Ilustrasi impor minyak mentah. Foto: knnindia.co.in
KESDM Cari Skema Ideal Atur Rencana Impor 150 Juta Barel Minyak Rusia
Husen Miftahudin • 21 May 2026 12:10
Tangerang: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang menyiapkan aturan tambahan dan skema untuk mengimpor minyak mentah dari Rusia.
"Itu (impor minyak Rusia) nanti akan didukung juga dengan regulasi tambahan," kara Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman ketika ditemui di sela IPA Convex di Tangerang, Banten, dikutip dari keterangan tertulis, Kamis, 21 Mei 2026.
Berdasarkan penjelasan Laode, pemerintah perlu menyiapkan regulasi tambahan dan skema impor, sebab produk minyak dari Rusia membutuhkan perlakuan khusus.
Pertamina, selaku BUMN yang bergerak di bidang migas, berbisnis menggunakan obligasi global atau global bond. Oleh karena itu, Pertamina harus menghindari hal-hal yang dapat melanggar obligasi global.
Komitmen Pertamina terhadap obligasi global menyebabkan Kementerian ESDM harus mencari skema yang ideal dalam rangka mengimpor minyak dari Rusia.
"Pertamina dalam berbisnis menggunakan global bond. Itu harus menghindari hal-hal yang dapat melanggar global bond-nya dia. Makanya, skemanya sedang diproses, ya," ujar Laode.
| Baca juga: Bahlil: Pasokan Minyak Rusia Segera Masuk, Prioritaskan Ketersediaan BBM |

(Ilustrasi, Gedung Kementerian ESDM. Foto: dok Kementerian ESDM)
Pertimbangkan dua opsi impor minyak Rusia
Sebelumnya, Wakil Menteri ESDM Yuliot menyampaikan sedang menyiapkan regulasi atau payung hukum untuk mengatur soal rencana impor 150 juta barel minyak mentah dari Rusia.
Terdapat dua opsi yang sedang dipertimbangkan oleh pemerintah untuk mengimpor 150 juta barel minyak mentah dari Rusia. Opsi pertama adalah mengimpornya langsung dari badan usaha milik negara (BUMN), kemudian opsi kedua adalah mengimpor melalui badan layanan umum (BLU).
Apabila menggunakan opsi pertama, Yuliot mengatakan terdapat konsekuensi tersendiri jika BUMN yang melakukan impor dari Rusia. Oleh karena itu, opsi lainnya yang sedang dipertimbangkan adalah mengimpor melalui BLU. Ia berharap terdapat kemudahan, termasuk pembiayaan, apabila mengimpor melalui BLU.
Langkah tersebut menjadi bagian dari realisasi komitmen impor minyak sebesar 150 juta barel dari Rusia yang akan dilakukan secara bertahap hingga akhir 2026, yang merupakan hasil kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia.