Wapres AS Jd Vance bersama PM Pakistan Shehbaz Sharif. Foto: The New York Times
Perundingan AS-Iran di Swiss Dipastikan Belum Berakhir
Fajar Nugraha • 22 June 2026 11:59
Burgenstock: Peluang untuk melanjutkan kembali perundingan yang tertunda antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Swiss dinilai sangat kecil, namun proses diplomasi tersebut dipastikan belum berakhir.
Seorang sumber dari Pakistan yang dekat dengan proses mediasi mengungkapkan bahwa faktor waktu yang sudah larut dan kondisi fisik para delegasi menjadi alasan utama kecilnya peluang kelanjutan dialog pada Minggu.
"Ini sudah sangat larut sekarang, dan semua orang lelah. Oleh karena itu, ada sangat sedikit peluang untuk melanjutkan putaran kedua pembicaraan hari ini," ujar sumber tersebut, seperti dikutip Anadolu, pada Senin, 22 Juni 2026.
Kendati demikian, sumber tersebut menegaskan bahwa proses negosiasi tidak berhenti di tengah jalan, meskipun ia belum merinci kapan putaran kedua akan resmi digelar.
"Tapi ini belum berakhir," tegasnya.
Hingga pukul 19.30, agenda perundingan putaran kedua dilaporkan memang belum kunjung dimulai oleh kedua belah pihak. Sejumlah media nasional Iran melaporkan bahwa pihak Teheran sengaja menolak untuk melanjutkan perundingan putaran kedua.
Langkah boikot ini diambil sebagai bentuk protes keras terhadap unggahan terbaru Presiden AS Donald Trump di media sosial, yang mendesak Iran untuk segera menghentikan aksi kelompok proksinya di Lebanon atau menghadapi serangan balik yang sangat keras dari Washington.
Seorang sumber sebelumnya menyampaikan kepada Anadolu, bahwa jajaran pejabat dari Pakistan dan Qatar terus menjalin komunikasi intensif dengan tim negosiator Iran guna membujuk mereka agar bersedia kembali ke meja perundingan.
Sebelumnya, delegasi AS dan Iran yang dipimpin langsung oleh juru runding utama masing-masing, Wakil Presiden JD Vance dan Bagher Ghalibaf, telah merampungkan perundingan putaran pertama selama 100 menit di Burgenstock, Swiss. Pertemuan tatap muka yang telah lama dinantikan tersebut digelar khusus untuk membahas mekanisme implementasi dari Nota Kesepahaman Islamabad yang ditandatangani pada 17 Juni lalu.
(Kelvin Yurcel)