Bahlil Jamin Stok LPG Aman, Harga Dipastikan Tak Naik

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Foto: Tangkapan layar YouTube Kementerian ESDM.

Bahlil Jamin Stok LPG Aman, Harga Dipastikan Tak Naik

Husen Miftahudin • 15 September 2026 10:40

Jakarta: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan ketersediaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) di Indonesia aman. Jaminan tersebut didukung kontrak impor LPG jangka panjang dari Amerika Serikat (AS).

"LPG no issue (tidak ada masalah), karena kita sudah mendapat kontrak jangka panjang," kata Bahlil dalam acara Innovation Technology for Social and Environmental Awards (InTechSEA) di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 15 September 2026.

Bahlil mengatakan kontrak jangka panjang tersebut merupakan bagian dari kesepakatan impor komoditas energi dari AS senilai USD15 miliar. Atas dasar itu, Bahlil juga memastikan pemerintah tidak akan menaikkan harga LPG nonsubsidi.

Terkait rencana impor LPG dari Rusia, Bahlil menjelaskan pembicaraan kerja sama Indonesia dan Rusia saat ini masih berkaitan dengan impor minyak mentah atau crude oil.

"Kalau kontrak jangka panjang kita dari LPG kan salah satunya dari Amerika. Kalau di Rusia itu, kami baru bicara pada tataran crude, minyak. Kalau LPG masih dari Amerika, ya," ujar Bahlil.
 
Dengan demikian, pasokan LPG melalui kontrak jangka panjang saat ini masih berasal dari AS.
 



Ilustrasi gas LPG 3 Kg. Foto: dok Pertamina.
 

Cadangan BBM nasional aman


Sebelumnya, Bahlil juga memastikan cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional dalam kondisi aman. Cadangan BBM berada di kisaran 20 hari, sementara standar nasional minimal berada pada kisaran 21–28 hari.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul antrean panjang pembelian BBM di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), terutama di Makassar, Sulawesi Selatan. Bahlil mengatakan dirinya telah mengecek langsung penyebab antrean tersebut.

"Aku sudah cek apa ini masalahnya, karena cadangan nasional kita 20 hari. Harusnya enggak (antre). Ternyata, bapak ibu semua, itu adalah ada sebagian yang shifting (berpindah)," kata Bahlil.

Menurut Bahlil, antrean di sejumlah SPBU turut dipengaruhi perubahan pola konsumsi masyarakat. Sebagian konsumen yang sebelumnya menggunakan BBM nonsubsidi beralih ke BBM subsidi setelah harga BBM nonsubsidi mengalami kenaikan.

Bahlil tidak mempermasalahkan perpindahan konsumsi tersebut. Namun, ia mengimbau masyarakat yang tergolong mampu untuk tidak menggunakan BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar.

"Yang tadinya tidak memakai subsidi, mereka beralih ke minyak subsidi. Ya, nggak apa-apa, tetapi saya mohon, saya mengimbau kepada saudara-saudara kita yang mampu, yang mobilnya bagus, pakai perasaanlah," papar Bahlil.

(Husen Miftahudin)