Kemenkes RI dan CDC AS menggelar simulasi penanganan demam berdarah di UI Depok pada 7-9 Juli 2026. (Kemenkes RI)
Kemenkes RI dan CDC AS Uji Protap PHEOC untuk Respons Wabah DBD
Willy Haryono • 21 July 2026 10:39
Depok: Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat bersama Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menggelar tabletop exercise (TTX) selama tiga hari untuk menguji implementasi Prosedur Tetap (Protap) Public Health Emergency Operations Center (PHEOC) dalam penanganan demam berdarah.
Kegiatan yang berlangsung di Wisma Makara Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, pada 7–9 Juli 2026 itu diikuti 60 peserta dari tingkat nasional dan provinsi.
Peserta berasal dari Jawa Barat dan Sulawesi Barat, terdiri atas petugas kesehatan puskesmas dan rumah sakit, laboratorium kesehatan masyarakat, Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK), serta ASEAN BioDiaspora Virtual Center (ABVC).
Melalui simulasi respons terhadap wabah penyakit endemik, kegiatan ini menguji efektivitas penerapan operasional Protap PHEOC. Simulasi tersebut juga menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk memperkuat implementasi Protap PHEOC di Indonesia sekaligus meningkatkan koordinasi lintas sektor dalam menghadapi kedaruratan kesehatan masyarakat.
Selama latihan, peserta membahas seluruh siklus respons kedaruratan, mulai dari deteksi dini, verifikasi kejadian, analisis situasi, penilaian risiko darurat secara cepat, koordinasi teknis lintas sektor, hingga pengelolaan sumber daya dan respons.

Wakil Direktur CDC di Indonesia, Ken Chen, mengatakan kesiapsiagaan merupakan langkah paling efektif untuk mencegah wabah berkembang menjadi pandemi.
"Memperkuat pemahaman kita atas fungsi-fungsi kunci, terutama dalam hal koordinasi, komunikasi, pengambilan keputusan, dan deteksi dini, sangat penting untuk memastikan kesiapan saat menghadapi kedaruratan kesehatan masyarakat," ujar Chen, dalam siaran pers Kedutaan Besar AS di Jakarta, Selasa, 21 Juli 2026.
Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes, Dr. Sumarjaya, menegaskan bahwa Protap PHEOC bukan sekadar dokumen administratif, melainkan instrumen operasional yang harus diuji secara berkala melalui latihan dan simulasi.
"Melalui kegiatan TTX ini, kami ingin memastikan bahwa setiap prosedur dapat terlaksana efektif saat menghadapi situasi kedaruratan yang nyata. Simulasi adalah tahap penting untuk mengetahui kuatnya sistem, tantangan yang masih ada, serta kesempatan untuk memperkuat kapasitas di masa mendatang," kata Sumarjaya.
Kemenkes dan CDC menyatakan akan terus memperkuat kesiapsiagaan kedaruratan kesehatan masyarakat. Dukungan tersebut dilakukan melalui pelatihan tim gerak cepat, penguatan emergency operations center, serta peningkatan kapasitas respons agar penanganan krisis kesehatan dapat dilakukan secara cepat dan efektif.

Baca juga: Indonesia-AS Perkuat Kerja Sama Pertahanan, Libatkan PT Pindad hingga Boeing