Korea Utara Hormati Pemilihan Pemimpin Tertinggi Baru Iran

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Foto: Anadolu

Korea Utara Hormati Pemilihan Pemimpin Tertinggi Baru Iran

Fajar Nugraha • 11 March 2026 13:50

Pyongyang: Korea Utara menyatakan menghormati keputusan Iran yang menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru negara itu. 

Pernyataan tersebut disampaikan melalui media pemerintah pada Rabu, 11 Maret 2026.

Penunjukan Mojtaba Khamenei dilakukan pada Minggu untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara Israel pada 28 Februari. Keputusan tersebut diambil di tengah meningkatnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara yang tidak disebutkan namanya mengatakan Pyongyang menghormati keputusan rakyat Iran. 

"Kami menghormati hak dan pilihan rakyat Iran untuk memilih pemimpin tertinggi mereka,” ujar pejabat tersebut, dikutip dari KCNA.

Dalam pernyataan yang sama, Korea Utara juga menuduh Amerika Serikat dan Israel merusak stabilitas kawasan. Pyongyang menilai kedua negara tersebut melanggar sistem politik dan kedaulatan wilayah Iran.

Menurut pejabat tersebut, tindakan Washington dan Tel Aviv juga merupakan upaya menggulingkan sistem sosial Iran. Ia menambahkan langkah tersebut layak mendapat kecaman dan penolakan dunia karena tidak dapat ditoleransi.

Dilansir dari media CNA, Amerika Serikat selama beberapa dekade memimpin upaya internasional untuk membongkar program nuklir Korea Utara. Namun berbagai perundingan, sanksi, dan tekanan diplomatik hingga kini belum memberikan hasil signifikan.

Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintahan Presiden Donald Trump berupaya menghidupkan kembali perundingan tingkat tinggi dengan Pyongyang. Washington bahkan membuka kemungkinan pertemuan baru antara Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tahun ini.

Trump sebelumnya mengatakan dirinya “100 persen” terbuka untuk bertemu Kim dalam kunjungan ke Asia pada Oktober lalu. Pernyataan tersebut tidak langsung mendapat tanggapan dari Pyongyang.

Setelah lama mengabaikan ajakan dialog tersebut, Kim Jong Un baru baru ini mengatakan kedua negara dapat hidup berdampingan dengan baik jika Amerika Serikat mengakui status nuklir Korea Utara.

Sementara itu media pemerintah Korea Utara juga melaporkan Kim Jong Un mengawasi uji coba peluncuran rudal jelajah strategis dari kapal perusak Choe Hyon. Uji coba tersebut dilakukan ketika Amerika Serikat dan Korea Selatan memulai latihan militer gabungan Freedom Shield.

Kim menekankan pentingnya memperkuat kemampuan pencegah perang nuklir yang kuat dan andal. Korea Utara sebelumnya memperingatkan latihan militer tersebut dapat memicu konsekuensi yang sangat mengerikan.

Analis dari University of North Korean Studies, Yang Moo Jin, menilai langkah tersebut bertujuan memperkuat legitimasi kebijakan pertahanan Korea Utara. Ia mengatakan Pyongyang berusaha menunjukkan bahwa penguatan kemampuan militer dilakukan sebagai respons terhadap ancaman eksternal.

(Keysa Qanita)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)