Dewan Redaksi Media Group Jaka Budi Santoso. Foto: MI/Ebet.
Podium MI: Bicara Dulu, Klarifikasi Kemudian
Media Indonesia • 3 September 2026 05:47
ADA kalimat yang mungkin tidak dimaksudkan untuk melukai, tetapi telanjur menyakiti. Ada pula pernyataan yang barangkali tidak bermaksud untuk menomorsatukan sesuatu dan menegasikan yang lain, tetapi publik kadung menganggapnya begitu.
Itulah kira-kira polemik pernyataan Kepala Dinas Pendidikan Kalimatan Tengah Muhammad Reza Prabowo ihwal keberlanjutan pendidikan di daerahnya di tengah kabut asap. Lagi dan lagi, asap akibat kebakaran atau pembakaran hutan dan lahan menghadirkan kesulitan bagi warga. Kesehatan dan keselamatan siswa pun terancam jika mereka terus diwajibkan bersekolah seperti biasanya.
Namun, dalam potongan video rapat yang beredar baru-baru ini justru terdengar kekhawatiran jika sekolah diliburkan. Ada kecemasan bila diberlakukan pembelajaran jarak jauh alias PJJ. Bukan soal keselamatan anak, melainkan kekhawatiran untuk yang lain. Terhadap program makan bergizi gratis atau MBG. Juga ada ketakutan nanti para murid malah melakukan kegiatan yang merepotkan.
Setelah ramai, setelah menjadi atensi tak cuma di Kalteng, tapi juga di seantero negeri, Reza melakukan klarifikasi. Ia meminta masyarakat tidak melakukan penilaian hanya berdasarkan video yang telah dipotong dari rapat yang berlangsung cukup panjang. Ia membantah anggapan bahwa pihaknya lebih mengutamakan MBG daripada kesehatan dan keselamatan anak didik.
Klarifikasi tentu mesti dihormati. Namun, ada satu masalah komunikasi publik yang tak bisa begitu saja disapu dengan klarifikasi, yakni kesan pertama. Dalam psikologi dikenal istilah primacy effect, kecenderungan informasi yang datang lebih awal memberikan pengaruh lebih kuat terhadap
Ada pula continued influence effect. Informasi yang sudah telanjur diterima masih dapat memengaruhi penilaian seseorang meski kemudian sudah diklarifikasi. Psikolog Polandia-Amerika Solomon Eliot Asch bahkan punya teori bahwa pernyataan pertama seorang tokoh selalu lebih benar.
Reza boleh saja mengklarifikasi. Boleh jadi ia benar. Akan tetapi, persepsi yang sudah terbangun tak otomatis bisa dikoreksi. Masih ada anggapan begitu kuat dalam diri publik bahwa ia memang lebih memprioritaskan MBG ketimbang keselamatan murid. MBG first. Terlebih, klarifikasi cuma disampaikan lewat kata-kata. Kalau memang pembahasannya panjang, tayangkan saja rekaman jalannya keseluruhan rapat agar warga bisa utuh mencermati.
Peringatan bahwa pejabat atau elite wajib berhati-hati dalam setiap kata kiranya terus menemukan relevansinya. Ketika yang dibicarakan ialah kabut asap dan anak sekolah, kalimat pertama yang seharusnya paling nyaring disuarakan ialah keselamatan siswa. Bukan dapur. Bukan kantin. Bukan soal apakah MBG tetap ngebul atau tidak.
Pemenuhan gizi anak penting. Namun, ketika asap semakin mencekik, ketika teror terhadap jalan napas dan paru-paru kian mengerikan, hierarki pesannya harus tegas; keselamatan siswa nomor satu. Kalau sekolah tidak aman, jangan paksa anak datang. Kalau maunya MBG terus jalan, carikan mekanisme agar makanan tetap tersalurkan. Sesimpel itu.
Ada kalimat yang mungkin tidak dimaksudkan untuk membuat bising, tapi publik telanjur dibikin pusing. Ada pernyataan yang barangkali tidak serta-merta menunjukkan niat buruk tertentu, tapi masyarakat kadung menganggapnya begitu. Itulah kira-kira polemik yang dipantik Budi Arie Setiadi ihwal kemungkinan pemilu bisa lebih cepat daripada 2029.
Pernyataannya dalam temu relawan dengan Pak Jokowi belum lama ini tersebut memanaskan jalan politik nasional. Ada anggapan, di depan panggung, kubu Jokowi mesra dengan pihak Presiden Prabowo, tapi di belakang panggung sikapnya beda. Ada persepsi, kubu Jokowi semakin terang membuat jarak dengan Prabowo. Bahkan ada tuduhan, Budi Arie melakukan makar terhadap pemerintahan yang sah. Benarkah?

Ilustrasi kabut asap. Foto: dok. Medcom.
Setelah potongan video pertemuan itu bocor atau sengaja dibocorkan, Budi Arie dan relawan Jokowi lainnya sibuk meluruskan. Ia menegaskan pernyataannya murni analisis dan insting pribadi. Tak ada kaitannya dengan Jokowi yang duduk diam saja di samping Budi saat sedang berbicara. Ia menekankan, Jokowi dan seluruh relawan tetap mendukung Prabowo-Gibran hingga 2029. Bahkan kalau bisa, berlanjut dua periode. Kalau tidak bisa?
Klarifikasi patut kita dengarkan. Soal menerima atau tidak, terserah Anda. Serupa dengan kasus Reza Prabowo, masalah dalam perkara Budi Arie bukan apakah klarifikasi itu benar atau salah. Apalagi hanya disampaikan melalui narasi. Bukan dengan menayangkan rekaman utuh pertemuan dengan Jokowi yang sebenarnya amat gampang dilakukan.
Penyakit klasik sebagian elite kiranya belum sepenuhnya terobati; bicara dulu, klarifikasi urusan nanti. Itu budaya komunikasi kekuasaan yang jelek. Ketika ucapan spontan keluar, publik diminta memahami konteks. Ketika viral, barulah muncul penjelasan bahwa 'bukan itu maksud saya'.
Pejabat atau eks pejabat boleh berlindung dalam rangkaian empat kata itu. Akan tetapi, publik berhak bertanya, mengapa maksud yang sesungguhnya baru muncul setelah dipermasalahkan?