Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC). Foto: Press TV
Opsi Balasan Iran Jika Perang dengan AS Pecah
Muhammad Reyhansyah • 30 January 2026 09:57
Teheran: Selama hampir lima dekade, Iran telah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan perang dengan Amerika Serikat (AS). Menyadari ketertinggalannya dalam kekuatan militer konvensional dibandingkan Washington, Teheran memilih strategi berbeda: menciptakan kemampuan untuk menimbulkan kerugian besar yang dapat mengguncang Timur Tengah sekaligus perekonomian global.
Seiring tibanya kelompok kapal induk AS di kawasan Timur Tengah dan peringatan Presiden AS Donald Trump soal kemungkinan serangan terhadap Iran, kekhawatiran akan meluasnya konflik kembali menguat.
Meski mengalami pelemahan signifikan akibat serangan Israel dan Amerika Serikat pada musim panas lalu serta menghadapi tekanan domestik, rezim Iran masih memiliki beragam opsi pembalasan, menurut para pakar.
Cara Teheran memanfaatkan instrumen tersebut sangat bergantung pada seberapa besar ancaman yang mereka rasakan.
“Rezim ini memiliki banyak kapabilitas jika mereka menilai ini sebagai perang eksistensial,” kata Farzin Nadimi, peneliti senior di Washington Institute yang fokus pada isu keamanan dan pertahanan Iran. Ia menambahkan, “Jika mereka menganggap ini sebagai perang terakhir, mereka bisa mengerahkan semua yang dimiliki.”
Rudal dan Drone
Iran diyakini memiliki ribuan rudal dan drone yang mampu menjangkau pasukan AS yang ditempatkan di berbagai negara Timur Tengah. Teheran juga berulang kali mengancam akan menyerang Israel.Pada Juni lalu, setelah Israel melancarkan serangan mendadak terhadap Iran, Teheran membalas dengan rentetan rudal balistik dan drone yang berhasil menimbulkan kerusakan dengan menembus sistem pertahanan udara canggih Israel.
Pejabat Iran mengklaim stok senjata yang digunakan dalam konflik tersebut telah digantikan, sementara pejabat AS menilai persenjataan itu bersama jet tempur tua buatan Rusia dan Amerika masih menjadi ancaman serius.
Drone bunuh diri Shahed buatan Iran, misalnya, telah terbukti mematikan dalam perang Rusia di Ukraina. Selain itu, Iran telah mengembangkan, menguji, atau mengoperasikan lebih dari 20 jenis rudal balistik, mulai dari jarak pendek hingga jarak jauh, yang mampu menjangkau target sejauh Eropa selatan.
“Kami memiliki 30.000 hingga 40.000 tentara Amerika yang ditempatkan di delapan atau sembilan fasilitas di kawasan tersebut,” kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dikutip dari CNN, Jumat, 30 Januari 2026.
“Semuanya berada dalam jangkauan ribuan UAV satu arah Iran dan rudal balistik jarak pendek Iran yang mengancam keberadaan pasukan kami,” tambah Rubio.
Dua pejabat AS mengatakan kepada CNN bahwa kapabilitas militer Iran, meskipun jauh lebih tua dan kalah jumlah dibandingkan sistem modern AS, membuat serangan penentu terhadap Iran menjadi jauh lebih rumit.
Iran juga telah memperingatkan bahwa jika diserang, mereka akan membalas dengan menargetkan sekutu-sekutu AS di kawasan. Ketika pembom AS menghantam fasilitas nuklir Iran pada musim panas lalu, Teheran meluncurkan serangan rudal yang belum pernah terjadi sebelumnya ke Qatar, menargetkan Pangkalan Udara Al Udeid, instalasi militer AS terbesar di Timur Tengah.
Menggerakkan Kelompok Proksi
Dalam dua tahun terakhir, Israel telah melemahkan jaringan proksi regional Iran, sehingga kemampuan Teheran memproyeksikan kekuatan lintas batas berkurang. Meski demikian, kelompok-kelompok tersebut menyatakan tetap siap membela Republik Islam.Kelompok bersenjata Irak seperti Kataeb Hezbollah dan Harakat al-Nujaba yang sebelumnya pernah menyerang pasukan AS serta Hizbullah Lebanon, menyatakan pekan ini akan membantu Iran jika diserang.
Pada Minggu, Abu Hussein al-Hamidawi, komandan Kataeb Hezbollah, menyerukan para loyalis Iran “di seluruh dunia untuk bersiap menghadapi perang total demi mendukung Republik Islam.”
