Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie. Foto: Antara.
RI Bangun Pusat Riset Rumput Laut di Kawasan Teluk Ekas Lombok
Anggi Tondi Martaon • 14 February 2026 16:58
Jakarta: Indonesia membangun pusat riset rumput laut dunia bernama International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) di kawasan Teluk Ekas, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Penguatan riset rumput laut Indonesia dinilai sangat penting sebagai bagian dari strategi nasional dan transformasi ekonomi pesisir.
"Fokus besar kami beberapa bulan terakhir adalah menjadikan Indonesia pusat rumput laut dunia, dan itu harus dimulai sekarang. Karena itu, kita membangun pusat riset bertaraf internasional dengan standar dan jejaring yang memang global," kata Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, dikutip dari Antara, Sabtu, 14 Februari 2026.
Stella menjelaskan dipilihnya area Teluk Ekas sebagai lokasi riset karena telah lama menjadi ruang hidup masyarakat pesisir. Baik sebagai kawasan budidaya maupun tangkap.
Pusat riset ini diharapkan bisa meningkatkan hasil tangkapan dan kualitas budi daya dengan bibit rumput laut yang lebih unggul berbasis riset.
"Nilai ekonomi rumput laut dunia mencapai 12 miliar Dolar Amerika Serikat (AS) per tahun, dan diperkirakan akan terus meningkat," ungkap Stella.
Walaupun demikian, Stella menekankan posisi Indonesia di pasar global dinilai belum sepenuhnya diimbangi dengan penguatan riset dan hilirisasi di dalam negeri. Ia menegaskan Indonesia tidak boleh hanya menjadi produsen bahan mentah, melainkan menjadi pusat inovasi dan nilai tambah. Maka, ITSRC dirancang sebagai simpul kolaborasi nasional dan internasional.
"Kami bekerja sama dengan University of California, Berkeley, dan Beijing Genomics Institute dari China. Beijing Genomics Institute berkomitmen mendukung pendanaan Rp3 miliar untuk dua tahun pertama, termasuk peralatan dan peneliti. Kemdiktisaintek juga telah mengalokasikan Rp1,5 miliar untuk tahap awal," ujar Stella.

Ilustrasi rumput laut. Foto: MI/Susanto.
Sejumlah fasilitas dalam pusat riset tersebut akan dibangun, di antaranya gedung penelitian, asrama bagi peneliti internasional, apotek, serta sarana pendukung lainnya.
Adapun secara ekologis, Teluk Ekas memiliki sistem teluk tropis yang relatif terlindung, dengan arus dan sirkulasi air yang cukup baik. Kondisi ini menjadikannya ideal sebagai living laboratory untuk riset produktivitas, ketahanan iklim, dan pengembangan biomassa skala tropis.
Tidak hanya rumput laut Kappaphycus sebagai bahan baku karagenan, kawasan ini juga potensial untuk pengembangan jenis rumput laut Caulerpa, Ulva, dan Halymenia.