Indonesia Jalin Diplomasi dengan Iran Terkait Kapal Pertamina di Selat Hormuz

Juru Bicara I Kementerian Luar Negeri RI Yvonne Mewengkang. Foto: Metrotvnews.com

Indonesia Jalin Diplomasi dengan Iran Terkait Kapal Pertamina di Selat Hormuz

Muhammad Reyhansyah • 13 March 2026 18:13

Jakarta: Pemerintah Indonesia terus melakukan langkah diplomasi dengan Iran untuk memastikan keamanan pelayaran dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) yang tertahan di Selat Hormuz, di tengah meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah.

Juru Bicara I Kementerian Luar Negeri RI Yvonne Mewengkang mengatakan pemerintah melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran terus berkomunikasi dengan otoritas Iran guna menjamin kapal Indonesia dapat melewati jalur strategis tersebut dengan aman.

“Pemerintah RI melalui KBRI Teheran terus melakukan komunikasi dan pendekatan diplomatik yang intensif dengan otoritas Iran guna memastikan kapal kita dapat melewati Selat Hormuz dengan aman,” ujar Yvonne dalam press briefing di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Jumat, 13 Maret 2026.

Ia menegaskan pemerintah akan terus mengedepankan jalur diplomasi karena isu keamanan pelayaran tersebut menyangkut kepentingan penting bagi Indonesia.

“Kita akan terus mendorong pendekatan diplomatik yang intensif terkait isu spesifik ini, karena ini merupakan isu yang krusial bagi kita,” lanjutnya.

Dalam kesempatan yang sama, Juru Bicara II Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela menilai Selat Hormuz merupakan jalur transportasi laut yang sangat vital bagi perdagangan global.

“Indonesia melihat bahwa akses transportasi laut ini penting bagi seluruh dunia,” jelas Nabyl.

Ia menambahkan konflik yang terjadi di Timur Tengah saat ini berpotensi menimbulkan dampak luas bagi berbagai negara. Karena itu, Indonesia mendorong semua pihak yang terlibat untuk menahan diri dan mengupayakan penyelesaian secara damai.

“Kami berharap Amerika Serikat dan Israel menghentikan serangannya terhadap Iran, dan juga Iran menghentikan serangannya terhadap negara-negara di Timur Tengah,” kata Nabyl.

Menurut Nabyl, penyelesaian melalui dialog dan jalur diplomasi menjadi langkah penting untuk mencegah eskalasi yang lebih luas di kawasan tersebut.

Konflik yang memicu ketegangan ini bermula pada Sabtu, 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar ke Iran. Operasi tersebut dilaporkan melumpuhkan sejumlah struktur kekuasaan Iran dan menewaskan tokoh penting, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Menanggapi serangan tersebut, Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel serta sejumlah negara Teluk, yang kemudian memperluas krisis keamanan di kawasan.

Situasi ini turut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Pasalnya, sekitar 20 juta barel minyak mentah setiap hari melintasi Selat Hormuz, menjadikannya salah satu jalur paling vital bagi perdagangan minyak dunia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)