan mengenai upaya baru untuk melanjutkan perundingan.