Ilustrasi - Trenggiling. ANTARA/HO-Antarenews
Lagi, Trenggiling Ditemukan Mati Akibat Karhutla di Ketapang Kalbar
Lukman Diah Sari • 27 August 2026 20:56
Ketapang: Seekor trenggiling jantan ditemukan mati saat tim gabungan tengah melakukan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Mayak, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada Rabu, 26 Agustus 2026. Koordinator Pencegahan dan Inovasi Manggala Agni Daops Kalimantan X/Ketapang, Fitria Sri Handayani, membenarkan temuan tersebut.
"Iya, ini penemuan baru lagi. Penemuan ini terjadi kemarin di Desa Mayak," kata Fitria di Ketapang, Kamis, 27 Agustus 2026, melansir Antara.
"Saat melakukan pemadaman, kami menemukan trenggiling jantan yang sudah mati akibat karhutla," ujarnya.
Sebagai informasi, temuan nahas ini menjadi kasus kedua dalam sepekan terakhir di wilayah Kecamatan Muara Pawan. Sebelumnya, tim juga menemukan seekor trenggiling mati di lokasi karhutla pada kawasan yang sama.
Dampak Karhutla Terhadap Satwa Liar
Berulangnya temuan satwa liar mati di lokasi karhutla menunjukkan kebakaran tidak hanya berdampak terhadap lingkungan dan kawasan hutan, tetapi juga mengancam keberlangsungan satwa yang habitatnya terdampak kebakaran.Trenggiling merupakan salah satu satwa liar yang menghadapi ancaman kehilangan habitat akibat kerusakan kawasan hutan. Kebakaran dapat memutus ruang jelajah dan sumber pakan satwa sekaligus memaksa satwa keluar dari habitatnya untuk mencari tempat yang lebih aman.

Ilustrasi: Satgas Darat berjibaku memadamkan api di lahan gambut di tengah kepungan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di kawasan Pengayuan, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Selasa, 25 Agustus 2026. ANTARA/Tumpal Andani Aritonang
Fitria mengatakan pemadaman karhutla di wilayah Desa Mayak masih dilakukan Manggala Agni bersama personel TNI. Tim terus melakukan penyisiran dan penanganan di sejumlah lokasi untuk memastikan api tidak kembali menyala dan meluas ke kawasan lainnya.
Ia mengingatkan pentingnya pencegahan karhutla karena dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat melalui asap dan terganggunya aktivitas, tetapi juga dapat menyebabkan kerusakan habitat dan kematian satwa liar.
"Penanganan di lapangan akan terus dilakukan hingga seluruh titik api dapat dikendalikan dan kondisi kawasan dinyatakan aman," ujarnya.