Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com
QRIS Makin Mendunia, Saatnya Ekosistem Pembayaran Digital Terintegrasi
Misbahol Munir • 17 April 2026 23:28
Jakarta: Transformasi sistem pembayaran digital di Indonesia memasuki fase baru. Industri tidak lagi hanya berfokus pada kemudahan transaksi, tetapi mulai bergerak menuju penguatan ekosistem yang lebih terintegrasi, kolaboratif, dan tangguh.
Seiring ekspansi QRIS lintas negara serta tingginya adopsi domestik, regulator dan pelaku industri menilai pertumbuhan ke depan akan sangat ditentukan oleh sinergi antar pemangku kepentingan, pengelolaan risiko, serta kesiapan infrastruktur.
Wakil Ketua Umum II Asosiasi Fintech Indonesia, Budi Gandasoebrata, mengatakan industri pembayaran digital kini memasuki fase yang lebih matang. Jika sebelumnya berfokus pada akses dan kemudahan, kini perhatian bergeser pada integrasi layanan dan penguatan kualitas ekosistem.
“Pembayaran digital tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi enabler utama bagi berbagai layanan lain seperti pembiayaan dan asuransi digital,” ujar Budi dalam acara Fintech Talk Finpay di Jakarta, Kamis, 16 April 2026.
Ia juga menyoroti langkah Bank Indonesia memperluas implementasi QRIS lintas negara, termasuk kerja sama terbaru dengan Korea Selatan.
“Ke depan, masyarakat Indonesia yang bepergian ke luar negeri seperti Korea Selatan dapat melakukan pembayaran menggunakan QRIS. Ini menunjukkan sistem pembayaran kita semakin terhubung secara global,” kata Budi.
Dari sisi industri, Business & Marketing Director FinPay, Aziz Sidqi, menilai lonjakan penggunaan QRIS mencerminkan perubahan perilaku masyarakat, khususnya generasi milenial dan Gen Z.
“Pembayaran digital kini sudah menjadi bagian dari digital lifestyle. Ke depan, QRIS berpotensi menjadi default payment, bukan sekadar alternatif,” ujar Aziz.
Sementara itu, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Ryan Rizaldy, menjelaskan regulator tengah melakukan reformasi struktural melalui klasifikasi Penyelenggara Sistem Pembayaran (PSP) menjadi PSP Utama dan Non-Utama.
“PSP Utama akan memiliki akses lebih luas terhadap infrastruktur sistem pembayaran karena skala dan tingkat interkoneksinya yang tinggi,” jelas Ryan.

Business & Marketing Director FinPay, Aziz Sidqi. Foto: Dok/Istimewa
Bank Indonesia juga mendorong konsolidasi infrastruktur industri serta integrasi dengan sistem seperti BI-FAST untuk meningkatkan efisiensi dan ketahanan ekosistem pembayaran nasional.
Dari sisi teknologi, Director Technology Product & Operation FinPay, Apep MK Noormansyah, menegaskan pentingnya kesiapan sistem menghadapi lonjakan transaksi digital yang biasanya terjadi pada periode Ramadan, libur nasional, maupun tanggal gajian.
“Sistem kami mampu menangani sekitar 1.000 transaksi per detik dengan utilisasi masih di bawah 50 persen, sehingga masih tersedia ruang untuk pertumbuhan transaksi ke depan,” ujar Apep.
Ia menambahkan penerapan konsep high availability menjadi kunci menjaga stabilitas layanan di tengah meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap pembayaran digital.
Perkembangan sistem pembayaran digital juga mendorong pertumbuhan sektor lain, termasuk asuransi digital dan pembiayaan berbasis teknologi.
Board Advisor Qoala, Muhammad Iqbal, menyebut pembayaran digital menjadi fondasi penting dalam pengembangan asuransi digital, terutama untuk produk mikro.
“Dulu tantangannya ada pada pengumpulan premi. Sekarang distribusi dan monetisasi produk menjadi jauh lebih efektif,” kata Iqbal.
Hal serupa disampaikan Direktur Utama Samir, Yonathan Gautama, yang menilai sistem pembayaran berperan sebagai payment engine dalam industri fintech lending, termasuk untuk pengembangan credit scoring berbasis data transaksi.
Di sektor pembiayaan digital, Direktur Indodana Finance, Iwan Dewanto, mengatakan integrasi sistem pembayaran juga mendorong pertumbuhan layanan Buy Now Pay Later (BNPL), yang pada periode tertentu dapat meningkat 50–70 persen secara tahunan.
Menurutnya, efisiensi BNPL didukung proses end-to-end digital, mulai dari verifikasi identitas, penilaian kredit, hingga pencairan dana yang dapat dilakukan dalam hitungan menit.
“Dalam model ini, sistem pembayaran menjadi kunci karena memungkinkan transaksi yang seamless dan real-time,” ujar Iwan.
Selain meningkatkan efisiensi operasional, integrasi sistem pembayaran juga memperluas inklusi keuangan dengan menjangkau segmen masyarakat unbanked dan underbanked. Namun, ia menegaskan pertumbuhan industri tetap harus diimbangi pengelolaan risiko yang disiplin agar berkelanjutan.
Dengan perkembangan tersebut, pelaku industri menilai masa depan sistem pembayaran digital Indonesia akan sangat ditentukan oleh kolaborasi antara regulator, asosiasi, dan pelaku industri untuk menjaga keseimbangan antara inovasi, keamanan, dan keberlanjutan ekosistem.