Pesanan Golok Meroket, Perajin Kampung Pandai Besi di Bandung Kebanjiran Berkah

Sejumlah golok terpajang pada salah satu kios pandai besi di Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. ANTARA/Ilham Nugraha.

Pesanan Golok Meroket, Perajin Kampung Pandai Besi di Bandung Kebanjiran Berkah

Whisnu Mardiansyah • 27 May 2026 14:26

Bandung: Bunyi palu yang berdentang nyaris tanpa putus terdengar dari sebuah bengkel sederhana yang terletak di Desa Mekarmaju, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Nyala api dari tungku membakar terang sejak pagi, sementara para pekerja tampak sibuk membentuk besi panas menjadi bilah-bilah golok yang kelak akan dikirim ke berbagai wilayah.

Pada momen Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, kawasan yang dijuluki Kampung Pandai Besi ini tampak lebih hidup dibandingkan hari-hari biasanya. Lonjakan kebutuhan golok untuk keperluan pemotongan hewan kurban membawa rezeki berlimpah bagi para pengrajin di daerah tersebut.

Di Saung Bilah, salah satu toko golok yang cukup kondang di kawasan itu, rak pajangan tampak lebih kosong dari biasanya. Sejumlah varian golok bahkan ludes diserbu pembeli sebelum sempat lama terpajang.

Pemilik Saung Bilah, Pepen Yohana, 36, mengungkapkan peningkatan permintaan sudah mulai terasa sejak satu bulan menjelang Iduladha. Namun dalam beberapa pekan terakhir, order datang bertubi-tubi hingga mencapai ribuan bilah.

"Momentum seperti Iduladha setiap tahun selalu ramai. Kalau istilah petani, ini ibarat musim panen," ujar Pepen di Bandung, seperti dilansir Antara, Selasa, 26 Mei 2026.

Menurut Pepen, tingginya volume pesanan tidak hanya berasal dari warga sekitar Bandung, tetapi juga dari pedagang besar dan pengepul luar daerah yang membeli dalam jumlah besar untuk dijual kembali.

"Ada kalanya pembeli mengambil 100 buah, bahkan hingga 1.000 buah," ujarnya.
 


Meningkatnya permintaan golok menjadi tanda menggeliatnya aktivitas ekonomi warga menjelang Iduladha. Tradisi kurban yang berlangsung setiap tahun ikut menggerakkan berbagai usaha kecil dan menengah, termasuk sektor kerajinan tradisional seperti pandai besi.

Di Kampung Pandai Besi, peningkatan produksi otomatis membuat perekonomian lokal ikut berputar lebih cepat. Bukan hanya pemilik toko yang menikmati keuntungan, tetapi juga para pekerja tempa, pengrajin gagang golok, pemasok kayu, penjual arang, hingga jasa pengiriman barang.

Asep, 45, seorang perajin golok yang telah puluhan tahun berkecimpung di kampung tersebut, mengaku jam kerja para pekerja kini bertambah dibandingkan hari biasa demi mengejar target pesanan.

"Kalau menjelang Iduladha memang paling sibuk. Kadang kerja hingga malam hari," kata Asep sambil menghaluskan bilah golok menggunakan gerinda, Rabu, 27 Mei 2026.

Menurut Asep, kondisi tersebut memberikan tambahan penghasilan bagi para pekerja harian. Dalam satu musim Iduladha, pendapatan mereka bisa melonjak cukup signifikan dibandingkan bulan-bulan biasa.

Situasi serupa juga dirasakan oleh sejumlah pelaku usaha lain di sekitar sentra pandai besi. Warung makan, toko kelontong, hingga penjual bahan baku ikut merasakan dampak dari membludaknya aktivitas produksi di kawasan tersebut.


Ilustrasi sapi Medcom.id

Bagi warga setempat, Iduladha bukan hanya sekadar momentum ibadah, tetapi juga penggerak ekonomi musiman yang mampu menjaga roda usaha tetap berputar. Tingginya permintaan golok tahun ini juga menunjukkan daya beli masyarakat yang masih cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan pelaksanaan kurban.

Pepen menyebutkan bahwa jenis golok yang paling banyak diburu adalah golok sembelih, golok pengupas kulit, dan golok pencacah daging. Ketiga jenis itu menjadi peralatan utama dalam proses penyembelihan hingga pengolahan daging kurban.

Meningkatnya aktivitas kurban di Kabupaten Bandung juga tercermin dari proyeksi jumlah hewan kurban tahun ini. Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Bandung memprediksi jumlah hewan kurban yang disembelih pada Iduladha 1447 Hijriah mengalami kenaikan sekitar 10 hingga 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Apabila pada tahun lalu jumlah hewan kurban tercatat sekitar 27.153 ekor, maka tahun ini diperkirakan akan meningkat menjadi sekitar 29.868 hingga 31.231 ekor. Kepala Distan Kabupaten Bandung, Ina Dewi Kania, menyampaikan bahwa peningkatan tersebut sejalan dengan tren kebutuhan masyarakat menjelang Iduladha.

"Kalau kita lihat dari tren tahun-tahun sebelumnya, kami perkirakan memang akan terjadi kenaikan jumlah kurban sekitar 10 hingga 15 persen pada tahun ini," kata Ina di Bandung, Rabu, 27 Mei 2026.

Untuk memastikan hewan kurban dalam kondisi sehat dan layak dikonsumsi, Distan Kabupaten Bandung mengerahkan 66 tenaga medis dan paramedis guna melakukan pemeriksaan kesehatan hewan di berbagai titik penjualan.

Di tengah membludaknya aktivitas ekonomi kurban, para perajin golok di Kampung Pandai Besi tetap mempertahankan proses produksi secara tradisional. Seluruh golok dibuat secara manual dengan mengandalkan tenaga manusia tanpa bantuan mesin cetak, demi menjaga kualitas dan ketajaman bilah.

"Kalau manual, mutunya lebih terjamin," kata Pepen.

Harga golok yang dijual pun cukup beragam. Untuk jenis standar, harga dipatok mulai dari Rp10 ribu hingga puluhan ribu rupiah. Sementara itu, produk premium dan pesanan khusus bisa mencapai harga jutaan rupiah, tergantung pada bahan baku serta tingkat kerumitan pengerjaannya.

Menurut Pepen, peningkatan penjualan menjelang Iduladha selalu menjadi penopang utama keberlangsungan usaha para perajin setiap tahunnya. Pada hari-hari biasa, penjualan hanya mencapai ratusan bilah. Namun saat musim kurban tiba, jumlah permintaan bisa meningkat berkali-kali lipat.

Di tengah persaingan dengan produk pabrikan modern, Kampung Pandai Besi masih mampu mempertahankan pasarnya karena kualitas golok tradisional yang dinilai lebih kokoh dan awet. Aktivitas para perajin di kampung tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa sektor ekonomi berbasis tradisi masih memiliki ruang untuk tumbuh di tengah perubahan zaman.

Menjelang sore, suara palu dari bengkel-bengkel pandai besi masih terus terdengar. Para pekerja berpacu menyelesaikan pesanan sebelum Hari Raya Kurban tiba. Di balik bara api tungku dan bilah besi yang ditempa berulang kali, tersimpan denyut ekonomi masyarakat kecil yang ikut bergerak oleh tradisi kurban tahunan.

(Whisnu M)