Namun, para proksi Iran juga menghadapi keterbatasan. Di Lebanon, Hizbullah telah melemah setelah 13 bulan konflik dengan Israel dan kini menghadapi tekanan domestik untuk pelucutan senjata. Di Irak, milisi pro-Iran tetap kuat, tetapi dibatasi oleh pemerintah pusat yang berada di bawah tekanan AS untuk membendung pengaruh Teheran.
Kelompok Houthi di Yaman yang menjadi sasaran serangan Israel dan AS tetap menjadi salah satu sekutu paling destruktif Iran. Kelompok ini juga menyatakan siap membela Teheran. Akhir pekan lalu, Houthi merilis video kapal yang terbakar dengan keterangan singkat, “Segera.”
Dengan dukungan Iran, Houthi dalam beberapa tahun terakhir telah menyerang Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Israel, serta kapal-kapal Amerika Serikat di Laut Merah.
Guncangan Ekonomi Global
Iran berulang kali memperingatkan bahwa perang melawan mereka tidak akan terbatas di Timur Tengah, melainkan mengguncang perekonomian dunia. Meski kalah secara militer, Teheran memiliki pengaruh besar melalui kemampuannya mengganggu pasar energi dan perdagangan global di kawasan yang sangat strategis.Sebagai salah satu produsen energi terbesar dunia, Iran berada di Selat Hormuz — jalur sempit yang dilalui lebih dari seperlima pasokan minyak dunia dan sebagian besar perdagangan gas alam cair. Teheran mengancam akan menutup selat tersebut jika diserang, sebuah skenario yang diperingatkan para ahli dapat memicu lonjakan harga energi dan krisis ekonomi global.
Menargetkan perekonomian global melalui Selat Hormuz dinilai sebagai salah satu opsi paling efektif Iran, sekaligus paling berbahaya karena dampaknya yang luas.
“Penutupan berkepanjangan selat itu akan menjadi skenario berbahaya,” kata Umud Shokri, pakar energi yang berbasis di Washington DC dan peneliti senior tamu di George Mason University.
“Bahkan gangguan sebagian saja dapat memicu lonjakan harga tajam, mengacaukan rantai pasok, dan memperparah inflasi global. Dalam kondisi seperti itu, resesi dunia menjadi risiko nyata,” kata Shokri.
Langkah tersebut kemungkinan menjadi opsi terakhir bagi Iran, karena akan merusak perdagangan mereka sendiri serta negara-negara Arab tetangga — banyak di antaranya telah melobi Trump agar tidak menyerang Iran dan berjanji tidak memberikan akses wilayah untuk operasi militer AS.
Ancaman Perang Asimetris Iran
Iran mengklaim memiliki pangkalan angkatan laut bawah tanah di sepanjang pesisirnya, dengan puluhan kapal cepat siap dikerahkan di Teluk Persia. Militer Iran telah menghabiskan tiga dekade membangun armada kapal dan kapal selam domestik, dengan produksi ditingkatkan dalam beberapa tahun terakhir.Laksamana Madya (Purn) Robert Harward, mantan perwira Navy SEAL AS dan wakil komandan Komando Pusat AS, mengatakan kemampuan laut Iran dan jaringan proksinya merupakan tantangan serius bagi pelayaran di Selat Hormuz yang “dapat diatasi dengan cepat.” Namun, ia menilai taktik asimetris seperti ranjau laut dan drone tetap berpotensi mengganggu arus perdagangan dan pasokan minyak.
Kemampuan Iran mengguncang ekonomi global bukan hal baru. Pada akhir perang panjang dengan Irak di era 1980-an, Iran menebar ranjau laut di Teluk Persia, salah satunya hampir menenggelamkan USS Samuel B. Roberts pada 1988 dalam konflik yang dikenal sebagai “Perang Tanker.”
Pada 2019, sejumlah kapal tanker minyak diserang di Teluk Oman saat ketegangan meningkat setelah Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir dengan Iran. Iran secara luas diyakini berada di balik insiden tersebut.
Lebih baru, selama perang Israel–Hamas, Houthi mengganggu pelayaran komersial di Selat Bab al-Mandab di Laut Merah, jalur sekitar 10 persen perdagangan laut dunia. Dikombinasikan dengan ancaman di Selat Hormuz, Iran memiliki pengaruh besar untuk menimbulkan guncangan ekonomi global.
“Perang berikutnya mungkin tidak dimulai di pusat kota Teheran, tetapi di Selat Hormuz dan Teluk Persia,” pungkas Nadimi.