Bangunan roboh di Mindanao, Filipina usai gempa 7,8 magnitudo. Foto: Anadolu
Desa Terisolasi Pascagempa, Filipina Minta Pengiriman Bantuan dengan Helikopter
Muhammad Reyhansyah • 12 June 2026 11:20
Glan: Pemerintah daerah di Filipina selatan meminta pengiriman bantuan udara darurat untuk menyalurkan makanan dan kebutuhan pokok ke sejumlah desa yang terisolasi setelah diguncang gempa bumi kuat awal pekan ini.
Wali Kota Glan, Victor James Yap, meminta pemerintah segera mengerahkan helikopter militer untuk mengirim bantuan ke wilayah yang hingga kini masih terputus akibat longsor.
"Kami membutuhkan makanan dan air, tetapi sangat sulit mengirimkannya ke beberapa desa yang masih terisolasi," kata Yap kepada jaringan radio DZMM, dikutip dari TRT World, Kamis, 11 Juni 2026.
"Helikopter dibutuhkan untuk mengangkut makanan karena masyarakat di sana sudah sangat kelaparan," tambah Yap.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,8 yang berpusat di lepas pantai Provinsi Sarangani pada Senin menjadi salah satu gempa terkuat yang melanda Filipina dalam setengah abad terakhir.
Bencana tersebut telah menewaskan sedikitnya 47 orang, melukai 688 orang, dan menyebabkan 31 lainnya masih hilang.
Menurut Kantor Pertahanan Sipil Filipina, Sarangani mencatat jumlah korban tewas tertinggi, yakni 20 orang, sebagian besar akibat longsor yang menimbun rumah-rumah di Kota Glan.
Hingga kini, 10 dari 31 desa di Glan yang berpenduduk lebih dari 100.000 jiwa masih sulit dijangkau karena akses jalan tertutup material longsor.
Puluhan Ribu Warga Masih Mengungsi
Lebih dari 45.000 orang masih mengungsi akibat gempa tersebut, dengan sekitar separuhnya tinggal di tempat penampungan darurat.Gempa juga merusak lebih dari 12.600 rumah di berbagai kota dan wilayah pertanian di Filipina selatan. Pejabat setempat mengatakan banyak warga masih enggan kembali ke rumah mereka karena trauma dan kekhawatiran terhadap gempa susulan yang terus terjadi.
Yap menyebut salah satu jalur utama menuju Glan telah kembali dibuka sehingga distribusi bahan bakar diperkirakan dapat dilakukan mulai Kamis.
Namun, pasokan listrik belum pulih dan layanan telepon seluler masih terganggu di sejumlah wilayah.
Selain di Sarangani, korban jiwa juga dilaporkan di Kota General Santos serta provinsi South Cotabato dan Davao Occidental. Sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan dan longsor.
Dua perenang juga dilaporkan tewas setelah terseret arus laut di General Santos tak lama setelah gempa terjadi, sementara satu orang lainnya masih hilang.
Gempa tersebut turut memicu gelombang tsunami setinggi hingga 1,4 meter di wilayah selatan Filipina. Gelombang yang lebih kecil juga tercatat mencapai Indonesia, Palau, dan wilayah selatan Jepang.
Gempa kali ini menjadi salah satu yang terkuat sejak gempa berkekuatan magnitudo 8,1 dan tsunami yang melanda Filipina pada Agustus 1976, yang menewaskan sekitar 8.000 orang.
Filipina merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap aktivitas seismik dan vulkanik karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire).