IHSG Ditutup ke Level 6.436

Ilustrasi. Foto: Dok MI

IHSG Ditutup ke Level 6.436

Eko Nordiansyah • 16 September 2026 16:55

Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan sore ini bertengger di zona merah. IHSG bergerak fluktuatif dengan menguat pada awal perdagangan pagi, namun melemah menjelang penutupan sore hari, Rabu, 16 September 2026.

Berdasarkan data RTI, IHSG sore turun 24,3 poin atau setara 0,38 persen ke posisi 6.436,853. IHSG sebelumnya sempat dibuka ke level 6.453. Sementara itu, IHSG juga berada di level terendah 6.436 dan tertinggi di posisi 6.535.

Adapun total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 24,598 miliar senilai Rp12,262 triliun. Sedangkan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp11.253,082 triliun dengan frekuensi sebanyak 1.854.782 kali.

Sore ini, tercatat sebanyak 201 saham bergerak menguat. Sementara itu, sebanyak 439 saham melemah, dan 151 saham lainnya stagnan.


(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan pelaku pasar bertaruh dengan kombinasi ketidakpastian akan perang AS dengan Iran, harga minyak melewati 100 dolar AS per barel, inflasi yang berpotensi terus naik, imbal hasil obligasi US Treasury 10y yang melewati lima persen dan berada di level 5,04 persen.

Berdasarkan kondisi-kondisi tersebut, data CME FedWatch melaporkan probabilitas kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 basis poin pada rapat FOMC September 2026 telah menembus kisaran 92-93 persen.

“Kondisi tersebut membuat The Fed sulit rasanya untuk tidak menaikkan tingkat suku bunganya,” ujar Nico dalam kajiannya dilansir dari Antara.

Apabila The Fed justru menahan tingkat suku bunga acuannya, Nico menilai tentu saja pelaku pasar dan investor akan tetap menuntut imbal hasil obligasi US Treasury yang jauh lebih tinggi.

Di sisi lain, AS dan China tengah berdiskusi mengenai pengurangan tarif pada beberapa barang tertentu, termasuk energi dan produk pertanian dari AS. Meskipun terbatas, namun perdagangan bilateral ini berpotensi memberikan pengaruh lebih dari 400 miliar dolar AS dalam delapan bulan pertama pada tahun ini.

“Sehingga kami yakin adanya sebuah harapan baru bahwa gencatan perang dagang berpotensi ditambah satu tahun lagi,” ujar Nico.

(Eko Nordiansyah)