Harga Emas Menguat di Tengah Pelemahan Minyak dan Dolar AS

Ilustrasi. Foto: Unplash

Harga Emas Menguat di Tengah Pelemahan Minyak dan Dolar AS

Eko Nordiansyah • 3 August 2026 08:55

Chicago: Harga emas dunia menguat pada perdagangan Senin, 3 Agustus 2026, didukung pelemahan harga minyak dan dolar Amerika Serikat (AS) yang meningkatkan daya tarik logam mulia di tengah meredanya kekhawatiran inflasi.

Mengutip Investing, harga emas spot (XAU/USD) naik 0,3 persen menjadi USD4.053,37 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas menguat 0,1 persen ke USD4.108,70 per ons.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak (XAG/USD) naik 0,8 persen menjadi USD58,09 per ons, sedangkan platinum (XPT/USD) menguat 0,4 persen menjadi USD1.652,60 per ons.

Pelemahan harga minyak dorong emas

Penguatan harga emas terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran dan sejumlah negara di Timur Tengah meminta tambahan waktu untuk menyelesaikan kesepakatan yang diharapkan dapat membuka kembali Selat Hormuz.
(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Pernyataan tersebut memicu penurunan harga minyak lebih dari USD5 per barel pada awal perdagangan Asia. Pelemahan harga energi dinilai dapat meredakan tekanan inflasi sehingga mengurangi kekhawatiran pasar terhadap kenaikan biaya energi.

Di sisi lain, indeks dolar AS turun di bawah level 100. Pelemahan mata uang Negeri Paman Sam membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih murah bagi investor global sehingga turut menopang permintaan.

Pasar tunggu sinyal The Fed

Meski menguat, pergerakan harga emas masih dibayangi ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Sejumlah pejabat bank sentral AS pekan lalu kembali menegaskan inflasi masih berada di atas target sehingga kenaikan suku bunga dinilai masih diperlukan untuk menjaga kredibilitas kebijakan moneter.

Suku bunga yang lebih tinggi umumnya mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.

Pekan ini, perhatian investor akan tertuju pada sejumlah data ketenagakerjaan AS, termasuk data lowongan kerja JOLTS, laporan tenaga kerja swasta ADP, klaim tunjangan pengangguran mingguan, dan data nonfarm payrolls yang akan dirilis pada Jumat. Data tersebut akan menjadi acuan pasar dalam memperkirakan langkah The Fed selanjutnya.

(Eko Nordiansyah)