Sekitar 100 Warga Nepal Dilaporkan Hilang di TIbet usai Banjir Bandang

Rumah yang terendam lumpur usai banjir bandang melanda Nepal. Foto: Anadolu

Sekitar 100 Warga Nepal Dilaporkan Hilang di TIbet usai Banjir Bandang

Fajar Nugraha • 4 September 2026 07:27

Kathmandu: Sekitar 100 warga negara Nepal termasuk di antara 261 warga asing yang hilang di sisi perbatasan Tiongkok di Tibet akibat banjir bandang dan tanah longsor di kawasan Himalaya yang melanda wilayah perbatasan kedua negara.

Kementerian Luar Negeri Nepal pada Kamis 3 September 2026 memastikan jumlah korban di tengah berlanjutnya operasi pencarian dan penyelamatan.

Bencana tersebut terjadi pada 26 Agustus ketika sebuah gletser di Gunung Langtang Lirung, Nepal, pecah pada ketinggian sekitar 5.200 meter. Peristiwa ini memicu longsoran es dan batu yang berkembang menjadi aliran puing masif dan menyapu lembah-lembah di sepanjang perbatasan.

Banjir dan tanah longsor meluluhlantakkan distrik Rasuwa, Nuwakot, Dhading, dan Kavre di Nepal, serta Lembah Kathmandu, sekaligus menimbun pos lintas batas Gyirong di Daerah Otonom Xizang (Tibet), Tiongkok barat daya.

Pihak Beijing kemudian menyatakan bahwa 541 orang -,termasuk 261 warga asing,- dilaporkan hilang di wilayah perbatasan mereka.

"Sekitar seratus warga negara Nepal masih dinyatakan hilang di sisi perbatasan Tiongkok," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Nepal, Lok B. Chhetri, kepada wartawan di Kathmandu pada Kamis, dikutip dari Anadolu, Jumat 4 September 2026.

Ia menambahkan bahwa sekitar 1.400 warga Nepal lainnya masih berada di Gyirong (yang dikenal sebagai Kerung di Nepal), dan pemerintah Kathmandu sedang "berkoordinasi dengan pihak Tiongkok bagi mereka yang ingin kembali lebih awal."

Nepal telah mengonfirmasi 1.259 korban jiwa dan 5.083 orang hilang akibat banjir bandang pekan lalu. Otoritas Tiongkok melaporkan 21 orang tewas sementara pencarian terhadap 541 orang lainnya masih terus dilakukan.

Total korban jiwa gabungan dari kedua negara mencapai 1.280 orang, dengan 5.624 orang masih dinyatakan hilang, termasuk 844 warga negara asing. Beijing mencatat bahwa hampir 100 warga negara Tiongkok hilang di wilayah Nepal. -Diplomat senior Nepal memberikan pengarahan kepada para perwakilan diplomatik di Kathmandu

Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, memberikan pengarahan kepada komunitas diplomatik di Kathmandu mengenai bencana tersebut. Warga negara asing yang dilaporkan hilang berasal dari sekitar 39 negara.

Khanal menyerukan agar solidaritas dan dukungan internasional terus berlanjut seiring langkah Nepal menuju pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi, menurut pernyataan kementerian tersebut.

Ia menyoroti "risiko iklim yang tidak proporsional yang dihadapi oleh negara-negara rentan dan negara pegunungan seperti Nepal, serta menekankan urgensi tindakan iklim, pembangunan ketahanan, keadilan iklim, dan mobilisasi sumber daya yang lebih besar untuk adaptasi, mitigasi, dan rekonstruksi yang tangguh."

Nepal telah mengerahkan lebih dari 21.400 personel keamanan, termasuk lebih dari 9.200 tentara, untuk operasi pencarian dan penyelamatan.

"Prioritas kami tetap melanjutkan operasi pencarian dan penyelamatan yang sedang berlangsung dengan fokus pada penyelamatan di dalam terowongan, menemukan mereka yang masih hilang, dan memberikan dukungan berkelanjutan kepada semua pihak yang terdampak," ujar Chhetri.

Sekitar 900 personel yang bertugas di berbagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) masih belum diketahui nasibnya lebih dari delapan hari setelah bencana melanda wilayah tersebut. Para ahli terowongan dan analisis DNA, bersama tim pencarian dan penyelamatan dari Tiongkok, India, dan Korea Selatan, telah bergabung dengan otoritas Nepal untuk mencari korban hilang dan mengidentifikasi korban tewas.

Otoritas Nepal telah "memulai pemakaman sementara bagi jenazah yang telah ditemukan setelah menyelesaikan prosedur forensik yang diperlukan," kata Chhetri.

"Proses ini dirancang untuk memfasilitasi identifikasi di tahap selanjutnya dan memungkinkan keluarga menerima jenazah orang-orang terkasih mereka untuk upacara pemakaman terakhir setelah identifikasi dipastikan," tambah Chhetri.

Saat ditanya apakah identitas korban tewas di Tibet telah diverifikasi, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, mengatakan bahwa Beijing "akan terus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memverifikasi identitas mereka secara tepat dan menangani langkah-langkah selanjutnya."

Menanggapi seruan Nepal mengenai kompensasi iklim, Guo menyatakan: "Perubahan iklim adalah tantangan global yang memerlukan upaya bersama dari semua pihak. Kami melakukan upaya aktif dan tepat menuju target puncak emisi karbon dan netralitas karbon, serta diperkirakan akan melakukan pengurangan intensitas emisi karbon terbesar di dunia."

Guo mencatat bahwa Tiongkok "juga sangat terdampak oleh bencana lintas batas ini," seraya menambahkan, "Kami siap memperkuat kerja sama dengan Nepal dan komunitas internasional lainnya untuk bersama-sama mencegah dan memitigasi dampak negatif perubahan iklim."

(Fajar Nugraha)