Memperkuat Ketahanan Pangan Melalui Inovasi Budidaya dan Pemberdayaan Masyarakat

Program Community Involvement and Dvelopment (CID) dari Pertamina Patra Niaga. Foto: Dok istimewa

Memperkuat Ketahanan Pangan Melalui Inovasi Budidaya dan Pemberdayaan Masyarakat

Eko Nordiansyah • 7 June 2026 10:28

Jakarta: PT Pertamina Patra Niaga mendukung ketahanan pangan nasional melalui berbagai Program Community Involvement and Dvelopment (CID) yang berbasis pada potensi lokal dan pemberdayaan masyarakat. Solusi ini tidak hanya meningkatkan ketersediaan pangan, tetapi juga memperkuat kesejahteraan masyarakat.

Corporate Secretary, Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menyampaikan bahwa ketahanan pangan dapat dibangun melalui pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Pertamina Patra Niaga terus menghadirkan program-program yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Karena itu, kami terus menghadirkan program-program yang mengoptimalkan potensi lokal, mendorong kemandirian ekonomi, serta menciptakan manfaat sosial dan lingkungan,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 7 Juni 2026.

Salah satu program unggulan tersebut adalah pengembangan budidaya ikan berbasis teknologi bioflok di Kelurahan Mundam, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, Riau. Masyarakat kini memiliki alternatif sumber pangan sekaligus sumber pendapatan yang lebih stabil melalui budidaya ikan nila dengan masa panen sekitar 4–6 bulan.

“Program ini hadir sebagai jawaban atas tantangan masyarakat pesisir yang selama ini bergantung pada hasil tangkapan laut yang tidak menentu akibat faktor cuaca, keterbatasan sarana perikanan, dan ancaman abrasi,” ujarnya.

Program ini juga didukung oleh Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 4,4 kWp yang mampu menghemat biaya listrik hingga Rp. 9,3 juta per tahun dan mengurangi emisi karbon sebesar 5,52 ton CO2 per tahun.



(Program Siantar Habonaron, sebuah model urban farming terpadu. Foto: Dok istimewa)

Model urban farming terpadu

Di Sumatera Utara, Pertamina Patra Niaga melalui Fuel Terminal Pematang Siantar mengembangkan program Siantar Habonaron, sebuah model urban farming terpadu yang mengoptimalkan lahan pekarangan rumah masyarakat untuk mendukung ketahanan pangan keluarga. 

Program ini lahir dari kondisi masyarakat yang menghadapi keterbatasan lahan, tekanan ekonomi, dan kebutuhan akses pangan yang lebih terjangkau. Melalui integrasi peternakan ayam petelur, budidaya sayuran, serta pengelolaan limbah organik dan maggot, masyarakat mampu menghasilkan telur dan sayuran untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari. 

Limbah kotoran ayam dimanfaatkan sebagai media tanam, sementara sisa makanan rumah tangga diolah menjadi pakan maggot yang kemudian digunakan kembali sebagai pakan ternak.

“Sejak adanya bantuan dari Pertamina Patra Niaga, kebutuhan sarapan anak saya menjadi terpenuhi dari hasil ternak ini,” ujar salah satu anggota kelompok Habonaron, Asih. 

(Eko Nordiansyah)