Ilustrasi. Foto: Dok istimewa
Usai Reli Agresif, Harga Emas Berpotensi Koreksi
Eko Nordiansyah • 12 June 2026 18:24
Jakarta: Pergerakan harga emas dunia pada pekan kedua Juni 2026 diperkirakan masih akan bergerak dinamis di tengah kombinasi faktor teknikal dan fundamental yang saling memengaruhi arah pasar. Meski tren jangka pendek masih menunjukkan kecenderungan bullish, ada peluang koreksi sehat setelah penguatan signifikan yang terjadi dalam beberapa sesi terakhir.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit menjelaskan, pergerakan emas pada timeframe H1 menunjukkan perubahan tren yang cukup kuat dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan harga yang terjadi pada sesi perdagangan pagi berhasil mendorong emas mencapai target resistance yang sebelumnya telah diproyeksikan dalam laporan pasar terdahulu.
"Hal ini menandakan minat beli masih cukup besar dan mampu mengangkat harga dalam waktu relatif singkat," kata dia dalam keterangan tertulis, Jumat, 12 Juni 2026.
Namun setelah kenaikan yang berlangsung cukup agresif, pasar mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Menurut Geraldo, kondisi tersebut merupakan hal yang wajar setelah harga bergerak naik dalam waktu singkat. Dalam analisis teknikal, fase seperti ini sering disebut sebagai rebalancing price atau koreksi sehat sebelum pasar menentukan arah pergerakan berikutnya.
"Setelah mencapai area resistance utama, harga berpotensi mengalami koreksi terlebih dahulu untuk membangun fondasi baru sebelum melanjutkan pergerakan selanjutnya," ujar Geraldo.
Harga emas mengarah ke USD4.119
Secara teknikal, harga emas berpeluang bergerak turun menuju area support terdekat di level USD4.119. Area tersebut diperkirakan menjadi target koreksi jangka pendek apabila tekanan beli mulai berkurang dalam beberapa sesi perdagangan mendatang.Sinyal koreksi juga terlihat dari terbentuknya swing high yang valid setelah kenaikan tajam sebelumnya. Selain itu, pergerakan harga saat ini mulai tertahan di sekitar area Moving Average (MA) 21 dan MA 34 yang berfungsi sebagai area dinamis bagi pergerakan harga jangka pendek.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok Unplash)
Dari sisi indikator, stochastic juga mulai memberikan sinyal pelemahan momentum. Setelah sebelumnya berada di area overbought atau jenuh beli, indikator tersebut kini bergerak turun yang menunjukkan kekuatan buyer mulai berkurang. Kondisi ini sering menjadi tanda awal pasar membutuhkan fase konsolidasi atau koreksi sebelum melanjutkan tren berikutnya.
Meski demikian, koreksi yang berpotensi terjadi belum tentu mengubah tren secara keseluruhan. Selama harga masih mampu bertahan di area support penting, peluang untuk kembali bergerak naik tetap terbuka.
"Karena itu, pelaku pasar diperkirakan akan mencermati area support sebagai titik penting untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya," ungkap Geraldo.
Ruang kenaikan harga emas terbatas
Sementara itu, dari sisi fundamental, harga emas masih menghadapi sejumlah tantangan yang dapat membatasi ruang kenaikan dalam jangka pendek. Salah satu faktor yang menjadi perhatian utama pasar adalah ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat.Saat ini pelaku pasar masih menilai Federal Reserve berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau yang dikenal dengan istilah higher for longer. Pandangan tersebut muncul karena sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan kondisi yang relatif kuat, terutama dari sektor tenaga kerja, inflasi, dan aktivitas bisnis.
"Jika data-data ekonomi yang dirilis dalam pekan ini kembali menunjukkan hasil yang positif, maka peluang penguatan dolar AS akan semakin besar. Kondisi tersebut biasanya menjadi sentimen negatif bagi harga emas karena membuat aset berbasis dolar lebih menarik bagi investor," jelas dia.
Selain faktor suku bunga, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga menjadi perhatian pasar. Yield yang tetap tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil. Dalam situasi seperti ini, sebagian investor lebih memilih instrumen yang menawarkan return lebih stabil dibandingkan logam mulia.
Di sisi lain, membaiknya sentimen risiko global turut mengurangi permintaan terhadap aset safe haven. Ketika investor merasa lebih optimistis terhadap prospek ekonomi dan pasar keuangan global, minat terhadap emas biasanya mengalami penurunan karena dana cenderung mengalir ke aset berisiko seperti saham.
Dengan kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut, Geraldo memperkirakan, pergerakan emas pada pekan kedua Juni diperkirakan masih berada dalam fase koreksi jangka pendek meski tren sebelumnya menunjukkan penguatan yang cukup kuat.
"Dupoin Futures menilai area USD4.119 menjadi level penting yang perlu diperhatikan pelaku pasar dalam beberapa hari ke depan. Selama harga belum mampu membangun momentum baru untuk melanjutkan kenaikan, potensi koreksi dan konsolidasi masih menjadi skenario utama yang mewarnai pergerakan emas sepanjang pekan ini," ujar dia.