Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Foto: dok Kemenko Perekonomian.
Airlangga Optimistis Ekonomi Indonesia Menguat pada Semester II-2026
Husen Miftahudin • 10 July 2026 16:50
Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis perekonomian Indonesia akan kembali menguat pada kuartal III dan kuartal IV 2026. Optimisme tersebut disampaikan di tengah penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan masih terkontraksinya aktivitas manufaktur nasional.
"Ya nanti kita lihat menjelang kuartal III, kuartal IV (ekonomi) akan naik lagi," kata Airlangga saat ditemui di kantornya di Jakarta, dikutip dari Antara, Jumat, 10 Juli 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menanggapi pelemahan IKK serta Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan data Bank Indonesia, IKK pada Juni 2026 turun menjadi 117,8 dari 120,9 pada Mei 2026.
Meski mengalami penurunan, Airlangga menilai tingkat optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi masih berada pada level yang aman karena indeks tetap berada di atas ambang batas optimistis, yakni 100.
"(IKK) masih di atas 100. Aman. Kemarin kan ada Lebaran. Lebaran kan enggak tiap kuartal. Biasanya habis Lebaran turun sedikit," papar Airlangga.

(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
PMI Manufaktur masih kontraksi
Di sisi lain, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia tercatat berada di level 46,9 pada Juni 2026. Angka tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur masih berada di zona kontraksi karena berada di bawah level 50.
Terpisah, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menilai penurunan PMI dapat menjadi momentum untuk memperkuat transformasi industri nasional melalui peningkatan investasi berkualitas dan perbaikan iklim usaha.
Menurut Didik, kondisi tersebut menunjukkan sektor manufaktur sedang menghadapi tantangan sehingga memerlukan kebijakan yang konsisten untuk meningkatkan daya saing industri dalam jangka panjang.
"Angka PMI ini merupakan indikasi sektor industri kita sakit lama dan sekarang masuk zona bahaya merah pada level indeks di bawah 50," jelas Didik.
Ia menambahkan penguatan sektor industri menjadi faktor penting untuk menopang pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan investasi produktif, aktivitas manufaktur, serta penciptaan lapangan kerja.
Didik menilai keberlanjutan pertumbuhan ekonomi membutuhkan dukungan sektor manufaktur yang lebih kuat. Oleh karena itu, upaya meningkatkan daya saing industri nasional dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.