MotoGP Mandalika Beri Dampak Ekonomi Hampir Rp5 Triliun

Pertemuan koordinasi yang membahas keberlanjutan penyelenggaraan MotoGP di Indonesia. Foto: dok InJourney.

MotoGP Mandalika Beri Dampak Ekonomi Hampir Rp5 Triliun

Husen Miftahudin • 9 October 2026 06:45

Jakarta: Penyelenggaraan MotoGP di Pertamina Mandalika International Circuit, Nusa Tenggara Barat (NTB), memberikan dampak ekonomi yang semakin luas. Dampak ekonomi dari gelaran MotoGP Mandalika diperkirakan mencapai hampir Rp5 triliun, dengan melibatkan ribuan tenaga kerja lokal dan ratusan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney bersama Badan Pengelola BUMN, Danantara Indonesia, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Keuangan, serta MotoGP Sports Entertainment Group, memperkuat sinergi untuk menjaga keberlanjutan penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026.

Adapun MotoGP Mandalika 2026 berlangsung pada 9-11 Oktober 2026. Penyelenggaraan MotoGP di Mandalika yang diperkirakan memberikan dampak ekonomi hampir Rp5 triliun itu sendiri melibatkan hingga 3.000 tenaga kerja lokal dan sekitar 600 UMKM. Dampak tersebut dirasakan di berbagai sektor, mulai dari akomodasi, kuliner, transportasi, perdagangan hingga sektor pariwisata lainnya.

Chief Operating Officer Danantara Indonesia Dony Oskaria mengatakan penyelenggaraan MotoGP selama lima tahun terakhir telah memberikan pengaruh signifikan terhadap perkembangan ekosistem pariwisata di NTB.

"Setelah lima tahun, kami melihat MotoGP memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan pariwisata di NTB. Trafik menuju Mandalika terus berkembang, diikuti pertumbuhan hotel, restoran, penerbangan, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya. Ini menunjukkan bahwa sebuah event internasional dapat menjadi katalis yang mendorong pertumbuhan ekosistem secara lebih luas," ujar Dony dikutip dari keterangan tertulis, Jumat, 9 Oktober 2026.

Diketahui, Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 menjadi tahun kelima penyelenggaraan MotoGP di Mandalika sejak 2022. Animo masyarakat terhadap ajang tersebut juga menunjukkan tren peningkatan.

Jumlah penonton pada 2023 tercatat 102.929 orang. Angka tersebut meningkat menjadi 121.252 orang pada 2024 dan kembali mencatat rekor 140.324 penonton pada 2025. Peningkatan jumlah penonton tersebut memperkuat posisi Mandalika sebagai destinasi sport tourism sekaligus meningkatkan potensi aktivitas ekonomi di sekitar kawasan.

Deputy CEO MotoGP Sports Entertainment Group Carlos Ezpeleta menilai Indonesia memiliki posisi strategis bagi perkembangan MotoGP di kawasan Asia. Besarnya basis penggemar dan antusiasme masyarakat Indonesia menjadi salah satu kekuatan utama dalam keberlanjutan penyelenggaraan MotoGP di Tanah Air.

"Indonesia merupakan pasar yang sangat penting bagi MotoGP. Besarnya antusiasme penggemar, termasuk tingginya penjualan tiket, menunjukkan bahwa Indonesia memiliki basis penggemar yang kuat. Kami melihat potensi yang besar untuk terus mengembangkan MotoGP di Indonesia, tidak hanya dari sisi olahraga, tetapi juga dari sisi ekonomi dan pariwisata," ujar Carlos.
 

 

Konektivitas dan hunian akomodasi meningkat


Dampak penyelenggaraan MotoGP juga terlihat dari meningkatnya kebutuhan konektivitas menuju NTB. Berdasarkan data InJourney Airports, terdapat 66 penerbangan tambahan di Bandara Internasional Lombok untuk mendukung peningkatan kapasitas kursi angkutan udara selama periode Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026.

Tambahan tersebut terdiri atas 48 penerbangan tambahan, 11 penerbangan sewa (charter), empat penerbangan dengan penggantian pesawat menggunakan pesawat berukuran lebih besar, serta tiga positioning flight. Tingkat hunian akomodasi di sekitar Mandalika juga telah mendekati 100 persen menjelang penyelenggaraan MotoGP 2026.

Direktur Utama InJourney Maya Watono mengatakan MotoGP Mandalika tidak hanya berorientasi pada penyelenggaraan balapan, tetapi juga diarahkan untuk memberikan dampak jangka panjang bagi destinasi dan perekonomian lokal.

"MotoGP Mandalika bukan sekadar tiga hari balapan, namun lebih dari itu, yang kita bangun adalah legacy untuk Indonesia dan event ini menjadi katalis untuk mengembangkan destinasi, memperkuat konektivitas, menggerakkan ekonomi lokal, sekaligus membawa Indonesia dan Mandalika ke panggung global. Karena itu, keberlanjutan MotoGP membutuhkan gotong royong lintas kementerian, lembaga, BUMN, pemerintah daerah, dan seluruh stakeholders," tegas Maya.

7 Alasan Mandalika Dipilih Jadi Tuan Rumah MotoGP Indonesia

(Sirkuit Mandalika. Foto: dok Kemenpar)

 

MotoGP jadi etalase Indonesia ke dunia


Selain memberikan dampak ekonomi langsung, MotoGP Mandalika menjadi sarana untuk memperkenalkan Indonesia kepada pasar global. MotoGP memiliki basis lebih dari 632 juta penggemar di seluruh dunia dengan jangkauan siaran hampir 200 negara.

Eksposur tersebut membuka peluang promosi bagi destinasi wisata, budaya, ekonomi kreatif, dan UMKM Indonesia. Ajang ini juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan kapasitas Indonesia dalam menyelenggarakan kegiatan olahraga berskala internasional.

Dampak penyelenggaraan tidak hanya dirasakan selama balapan berlangsung. Ekosistem yang terbentuk di Mandalika turut mendorong pengembangan talenta lokal.

Mario Suryo Aji di kelas Moto2 dan Veda Ega Pratama di kelas Moto3 menjadi representasi pembalap Indonesia di panggung dunia. Sementara itu, sebanyak 380 marshal asal NTB telah mendapatkan pelatihan sesuai standar Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM).

Sejumlah marshal asal NTB bahkan telah memperoleh kesempatan bertugas dalam ajang balap internasional di luar negeri, termasuk di Sepang, Malaysia. Kondisi tersebut menunjukkan adanya transfer pengetahuan dan peningkatan kompetensi yang membuka peluang tenaga kerja lokal untuk berkiprah di tingkat internasional.

Maya menilai keberhasilan MotoGP tidak hanya diukur dari penyelenggaraan balapan, tetapi juga dari manfaat ekonomi dan pengembangan ekosistem yang ditinggalkan setelah event berlangsung.

"Pada akhirnya ukuran keberhasilan MotoGP bukan hanya siapa yang menjadi juara di lintasan, namun keberhasilannya juga harus terlihat dari seberapa besar ekonomi yang tumbuh, seberapa kuat Indonesia dikenal dunia, dan berapa banyak talenta Indonesia yang lahir dari ekosistem yang dibangun. Itulah legacy yang ingin kita jaga bersama," tutup Maya.

(Husen Miftahudin)